Kebangkitan koperasi pengusaha mikro

Ilustrasi UMKM (Foto: Istimewa)

“Selama beberapa tahun terakhir ini Yayasan Damandiri memfasilitasi anggota Posdaya di desa-desa dengan upaya menabung dan kepadanya diberi kesempatan untuk mengambil kredit mikro “Tabur Puja”, suatu kepanjangan upaya Tabungan dan Pinjaman untuk usaha keluarga sejahtera.”

Tabur Puja merupakan upaya kelanjutan suksesnya Gerakan Keluarga Sejahtera yang dicanangkan pada masa Orde Baru dengan nama Takesra Kukesra sebagai awal upaya pengentasan kemiskinan, dengan mengajak keluarga yang telah mengubah budaya keluarga beranak banyak, menjadi budaya beranak sedikit, segera mentas dan menjadi keluarga bahagia dan sejahtera. Pada masa lalu Gerakan Keluarga Sejahtera telah mampu membantu sekitar 13,6 juta keluarga prasejahtera dengan tabungan awal masing-masing Rp. 2.000,-, setara dengan US $ 1.00.

Tabungan untuk 13,6 juta keluarga prasejahtera itu dikelola Bank BNI, yang perlu waktu hampir satu tahun, sampai seluruh keluarga memiliki buku tabungan keluarga atas nama pribadi. Suatu proses menjemput bola yang pertama kali dilakukan oleh Bank BNI. Semula akan diserahkan kepada Bank BRI yang memiliki jaringan luas, tetapi karena alasan tehnis, akhirnya ditugaskan kepada Bank BNI.

Tatkala keluarga prasejahtera sudah memiliki tabungan, keluarga itu bisa meminjam dana kepada Bank BNI sebanyak sepuluh kali tabungannya. Sehingga setiap keluarga yang memiliki tabungan awal Rp. 2.000,- bisa pinjam uang sebanyak Rp. 20.000. Pada waktu itu dana sebesar itu bisa untuk mulai dagang ayam, buka warung makanan, atau dagang sesuatu yang nilainya tidak terlalu tinggi.

Ada beberapa keluarga bergabung mengembangkan usaha yang sama dengan modal patungan, agar modal untuk usaha itu jumlahnya besar. Setiap kali meminjam, keluarga yang bersangkutan menabung sebanyak 10 persen dari pinjamannya. Karena itu, tabungan yang semula hanya Rp. 2.000,- berubah menjadi Rp. 4.000,-. Kalau pinjaman pertama lunas, maka keluarga yang bersangkutan bisa meminjam kembali dengan jumlah yang lebih besar, Rp. 40.000,-.

Pinjaman sebesar itu memungkinkan keluarga yang bersangkutan memperluas usahanya. Secara otomatis tabungannya bertambah menjadi Rp. 8.000,-, sehingga pinjaman berikutnya akan berjumlah menjadi sebesar Rp. 80.000,-. Begitu seterusnya sampai yang bersangkutan bisa meminjam uang maksimal Rp. 320.000,-. Dengan pinjaman sebesar itu, maka keluarga yang bersangkutan bisa menjadi pedagang mikro yang cukup lumayan di desanya,  disamping memiliki tabungan yang bisa menjadi jaminan di masa depan.

Dua tiga keluarga yang berdagang bersama akan memiliki modal lebih dari Rp. 600.000,- sampai hampir satu juta rupiah, suatu jumlah bagi keluarga di desa pada masa itu yang bisa dipergunakan untuk berdagang atau untuk membuat industri kecil di lingkungan masyarakat di desanya.. Program yang begitu bagus dengan Non Performing Loan (NPL) yang hampir nol persen terpaksa dihentikan karena lembaga yang mendukung gerakan ini tidak merasa nyaman melanjutkan program yang sesungguhnya tidak memerlukan dana dari pemerintah karena seluruhnya dibiayai oleh Bank penyalur tabungan dan kredit yaitu Bank BNI.

Petugas pemerintah, yaitu Petugas Lapangan KB, hanya mengawasi dan memberikan dukungan pelatihan ketrampilan yang merupakan kewajiban mereka sehari-hari,  setelah keluarga yang bersangkutan menerima KB dan menjadi peserta. Karena pemerintah tidak melanjutkan program tersebut, maka Yayasan Damandiri, sebagai lembaga yang memiliki dana pemberdayaan untuk keluarga prasejahtera melanjutkan program dan mengubahnya menjadi pendukung bagi anak keluarga prasejahtera,  yang akan melanjutkan kuliah pada pendidikan tinggi.

Anak-anak keluarga prasesjahtera memperoleh kesempatan menyiapkan diri mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi yang dibantu dengan memberi tambahan pelajaran mata kuliah yang diujikan. Kegiatan ini memperkenalkan Yayasan Damandiri kepada banyak Rektor dan kegiatan perguruan tinggi lainnya, seperti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke desa-desa. Yayasan melihat peluang yang besar karena mahasiswa KKN tinggal bersama masyarakat selama lebih dari satu bulan. Dengan restu Pak Harto, dikembangkan program pemberdayaan keluarga, utamanya keluarga prasejahtera melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa.

Posdaya ini dijadikan forum silaturahmi bagi keluarga yang secara gotong-royong bekerja bersama dengan pekerja sosial, ekonomi saling membantu keluarga lain, utamanya keluarga prasejahtera, dalam pemberdayaan keluarga di desa. Kegiatan pembentukan Posdaya mulainya marak melalui KKN Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, kemudian menjalar ke Perguruan Tinggi lainnya di Yogyakarta, kemudian di Semarang, Bandung, Surabaya, Malang, Palembang, Jambi, dan Perguruan di kota-kota lainnya. Pak Harto sangat berkenan dengan pendekatan baru ini. Beliau memberi dukungan sangat kuat kepada upaya perluasan kepada banyak perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi swasta lain yang ikut bergabung.

Kemudian sangat mengharukan mulai bergabungnya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memulai pengembangan Posdaya berbasis Masjid yang dapat dikembangkan oleh berbagai Perguruan Tinggi Islam. Pengembangan Posdaya berbasis Masjid ini kemudian sangat marak karena peran dari UIN Maulana Malik Ibrahim yang menyediakan instruktur khusus dari kalangan perguruan tinggi tersebut yang secara aktif mengadakan Safari ke berbagai perguruan tinggi Islam seperti UIN, IAIN dan STAIN di seluruh Indonesia, termasuk ke provinsi Papua dan Aceh yang Yayasan Damandiri belum pernah berkunjung. Salah satu dari dampak positif kegiatan ini adalah kehormatan yang diberikan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memberi nama salah satu Gedung bangunan di Kampusnya dengan nama Gedung Jenderal Besar HM Soeharto.

Peresmian nama pada salah satu Gedung megah itu disaksikan oleh Mbak Titiek Soeharto langsung di kampus. Setelah penyegaran budaya gotong-royong makin marak, Yayasan Damandiri mulai mengajak keluarga desa anggota Posdaya mengembangkan usaha ekonomi produktif dengan memberi anggotanya pinjaman dana melalui Skim Tabur Puja. Usaha kecil-kecilan yang dimulai di Jakarta dan sekitarnya itu sekarang berkembang baik sehingga bisa diperluas ke daerah-daerah lainnya. Dalam perkembangannya, skim Tabur Puja yang semula dikelola oleh suatu Koperasi di tingkat pusat, pada waktu ini dikembangkan dan dikelola oleh Posdaya. Perkembangan tersebut sangat menarik, karena penerima Tabur Puja mengembangkan koperasi dengan mengajak anggota Posdaya yang siap dengan pola gotong-royong bergabung secara aktif dalam koperasi. Suatu pengembangan koperasi yang dimulai dari sikap dan tingkah laku gotong-royong yang tumbuh subur.

Suatu pengembangan koperasi masyarakat desa di akar rumput yang kokoh karena didasari penerimaan budaya gotong royong dalam berbagai bidang yang berdasar dan luas pada kehidupan mereka sehari-hari.

Prof. Dr. Haryono Suyono
Prof. Dr. Haryono Suyono

Penulis : Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin

Comments

comments