@Rayapos | Jakarta – Pilkada serentak pada 27 Juni 2018 akan dilaksanakan di 171 daerah. Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siraj, mengingatkan masyarakat, jangan sampai terpengaruh isu yang bisa menggoyahkan persatuan.

Itu dikatakan Said Aqil dalam pembacaan muhasabah 2017, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2017).

Dia memberi contoh Pilkada DKI tahun lalu. Dia sebut itu sebagai noktah hitam, mengganggu persatuan Indonesia.

“Pergerakan Pilkada DKI 2017, masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik, dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi, dan menggerogoti pilar-pilar NKRI,” ujar Said.

Baca juga: Polda Metro Jelaskan Kapan Keluarkan Hasil Tes Rambut jennifer Dunn

PBNU menganggap Pilkada DKI Jakarta 2017, sarat isu SARA. Namun, dalam kesempatan tersebut, Said Aqil Siraj tidak menyebutkan siapa pihak yang menggunakan isu tersebut dan siapa yang menghalalkan segala cara yang membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terganggu.

Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017, sempat diwarnai aksi massa, mengecam pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat itu berstatus sebagai petahana.

Setelah berkali-kali digelar aksi dengan jumlah massa yang tidak sedikit, Polisi akhirnya membuka kasus untuk Ahok terkait pernyataannya tentang surat Al Maidah ayat 51.

Dalam perhelatan tersebut pasangan Ahok – Djarot Saiful Hidayat kandas, dan pemilihan dimenangkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Setelah pemenang ditetapkan, Ahok dijatuhi vonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara, atas kasus penistaan agama.

Dalam sesi tanya jawab, saat ditanya terkait penistaan agama Islam, Said Aqil Siraj menegaskan bahwa yang salah harus dihukum, sesuai hukum yang berlaku.

Baca juga: Fitra Resmi Lepas Masa Lajangnya

Ia juga menegaskan bahwa Ahok sudah menjalani hukumannya.

Siapa pun yang terbukti melakukan penistaan agama, terhadap agama apapun menurutnya harus dihukum.

“Sesuai dengan hukum, Ahok sudah dihukum, sudah, sudah itu, siapa lagi yang menghina agama, Alquran, harus dihukum, tidak pandang bulu, harus kita dukung,” ujarnya.

“Dikira saya bela Ahok kali ya. Yang tidak saya dukung itu Jumatan di Monas, niatnya bukan salat. Kamis sore dateng, tidurnya di Istiqlal, salatnya di monas, jadi masjid jadi tempat molor (red: tidur),” tegasnya. (*)

Comments

comments