Alfred Sitorus (FOTO: Ist)

@Rayapos | Jakarta – Koalisi Pejalan Kaki menolak rencana pembangunan proyek 6 ruas jalan tol dalam kota sepanjang 69.77 km di Jakarta. Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus menilai, pembangunan itu akan menambah tingkat kemacetan di Jakarta.

Ia memaparkan, berdasarkan aplikasl Air IQ, hampir setiap harinya Jakarta selalu dalam 3 besar kota dengan pencemaran udara tertinggi di dunia, dengan kategori unhealthy atau tidak sehat.

“Sementara tidak banyak upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah terkait hal ini. kemacetan di Jakarta sudah sangat mendunia dan selalu berada di 3 terbesar,” kata Alfred melalui siaran pers Senin (16/7/2018).

Baca juga:

Zlatko Dalic Sedih Kroasia Gagal Juara Piala Dunia 2018

Pengebom Indramayu Sempat Lari dengan Peluru di Dada

Menurutnya keduanya bukan prestasi yang membanggakan dan seharusnya langkah koreksi yang radikal sudah dilakukan sejak lama namun ternyata Pemerintah tidak melakukan hal berarti dan bahkan memperburuk keadaan dengan melanjutkan proyek 6 ruas jalan tol dalam kota yang menghabiskan dana 41.17 Triliun Rupiar.

Padahal, tahun 2015 Presiden Jokowi berkomitmen Paris Agreement untuk memotong emisi hingga 29 persen hingga 2030. Sementara itu Gubernur Anies Baswedan sempat berkomitmen untuk memotong emisi Hingga 30 persen di RPJMD 2018 – 2022.

“Baru-baru ini Wakil Gubernur Sandiaga Uno bertemu dengan Michael Bloomberg di New York, juga memberikan komitmen verbal untuk mengurangi emisi dan pencemaran udara,” ungkapnya.

Namun dilanjutkan Alfred, dalam praktek pada kebijakan dan kenyataan di lapangan sangat berlawanan dengan komitmen, ratifikasi dan peraturan yang dibuat pemerintah sendiri, setidaknya itu yang direpresentasikan lewat kelanjutan salah satu ruas 6 tol dalam kota Pulogadung-Sunter ke Semanan Jakarta Barat.

“Telah hanyak riset yang menunjukkan bahwa pembangunan jalan baru akan menimbulkan induced demand dan justru akan memperparah kemacetan,” tutupnya.

Diinformasikan Induced demand adalah kondisi dimana ketika terjadi peningkatan suplai maka akan dikuti oleh peningkatan konsumsi.

Artinya semakin banyak jalan raya dibangun demi pengurangan kemacetan, justru semakin banyak mobil yang akan memakai jalan itu dan membuat jalan itu sesak dan kondisi ini malah memaksa pembangunan lebih banyak jalan raya.