Kasus Ijazah Palsu, UNIMA Permalukan Dunia Pendidikan Sulawesi Utara

@Rayapos | Manado: Merebaknya kasus ijasah palsu yang menyeret Universitas Negeri Manado (UNIMA) sebagai salah satu universitas negeri terkemuka di Provinsi Sulawesi Utara, benar-benar telah mencoreng tempat pendidikan yang selama ini selalu berupaya untuk tampil bersih baik secara administrasi maupun kegiatan perkuliahannya.

Bagaimana tidak, skandal kuliah jarak jauh  yang menodai institusi UNIMA,  dengan terkuaknya sejumlah pernyataan dan pengakuan korban dari praktik kuliah jarak jauh tersebut seperti kelas Nabire, kelas Sangihe, kelas Kotamobagu dan kelas Remboken.

Awalnya kuliah jarak jauh tersebut berjalan lancar tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Akan tetapi belakangan mereka mulai mempertanyakan keabsahan status kemahasiswaan mereka.

Menurut salah satu mahasiswa kuliah jarak jauh yang tidak mau disebutkan namanya, dirinya sempat terkejut setelah mengecek ke bagian akademik, tapi ternyata namanya tidak tercatat sebagai mahasiswa, padahal dirinya sudah membayar uang puluhan juta.

Saat dicoba untuk mengorek keterangan lebih jauh mengenai oknum yang menerima uang yang disetor, sumber rayapos.com ini, hanya melambaikan tangannya sambil melirik kiri-kanan melihat situasi.

Ditambahkan pula oleh sumber tersebut, selain dirinya ada sekitar 51 mahasiswa kuliah jarak jauh kelas Nabire, dan salah satunya adalah Bupati Nabire,  Isai Asdauw dan bahkan tak tanggung-tanggung ada juga pejabat Kajari Purbolingga, Tongging Banjar Nahor,  yang telah memiliki ijazah Administrasi Negara.

Hal ini juga mulai menjadi perbincangan santer di kalangan alumni UNIMA yang resah dengan nasib almamater mereka. Bahkan, para aktivis juga mulai mengangkat statement mengkritisi UNIMA agar tidak terpuruk dengan skandal serupa dan hanya menguntungkan segelintir oknum sambil merusak citra sebuah universitas ternama ini.

“Jelas saja ini bukan karna UNIMA-nya, tapi ada petinggi dan jaringannya di UNIMA yang diduga telah membentuk tim mafia Ijasah. Ini adalah kejahatan akademik,” tutur Meidy Tendean anggota Ormas Brigade Manguni Indonesia.

Ditambahkanya lagi, dugaan kasus ini harus segera di tangani lembaga hukum seperti Polda dan Kejati Sulut bahkan Mabes Polri maupun Kejagung, mengingat skandal seperti ini merupakan tindakan penipuan tingkat tinggi yang sangat merugikan masyarakat terutama para sarjana murni.

“Ini sudah penipuan yang merugikan nasib para sarjana regular yang peluang mencari pekerjaannya kian sempit karena adanya kuliah jarak jauh yang menelurkan sarjana-sarjana siluman dalam waktu relative singkat,” tegas Meidy.

Dengan menguritnya berbagai unsur dugaan ijasah bodong di UNIMA, kembali mengundang respon masyarakat umum untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini.

Sementara itu, salah satu staf pengajar yang meminta namanya untuk dirahasiakan  mengatakan, sampai saat ini, informasi terakhir yang beredar adalah, UNIMA akan dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) yang ditunjuk oleh Menristek DIKTI untuk menggantikan Rektor UNIMA Prof Philoteus Tuerah yang telah diberhentikan terkait kasus ijazah palsu tersebut. [Edwin Huwae]

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY