Willy Siska, korban selamat yang terseret tsunami ke tengah laut. Foto: JPNN

@Rayapos | Jakarta – Ini kisah pilu korban tsunami Anyer. Namanya Willy Siska (36) karyawan PLN, warga Cipinang Lontar RT 001/09 Pulogadung, Jakarta Timur.

Willy korban selamat. Tapi isterinya ditemukan tewas. Anak sulungnya juga tewas. Sedangkan anak bungsunya hingga kini belum ditemukan.

Sang istri, Yuanita Primawati (34), dan dua anaknya Alya Shakila (7) meninggal. Sedangkan, anaknya Muhammad Ali Zaidan (3) hingga kini belum ditemukan.

Meski kesedihan yang amat dalam yang ia rasakan, namun ia tetap berupaya tegar menghadapi semua ini.

Bahkan ia dengan kuat mengantar almarhumah dan anak sulungnya pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Cipinang Baru, Pulogadung Jakarta Timur pada Senin (24/12/2018) pagi.

Di balik kesedihan dan duka yang mendalam yang di rasakan salah satu pegawai PLN ini, menyimpan peristiwa yang cukup mengerikan dalam peristiwa di anyer tersebut.

Musibah itu bertepatan dengan acara gathering PLN di Tanjung Lesung yang menampilkan band Seventeen.

Di saat itulah secara tiba-tiba, gelombang air laut menporak-porandakan panggung dan orang-orang yang ada di sekitarnya hingga beberapa diantaranya terserat ke laut.

“Jadi saat tsunami terjadi itu memang tiba-tiba sekali dan kami group PLN sedang ada acara di tanjung lesung, acara inti pada malam itu,” ceritanya.

Dilanjut: “Acara musim seventeen, tiba-tiba pada lagu ketiga, panggung itu runtuh. Kami pikir saat itu panggung saja yang runtuh, ternyata itu ada tsunami datang,” kata Willy, Senin (24/12/2018).

Ketika gelompang tsunami menyapu pesisir pantai, ia mengaku tak mendegar adanya tanda-tanda sebelumnya seperti gempa atau apapun.

Gelombang air laut menerjang tiba-tiba. Orang-orang sekitar baik itu istri dan anaknya yang saat itu berada di sekitar area panggung, dihantam air.

“Memang saat itu kita tidak merasakan apa-apa. Biasanya ketika ada tsunami itu ada di awali adanya gempa tapi ini tidak ada yang dirasakan, tapi tiba-tiba datang dalam hitungan detik,” ceritanya.

“Jadi tsunami itu datangnya dari arah kiri, makanya sebagian temen-temen kita itu termasuk saya dan istri saya terseret ke laut, dan anak saya terserat ke daratan,” ujarnya.

Meski saat itu ia terpisah dengan anak dan istrinya, Willy yang terseret ke laut, berusaha berenang ke pesisir pantai.

Namun rupanya gelombang tsunami menghantam lagi. Maka, dia terseret sejauh sekitar 2 kilometer dari tepi pantai.

Baca Juga:

Presiden Jokowi Ucapkan Belasungkawa untuk Korban Tsunami

BMKG: Tsunami Akibat Geliat Gunung Anak Krakatau

Ia mengaku di lautan tersebut ada beberapa kelompok yang berupaya menyelamatkan diri. Caranya dengan mengapung mengunakan kotak crew dari personil band.

Keadaan laut gelap. Willy melihat, beberapa orang mencoba untuk menggapai kotak kayu tersebut untuk mengapung.

“Saya waktu itu pasrah aja. Mungkin ajal saya sudah di sini. Tapi tetap saya berusaha untuk naik ke permukaan tapi datang lagi ombak besar dihantam lagi kita, tenggelam,” kisahnya.

Dilanjut: “Dan kita berusaha muncul lagi. Sudah jauh dari pantai. Mungkin sekitar 2 km dari pantai. Waktu itu kita berkelompok termasuk salah satunya crew seventeen itu, tapi saya lupa siapa,” ucapnya.

Meski dalam keadaan panik, dirinya tetap mencoba tenang dan berserah diri. Tapi dia tetap berusaha berenang ke tepi pantai.

Ketika dia bergabung dengan dua kelompok yang tengah terapung di laut dengan alat bantu kotak kayu, ia melihat dua anak kecil yang tengah terapung dengan memegang papan kayu.

Ketika itulah ia tegugah untuk menyelamatkan dua anak tersebut.

“Saat itu ada dua anak kecil mengapung pada kayu. Saya langsung menyelamatkan dia, saya ke arah selatan, meninggalkan dua kelompok tadi yang terapung ke utara.”

Dilanjut: “Saya ngak tahu, apakah kelompok yang mengapung di kotak tersebut selamat atau tidak. Saya terus baca istighfar. Dan satu anak kecil ini ternyata tangannya patah,” katanya.

Hampir tiga jam berenang di lautan untuk menuju pantai, dan kembali diterjang gelombang, ia dan dua anak berhasil selamat hingga ke pesisir pantai.

Namun ketika itu kondisi pesisir pantai cukup mencekam hingga beberapa pohon roboh.

“Hampir 3 jam berenang tapi nggak berasa cape. Mungkin kehendak Allah, belum saatnya saya meninggal. Termasuk dua anak kecil tadi yang akhirnya selamat,” ujarnya.

Dia pun bergegas untuk mencari anggota keluarganya yang hilang.

Namun karena minimnya penerangan, ia hanya mendengar suara-suara teriakan minta pertolongan. Hingga pada pukul 07.00, ia menemukan anak sulungnya sudah terbaring tidak bernyawa.

“Anak saya yang gede, Alya, saya sendiri yang menemukan. Dan saya sendiri yang bawa ke pendopo hotel,” kata Willy.

Dilanjut: “Kalo istri saya itu ketemunya 3 kilometer dari pesisir pantai dibawa arus. Dan saya masih ada satu lagi putra saya yang masih kecil yang belum ketemu sampai sekarang.”

“Saya mohon doa masyarakat, agar anak saya ditemukan, apa pun kondisinya,” ucapnya. (*)

BAGIKAN