Peter Yan, supir taksi Express Group lulusan Jerman yang memiliki tujuan mulia ingin mengurai kemacetan Ibukota (ist)

@Rayapos | Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, heboh di kalangan netizen tentang seorang supir salah satu armada taksi yang ada di Ibukota. Bukan karena kasus atau pengalaman tak menyenangkan yang didapat penumpang, melainkan cerita sang driver yang ingin megurai kemacetan di Jakarta.

Selidik punya selidik, pria yang bernama Peter Yan tersebut memang mengenyam pendidikan di Jerman. Tepatnya di Technische Hochschule Darmstadt, Jerman, jurusan civil engineering.

Dikutip dari berbagai sumber, Peter Yan merupakan mahasiswa di sana dan lulus pada tahun 1977. Peter bahkan harus menyelesaikan studinya selama 10 tahun sejak 1977-1987.

Ini bukan karena dirinya tak pandai, tapi Peter mengaku meski biaya kuliahnya gratis namun selama di Jerman ia juga harus kerja keras banting tulang mencari nafkah untuk menyambung hidup. Ia bahkan menjalani profesi dobel selama disana.

“Kuliah di sana gratis. Tapi saya sambil kerja. Cari duit untuk biaya hidup di sana. Jadi lama kuliah saya,” kata Peter yang dikutip dari news.detik.com.

Saat berada di Jerman, pria kelahiran Kupang Timur, 22 September 1957 ini mengaku pernah melakoni berbagai macam pekerjaan. Mulai dari penjual koran hingga asisten dosen.

Peter juga sempat menikah dengan seorang WNA dan melahirkan putrinya di sana. Hingga pada tahun 1988, Peter yang telah menggenggam gelar Dipl-Ing kembali ke Indonesia.

Setibanya di tanah air, Peter kemudian mempraktekkan ilmu yang didapatnya di Jerman. Berbagai desain tata kota pernah ia buat. Bahkan ia telah membuat desain busway pada 1991 dan sejumlah contoh jalan layang di Jakarta. Mirip seperti yang digunakan saat ini. Tak hanya itu, beberapa karya Peter juga dijadikan referensi oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia.

Peter juga sempat merancang desain untuk pembangunan ribuan rumah pasca gempa yang mengguncang Aceh 2004 lalu. Pria yang juga merupakan dosen program Pasca Sarjana (S2) Teknik Sipil di Universitas Tarumanegara ini, melakoni profesi sebagai sopir taksi karena memiliki tujuan mulia. Tak sekedar mencari nafkah, tapi ia juga mengamati kemacetan pada titik-titik tertentu di wilayah Jakarta.

“Saya ingin tahu secara langsung kemacetan di Jakarta di mana saja, kapan dan kenapa. Kalau kita sudah mengenali, kita baru menguasai. Jadi sebelum bicara kemacetan, saya harus tahu persis permasalahannya,” urai Peter.

Peter menjelaskan, dengan menjadi sopir taksi, ia mengetahui secara detil di mana saja titik kemacetan di Jakarta. Bahkan menurutnya ada 700 lebih simpul lalu lintas yang salah di Jakarta sehingga menyebabkan kemacetan semakin tak terhindarkan.

Peter kerap membawa laptop di dalam taksinya untuk menyimpan data-data kemacetan yang ia ketahui. Selain itu,, menurutnya, dengan menjadi sopir taksi, ia tahu apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang kemacetan di Jakarta.

BAGIKAN