Kutai Timur Sasar KB MOP Dan MOW

@Rayapos | Kongbeng: Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyasar kepesertaan kontrasepsi KB jangka panjang bahkan seumur hidup berupa Metode Operasi Pria (MOP) dan Metode Operasi Wanita (MOW), karena pola ini lebih efektif.

“Selain lebih efektif bagi akseptor, juga tingkat keberhasilannya dalam mencegah kehamilan sangat tinggi,” ujar Kepala Bidang KB Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kutai Timur Shenni Paradise di Desa Marga Mulia, Kecamatan Kongbeng, Kamis (26/1).

Ia menjelaskan KB dengan pola vasektomi (MOP) atau tubektomi (MOW) merupakan jenis kontrasepsi dengan tingkat keberhasilan baik.

Untuk vasektomi, misalnya, merupakan jenis kontrasepsi paling efektif mencegah kehamilan dengan tingkat keberhasilan mencapai 99,85 persen.

Menurut Shenni, vasektomi merupakan tindakan pengikatan dan pemutusan saluran sperma kanan dan kiri, sehingga ketika ejakulasi cairan mani yang keluar tidak lagi mengandung sperma dan tidak menyebabkan kehamilan.

“Vasektomi merupakan tindakan sederhana yang menguntungkan bagi suami, menyenangkan bagi istri dan akan membahagiakan keluarga,” ujar Shenni.

Terkait dengan begitu besarnya manfaat MOP dan MOW, DPPKB Kutai Timur mulai 2017 memprogramkan pelayanan MOP dan MOW gratis di setiap kecamatan untuk masyarakat maksimal 10 peserta per kecamatan, sehingga diharapkan tahun ini terlayani 180 akseptor dari 18 kecamatan yang ada.

“Mengapa kami batasi maksimal 10 akseptor per kecamatan, karena biaya untuk KB jenis MOP dan MOW cukup mahal, sekitar Rp3 juta per orang. Beda dengan suntik yang hanya Rp30.000-40.000 per orang atau implan yang biayanya kisaran Rp400.000 per tiga tahun,” katanya.

Dalam melakukan KB MOP dan MOW, lanjut Shenni, BKKBN Kaltim memberikan subsidi senilai Rp500.000 per orang dan sisanya ditanggung DPPKB Kutai Timur.

Untuk itu, kepesertaan KB dari dua jenis ini dibatasi, mengingat keterbatasan anggaran.

“Untuk teknis pelayanannya, banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya, kami bisa langsung membawa tenaga medis dan bekerja sama dengan perawat atau bidan. Bisa juga kerja sama langsung dengan Puskesmas, sehingga pihak Puskesmas yang menangani persiapan hingga pelayanannya, atau bisa dengan pola lain,” ujar Shenni. [ant]

Comments

comments

LEAVE A REPLY