Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan yang kena OTT KPK, tiba di Gedung KPK pada Jumat (27/7/2018) pukul 13.38.

@Rayapos | Jakarta – KPK membawa Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan ke Jakarta, Jumat (27/7/2018). Tiba di Gedung KPK pukul 13.38. Saat digiring masuk, Zainudin tersenyum.

Seperti diberitakan, KPK melakukan OTT sejumlah pejabat Lampung Selatan dan anggota DPRD Lampung, Kamis (27/7/2018) malam. Selain Zaunudin, ada Ketua Fraksi PAN DPRD Lampung Agus Bhakti Nugroho. Dua kepala dinas TA dan AA. Serta GR, caleg DPRD Lampung dari PAN.

Yang mengherankan, mengapa Zaunudin tersenyum? Bukankah seharusnya dia malu?

Tentang koruptor tersenyum di depan publik, banyak terjadi di Indonesia. Tapi tidak ada di negara lain. Tentang ini, Guru Besar Psikologi Politik, Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, pernah membahasnya.

Baca Juga:

Banyak Janda di Tasikmalaya, Ternyata Ini Penyebabnya

Selain Zainudin Hasan, Adik Ketua MPR Lainnya Juga Tersangka Kasus Penipuan

Bau Busuk Kali Jakarta, Akhirnya Ditangani Kementerian

Dijelaskan Hamdi, fenomena tersangka korupsi yang sering melempar senyum memang hanya terjadi di Indonesia. Tidak ada di negara lain.

Bahkan, langkah KPK mewajibkan tersangka korupsi mengenakan baju tahanan khusus pun, tak membuat malu koruptor. Padahal semestinya, itu membuat seseorang merasa terhina dan takut.

“Fenomena lucu juga ini. Kenapa hanya di Indonesia, koruptor yang cengar – cengir? Maksud saya, negara kita ini memang gagal mempermalukan koruptor. Belum ada budaya ini,\\\” kata Hamdi kepada wartawan.

Banyak tersangka korupsi melambaikan tangan, senyum, ketika disorot kamera televisi. Seolah tidak ada rasa malu, terbebani atau bersalah. Bahkan, seolah tidak takut pada hukum. “Coba bandingkan dengan maling ayam. Pasti menunduk malu,” ujarnya.

Menurut Hamdi, itu karena hukuman terhadap koruptor terlalu ringan. Tidak sebanding dengan perbuatannya.

Sangat berbeda, misalnya, dibandingkan di Jepang atau China. Di negara-negara itu koruptor dihukum sangat keras. Maka, tidak ada koruptor China atau Jepang yang tersenyum-senyum seperti koruptor Indonesia.

“Di Indonesia, pikir koruptor, paling nanti dihukum dua, tiga tahun. Bisa beli sel mewah di penjara. Setelah bebas, masih kaya,” tuturnya.

Hukuman ringan, menurutnya, membuat koruptor tersenyum, melambaikan tangan. “Coba kalau misalkan hukuman mati, mereka pasti stres, nunduk terus wajahnya,\\\” kata Hamdi. (*)

BAGIKAN