Anak Jalanan (Foto: Istimewa)

@Rayapos.com | Jakarta : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyoroti keberadaan anak-anak jalanan yang rentan terhadap tindak kekerasan, kekerasan seksual, dan pornografi anak. Anak jalanan merupakan kelompok sosial yang memerlukan perlindungan khusus karena mereka tinggal di lingkungan yang berpotensi terjadinya kekerasan dan penelantaran.

Sekretaris Kementerian PPPA Pribudiarta Nur Sitepu menyebutkan, berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), jumlah kasus kekerasan seksual mencapai 15% dari 2.636 kasus pada 2012. Angka ini meningkat menjadi 3,039 kasus pada 2014. Provinsi Jakarta merupakan kota dengan angka tertinggi untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak jalanan.

“Tingginya angka anak jalanan terjadi akibat putus sekolah. Ini akan berakibat fatal untuk perkembangan negara ini karena anak merupakan generasi penerus bangsa, dengan membentuk generasi kuat maka secara otomatis akan memperkuat Indonesia,” kata Pribudiarta di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Dia menambahkan, Kementerian PPPA bersama kementerian/lembaga lainnya telah berupaya menekan angka anak putus sekolah dengan membangun sekaligus mengimplementasikan Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak tahun 2016-2020. Program itu bisa terwujud jika sistem perlindungan anak berjalan dengan baik, dengan hasil akhir terwujudnya kota layak anak, dan desa layak anak untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030.

Selain itu, peran keluarga dan masyarakat sekitar melalui program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) harus ditingkatkan. Hal itu bisa tercapai dengan peningkatan peran masyarakat ditingkat masyarakat kecil seperti RT, RW, Kelurahan dan desa.

Pribudiata mengingatkan bahwa seluruh anak harus mendapatkan haknya dengan baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta mendapat pengasuhan yang baik agar telindungi dari segala bentuk kekerasan. Selain itu hak dasar anak juga harus terpenuhi diantaranya mempunyai akta kelahiran sebagai syarat dalam mendapatkan pendidikan dengan bersekolah.

Melalui kegiatan ini diharapkan anak-anak dapat mengenal, mengerti sekaligus memahami segala bentuk kekerasan yang mengancam disekitarnya baik kekerasan seksual, fisik, psikis, bahaya pornografi sekaligus meningkatkan semangat anak dalam menggapai cita-cita dengan bersekolah.

“Anak-anak, kalian harus mampu membentengi diri dengan pengetahuan, jangan mudah percaya dengan orang asing, kalian harus berani melaporkan segala bentuk kekerasan yang dialami kepada orang tua, guru, dan orang terdekat disekitar. Untuk itu mari bersama kita bangun komitmen melalui peran komunitas, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat sekitar,” tutup Pribudiarta.