Ketika Agama Dijadikan Tumbal Untuk Menghancurkan Negeri, Kita Harus Melawan!

rayapos.com - Negeri Nusantara
Foto: www.teraswarta.com

Lagi-lagi ormas intoleran membuat kegaduhan. Entah apa maunya mereka. Jangan-jangan preman-preman berjubah itu sebetulnya bukan orang Indonesia melainkan “onta import” yang memang ingin merusak Bhinneka Tunggal Ika.

Orang Indonesia tidak berperilaku seperti mereka!

Sejatinya, Islam di negeri ini tidak seganas dan sebrutal seperti yang tersaji belakangan ini. Belum juga habis bau amis menyengat yang ditimbulkan oleh gerombolan PAS yang menggeruduk KKR Natal di Bandung, Rabu 7 Desember 2016.

Kini muncul lagi ancaman dari Forum Umat Islam (FUI) –katanya sih begitu- di Jogjakarta yang mengancam Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).

Ceritanya begini:

Dalam rangka penerimaan mahasiswa baru, seperti biasa semua lembaga pendidikan melancarkan upaya promosi. Hal serupa juga dilakukan oleh UKDW. Dipasanglah baliho.

Persoalannya menurut FUI adalah, di dalam baliho itu ada seorang model perempuan yang mengenakkan jilbab. Katanya umat menjadi marah, koq bisa sebuah universitas Kristen memasang iklan dengan model perempuan berkerudung?

Ah, mulailah gerombolan berdaster ini menggoreng isu iklan UKDW. Ancaman pun melayang, jika tidak diturunkan, maka masa akan menggeruduk dan menurunkan paksa semua baliho, poster atau apapun media promosi yang menampilkan perempuan berjilbab.

Singkatnya, tidak boleh universitas dengan embel-embel kristen memakai model iklan berjilbab.

Sampai di sini, rasanya ini merupakan sebuah ketololan tanpa batas. Berapa banyak mahasiswa dan mahasiswi di berbagai lembaga pendidikan kristen yang beragama Islam?

Sebaliknya, berapa banyak umat non muslim yang kini belajar di lembaga pendidikan muslim?

Bagaimana dengan institusi pendidikan Budha, Hindu yang di dalamnya banyak dihuni oleh mahasiswa agama-agama lain?

Bahkan seorang Rizieq Shihab pun adalah alumni sekolah Kristen Bethel Petamburan Jakarta.

Lantas bagaimana fakta tentang rumah sakit di Indonesia banyak yang menggunakan embel-embel agama. Rumah Sakit Islam, serta Rumah Sakit Kristen sangat banyak di negeri ini.

Tengoklah ke dalam. Dokter, perawat, staff, pengemudi ambulans, satpam, sampai pada pasien banyak yang berlatar belakang agama yang berbeda. Hal ini lumrah.

Kalau urusan iklan UKDW yang saya yakin tidak dilakukan dengan tujuan menista agama Islam saja dipermasalahkan, kewarasan para anggota gerombolan FUI ada dimana?

Saya kuatir bahwa umat Islam di Indonesia memang secara sistematis sedang dibenturkan oleh kelompok-kelompok muslim garis keras, yang memang tidak menginginkan kerukunan di bumi nusantara.

Tentu saja belum menyerempet ke agenda-agenda lain, seperti politik yang bermuara pada kekuasaan. Terbukti dengan suksesnya Polri menelanjangi aktor-aktor politik yang menjadi penumpang gelap dalam acara Doa Bersama 212 lalu.

Mungkinkah Islam nusantara yang damai, sudah disusupi oleh para begundal republik yang mengatas namakan Islam, untuk merusak keislaman Indonesia dari dalam? Jika para sengkuni-sengkuni agama ini sudah menggerayangi karakter damai umat muslim, maka negeri ini memang benar-benar terancam.

Jika kemudian agama dibenturkan satu dengan yang lain, niscaya keruntuhan republik menjadi taruhannya.

Hati-hati dan waspada. Kata-kata ini harus benar-benar dimaknai dan dilakukan oleh setiap anak negeri. Bukan hanya umat muslim. Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan rakyat semesta nusantara, wajib untuk menjaga kesatuan NKRI.

Saya juga kuatir ini bukan lagi tentang agama, tetapi memakai agama untuk menggoyang persatuan dan kesatuan NKRI.

Menurut info yang sangat bisa dipercaya, ada sekitar 20an orang dengan bersenjata lengkap kini sedang stand by di wilayah Filipina, menunggu waktu untuk menyusup ke Indonesia. Repotnya, hanya ada 3 orang Warga Negara Indonesia, sisanya adalah teroris-terosis asing yang berbaiat ke gerombolan ISIS yang akan ikut.

Buat apa menyusup ke Indonesia dengan persenjataan lengkap?

Mereka tidak akan repot-repot menyusup untuk sebuah tujuan damai.

Sekali lagi, hati-hati. Pergerakan sistematis sepertinya sedang dirancang untuk menghancurkan NKRI dengan mengorbankan nilai-nilai luhur dan kesakralan sebuah agama.

Kilas balik. Tahun 2014 FUUI mengharamkan untuk memilih Joko Widodo sebagai Presiden. Gagal.

Mereka mencoba lagi dengan fatwa untuk tidak memilih gubernur non muslim yang berhembus di Pilkada DKI Jakarta –jauh sebelum Ahok “terpeleset” ketika mengutip Al Maidah ayat 51-. Kasusnya bergulir, namun masih banyak yang merecoki, berusaha intervensi dan mendahului proses hukum yang tengah berjalan.

Ketika kebohongan propaganda murahan tentang Roti bermerk Sari Roti terbongkar, alumni 212 mengeluarkan seruan untuk memboikot Sari Roti. Sangat bodoh, seakan-akan membelah umat Islam menjadi Islam nusantara dan “Islam 212”.

Lalu ada pembubaran KKR Natal, menyusul ancaman kepada UKDW hanya gara-gara iklan.

“Ormas-ormas yang mengatasnamakan Islam sedang merusak nama baik Islam itu sendiri. Perilaku mereka jauh dari nilai-nilai keislaman nusantara. Kelompok ini bertindak layaknya preman jalanan. Mirisnya adalah, mereka berhasil menarik simpati. Betapa tindakan-tindakan mereka sangat rapih, terstruktur, sistematis dan juga masif. Kaum-kaum kafir garis keras yang ingin memerangi ummat Islam dan merusak agamanya, sudah berhasil menyusup pada ormas-ormas Islam dan partai politik. Mari kita ingat-ingat aksi dan sikap ormas Islam yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, di luar soal terorisme dan bom bunuh diri.”

Demikian dikatakan Bung Alifurrahman dalam tulisannya di sebuah portal online.

Saya kuatir, Agama hanya dijadikan sebagai collateral damage, karena yang diincar adalah bagaimana membuat Indonesia porak poranda.

Benang merah semua peristiwa belakangan ini akibat ulah ormas-ormas intoleran dan penyusupan 23 anggota ISIS yang kini mengintai Indonesia dari Filipina, memang masih harus ditelisik. Namun saya yakin, kalau memang ini hanya kebetulan terjadi di waktu bersamaan, pasti mereka-mereka ini akan mencari jalan untuk berkolaborasi. Mereka tinggal menunggu sumbu pendek yang mulai mengeluarkan percikan api itu akhirnya menyala.

Tidak ada pilihan, kita harus melawan tipuan-tipuan kafir yang ingin menghancurkan NKRI dan untuk yang satu ini, sebagi anak bangsa, saya yakin kita tidak perlu lagi memandang kamu agama apa, saya agama apa. Yang ada hanyalah, kamu dan aku sama-sama cinta Indonesia.

Comments

comments

LEAVE A REPLY