Foto: Rayapos/ARFA

@Rayapos | Jakarta – Terkait adanya teror bom yang terjadi di Surabaya, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus mengajak pemuda Indonesia untuk bangkit melawan aksi radikalisme.

Melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemuda, Asrorun Niam yang juga sebagai nara sumber dalam Diskusi Forum Kepemudaan ke-2 menyampaikan bahwa akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang terusik keyamanannya dengan aksi terorisme.

Pasalnya, rasa aman menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, para pelaku terorisme saat ini banyak yang masih berusia muda.

“Karakter pemuda adalah peletak tonggak perubahan. Spirit dan semangat mengoreksi itulah jika tidak pada arah dan pemahaman yang tepat menjadi sumber permasalahan,” kata Niam, di Media Center Kemenpora, Selasa (22/5/2018) siang.

Jadi, sambung Niam, momentum Kebangkitan Nasional ini harus dimaknai sebagai semangat perjuangan untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan sebagaimana diwariskan Boedi Oetomo 1908 dan Sumpah Pemuda 1928.

Selain itu, lanjut dia, kemajuan teknologi harus mampu dipakai untuk merajut kebhinekaan menjadi kesamaan pandang tentang Indonesia yang sama-sama kita cintai.

“Era digital, internet, dan media sosial perlu disadari bahwa jika tidak dimanfaatkan dengan baik justru menjadi sumer-sumber informasi yang digemari anak muda yang didalamnya ada hal-hal radikalisme dan terorisme,” ujanrya.

Baca Juga:

NOC Arab Saudi dan Jepang Nyatakan Indonesia Siap Gelar Asian Games

Tim Uber Indonesia Berhasil Bungkam Perancis

“Yang pasti perlu ada restorasi atau pemulihan jalan berfikir, tidak cukup dengan pendekatan politik, penghukuman, dan pembatasan, tetapi harus ada penyadaran,” tegasnya.

Sementara dua nara sumber yang berasal dari kalangan mahasiswa sepakat bahwa potensi radikalisme dikalangan anak muda khususnya mahasiswa itu ada akibat globalisasi yang melanda seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Untuk mengarahkan anak muda tidak harus dengan pelarangan-pelarangan karena dengan demikian terkadang justru memompa daya dobrak semangat berontaknya. Perlu ruang-ruang publik untuk diskusi dan kebebasan berekspresi namun tetap dalam kendali nasionalisme.

“Perlu ruang-ruang publik untuk diskusi dan berekspresi anak muda. Di kampus-kampus harus digencarkan pendidikan nasionalisme, dan yang penting lagi meningkatkan pemahaman keagamaan yang benar,” tegas Ketum IMM Ali Muthohirin.

BAGIKAN