Tjipta Fudjiarta ketika diperiksa Bareskrim Polri (Foto : Rayapos.com)

@Rayapos | Jakarta – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akhirnya menahan Tjipta Fudjiarta tersangka kasus dugaan penipuan saham BCC Hotel dan Residence, Batam. Pengusaha asal Medan, Sumatera Utara ini ditahan di Rutan Bareskrim yang sementara memakai ruang tahanan Polda Metro Jaya terhitung mulai Kamis (4/1/2018).

Informasi penahanan terhadap Tjipta Fudjiarta diperoleh Rayapos dari salah seorang penyidik yang tidak mau disebutkan namanya.

“Ya. Sudah tahap dua,” katanya dia ketika dikonfirmasi, Kamis(4/1/2018) malam.

Dalam istilah hukum, tahap dua dalam hal ini berkas perkara penyidikan sudah dinyatakan lengkap (P21), selanjutnya penyidik menyerahkan tanggungjawab tersangka dan barang bukti.

Wakil Kabareskrim Irjen Pol Antam Novambar pernah mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan melimpahkan berkas tersebut ke Kejaksaan. Rencana itu diucapkannya pada Senin (6/11/2017) lalu.

Namun karena ada hambatan sehingga pelimpahan kasus tersebut ditunda.

“Tidak hari ini, masih proses,” kata Antam kepada awak media di Gedung Bareskrim, Jakarta Pusat.

Kasus sengketa kepemilikan hotel berbintang yang terletak di Jalan Bunga Mawar, Batu Selicin, Lubuk Baja, Batu Selicin, Lubuk Baja Batam tersebut telah lama bergulir.

Kubu Conti Chandra dan Tjipta Fudjiarta saling gugat perdata di Pengadilan Negeri Batam. Selain perdata, keduanya juga saling melapor ke pihak polisi.
Terakhir, Tjipta disangkakan telah melakukan tindak pidana penipuan dan atau memberikan keterangan palsu pada akta autentik dan atau penggelapan, sebagaiamana dimaksud dalam pasal 378 KUHP dan atau pasal 266 KUHP dan atau pasal 372 KUHP.

Kabar ditahannya Tjipta setidaknya telah membuat hati Conti Chandra merasa lega. Hal yang sama juga dirasalan oleh Aaron Constantin.

Pengacara mereka, Alfonso Napitupulu mengatakan, kliennya begitu senang ketika mendengar kabar soal penahanan Tjipta Fudjiarta.

“Mereka senang dan mengucapkan syukur,” kata dia ketika diminta komentarnya.

Sudah lebih dari 3 tahun perkara ini terkatung-katung di pihak penyidik. Karena konon kabarnya Tjipta sosok yang licin dan memiliki pengaruh cukup luas di kalangan pejabat, serta aparat penegak hukum di negeri ini. Hal itulah yang diduga kuat sebagai penyebab Tjipta tak bisa tersentuh oleh hukum. Padahal berdasarkan delik pasal yang dituduhkan, tersangka terancam hukuman lebih dari 5 tahun penjara.

Munculnya aroma terjadinya praktik mafia hukum pun terhendus pada perkara ini. Aroma busuk itu bukan saja ditimbulkan oleh permainan “kotor” para oknum aparat penegak hukum, tetapi juga dilakukan oleh oknum pejabat di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Sebelumnya, Tjipta Fudjiarta pernah melakukan perlawanan agar dirinya terbebas dari jerat hukum. Pada tahun 2016 silam, dia pernah mengajukan permohonan praperadilan terhadap Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti dan Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar atas kasus hukum yang tengag melilitnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun hakim tunggal Pudji Tri Rahard menolak gugatan tersebut.

Conti Chandra melalui kuasa hukumnya, Alfonso Napitupulu sebelumnya pernah me-praperadilkan Bareskrim dan Polri atas dikeluarkan surat penghentian penyidikan (SP3) terkait kasus penggelapan BCC, atas laporan Polisi Nomor LP/587/VI/2014/Bareskrim tanggal 9 Juni 2014. SP3 itu, ditandatangani oleh Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus, Brgjen (Pol) Drs Victor Edison Simanjuntak, tertanggal 1 Juli 2015.

Praperadilan yang diajukan Conti Chandra selaku pemohon diterima oleh Hakim Tunggal PN Jakarta Selatan saat itu dan memerintahkan Polri untuk melanjutkan penyidikan terhadap tersangka Tjipta Fudjiarta.