John Kei. Foto: Dok LP

@Rayapos | Jakarta – John Refra Kei, terpidana kasus pembunuhan Bos Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono kini menceritakan alasan dirinya mulai berubah.

John dulu dikenal kejam dan tak kenal ampun. Kini berubah menjadi sosok yang lebih baik setelah lima tahun di penjara Nusakambangan, Cilacap.

John kini mengubah tujuan hidupnya. Menjadi pribadi yang berbeda saat keluar dari penjara.

Baru-baru ini, John menceritakan kisah masa lalu dan masa kini yang sudah mengalami banyak perubahan sejak mendekam di penjara.

Itu di acara Kick Andy yang diunggah melalui saluran YouTube Kick Andy Show pada Jumat (12/4/2019).

John menceritakan bagaimana dirinya bisa berubah dari pembunuh bengis menjadi sosok yang membawa perubahan satu penjara.

Dia mengakui sejak remaja dirinya sudah mulai membunuh orang.

Bahkan sang Godfather of Jakarta ini menegaskan tidak ada penyesalan setelah menghilangkan nyawa orang lain.

Malah, saat itu justru merasa lebih hebat jika sudah berhasil membunuh orang.

Namun, John tidak melukai orang lain, jika orang tersebut tidak melukai dirinya.

Saat Andy menanyakan alasan John berubah, John menceritakannya.

Bermula saat John ditempatkan di penjara khusus. Dalam satu kamar dengan kamera yang mengintai sepanjang waktu.

Selain semua aktivitasnya terpantau, ia juga dilarang berinteraksi dengan napi lainnya.

Ia juga dibatasi untuk keluar dari sel selama satu jam saja per hari. Kunjungan keluarga pun dibatasi di lapas Nusakambangan.

Itu harus dialami John selama tiga bulan.

Awalnya dia memberontak. Tapi, “Aku dengar bisikan, kamu ngapain teriak-teriak. Sampai tuli tidak ada gunanya. Bener saya denger sendiri,” ceritanya pada Andy.

John merenung dan ingin mati masuk surga. Hal ini membuat dirinya semakin rajin membaca Al Kitab.

“Orang mau ngomong apa itu urusan mereka. Tapi saya punya keyakinan dan saya yakin sampai mati saya melayani Tuhan,” tegas John.

John sudah mempersiapkan, jika keluar kelak tidak akan tergoda berbuat jahat.

“Kitab Injil Matius ayat 33 itu meyakinkan saya. Kalau saya melayani Tuhan, Tuhan nggak mungkin lupa saya, Tuhan akan memberikan lebih dari yang aku butuhkan. Waktu yang akan membuktikan,” jelas John.

Berikut fakta-fakta kehidupan John dari berbagai sumber.

Berasal dari Maluku

John Refra Kei lahir di Maluku, 10 September 1969. Saat usia 20-an, dia merantau ke Surabaya.

Selama di Surabaya, John menggelandang dan ditolong untuk membantu Hamba Allah di sebuah gereja.

Hingga dirinya memutuskan untuk pindah menuju ibu kota, tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat.

Sejak saat itu, John Kei justru dipertuankan dan dipercaya oleh banyak orang.

Jadi Ketua AMKEI

John kemudian menjadi Ketua Angkatan Muda Kei sejak tahun 1998.

Beberapa sumber menyebut, organisasi itu dibentuk setelah kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada awal tahun 2000.

Berawal dari seorang diri, John akhirnya punya belasan ribu pengikut setia.

Berjuluk ‘Godfather of Jakarta’

John disebut-sebut memiliki bisnis jasa pengamanan, jasa penagihan, konsultan hukum, dan pemilik sasana tinju Putra Kei.

Namun kehidupan John tidak bisa lepas dari catatan kriminal.

Dia disandingkan dengan mafia di Italia dan diberikan gelar ‘Godfather of Jakarta’ karena bisnisnya seperti mafia.

Berurusan dengan Aparat

12 Oktober 2004 nama John kembali dikaitkan dengan Basri Sangaji.

Basri tewas ditembak di bagian dada saat berada di dalam kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan.

Di dalam kasus ini, John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat.

Lalu, 11 Agutus 2008, John bersama adiknya, Tito Refra, benar-benar harus hidup di balik bui di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya karena menganiaya dua pemuda

4 April 2010, massa Kei bentrok di klub Blowfish dengan massa Thalib Makarim dari Ende, Flores. Dua anak buah John Kei tewas.

Perseteruan massa dari Flores dengan loyalis John juga kembali terjadi saat persidangan kasus Blowfish di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 29 September 2010.

Terakhir, John berurusan dengan aparat pada kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung.

Ayung dibunuh di kamar hotel 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar pada Selasa, 27 Januari 2012.

Ayung luka parah di bagian leher dan puluhan luka tusukan pada sekujur tubuhnya.

Vonis 16 Tahun Penjara

Mahkamah Agung pun menjatuhi hukuman John terkait pembunuhan Ayung menjadi 16 tahun.

Vonis itu lebih lama dua tahun dari tuntutan jaksa.

“Diputuskan Rabu, 24 Juli 2013 lalu. Vonisnya 16 tahun penjara,” ujar Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur melalui pesan singkat, Senin (29/7/2013).

Ridwan enggan menjelaskan alasan majelis memperberat vonis bagi John Kei.

Di Mata Keluarga

Adik Kandung John, Tito Kei sempat membagikan sikap John Kei di mata keluarga.

Tito membuka tanggapan dengan membantah semua kasus yang beredar terkait dengan John.

“Terkadang ada adik-adik kita yang buat onar dan bilangnya anak buah John Kei. Padahal, sama sekali tidak disuruh, karena kadang mereka kesal kakak saya diapain, terus mereka tidak terima dan bertindak sendiri,” ungkap Tito.

“Coba saja yang kenal dekat dia. Pasti akan bilang dia orang paling baik karena dia sangat peduli dengan adik-adik atau orang-orang susah. Orangnya dermawan,” tutur Tito.

Kebaikannya

Tito menyebutkan, kakaknya telah membangun sebuah gereja dan rumah pastor di kampung halaman mereka di Pulau Kei.

“Kami mulai dari nol. Tukang dan bahan semua kami bawa dari Jawa. Pada April 2013 pemberkatan gereja,” imbuh Tito.

Gereja itu dibangun selama empat tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Dana pembangunan didapat dari pemerintah daerah sebesar Rp 100 juta.

“Tapi gereja itu biayanya miliaran, akhirnya kakak saya yang bantu semua,” jelas Tito.

Selain membangun gereja, John juga membantu 20 rumah warga di Pulau Kei yang masih beratapkan jerami.

Tito menjelaskan, John membantu Umar Kei, keponakan John Kei, dengan memberikan lampu-lampu taman di halaman masjid.

“Kalau ada yang bilang John Kei dan Umar Kei itu berseteru, itu tidak benar. Perseteruan itu hal yang biasa, tapi kami bisa rujuk lagi,” pungkas Tito.

Berada di Penjara Khusus

John ditempatkan di dalam satu kamar dengan kamera yang mengintai sepanjang waktu.

Selain semua aktifitasnya terpantau oleh kamera, ia juga dilarang berinteraksi dengan napi lainnya.

Ia juga dibatasi untuk keluar dari sel selama satu jam saja dalam waktu satu hari.

Kunjungan keluarga pun dibatasi di lapas Nusakambangan.

Hal itu harus dialami oleh John Kei selama masa tiga bulan.

Akhirnya Bertobat

John mengaku, menghabiskan waktunya di penjara dengan membaca dan beribadah.

“Saya dulu tidak pernah ada waktu untuk ibadah. Tapi Nusa Kambangan membawa Tuhan hadir di diri saya,” kata John.

Ia mengaku menyesal dengan perbuatannya dan ingin menghapus masa lalunya tersebut.

Dirinya juga ingin mendekatkan diri pada Tuhan dan meminta bantuan dari Tuhan agar mampu bertahan di masa hukumannya.

“Kalau saya mati, saya mau masuk surga. Bukan masuk neraka kerena bunuh diri,” katanya.

Meskipun baru menjalani lima tahun hukuman penjara, John mengaku sudah banyak perubahan terjadi di dirinya.

Dia jadi pengkhotbah dan memberikan pencerahan bagi narapidana lainnya.

“Saya ingin menjadi manusia baru ketika saya keluar dari penjara. Saya menyerahkan hidup saya pada Tuhan,” pungkas John. (*)

BAGIKAN