Ahmad Yani (kiri), Direktur Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan, saat konferensi pers di kantor pusat Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (8/3/2019). Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Kemenhub Pasang CCTV Pemantau Kecepatan di Tol Terjadi 1135 Kecelakaan di Tahun 2018, http://wartakota.tribunnews.com/2019/03/09/kemenhub-pasang-cctv-pemantau-kecepatan-di-tol-terjadi-1135-kecelakaan-di-tahun-2018?page=2. Penulis: Mohamad Yusuf Editor: Gede Moenanto

@Rayapos | Jakarta – Sepanjang 2018 terjadi 1.135 kecelakaan di jalan tol. Luar biasa. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memasang CCTV pemantau kecepatan kendaraan.

Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, bersama dengan stakeholdernya akan segera membentuk tim Kelompok Kerja (Pokja).

Tujuannya, untuk menurunkan angka kecelakaan lalu lintas serta memperbaiki kualitas keselamatan berkendara di jalan tol.

Salah satunya dengan memasang Closed Circuit Television (CCTV) di beberapa titik jalan tol.

“Tugas utama dari tim ini adalah melakukan evaluasi dan mapping data kecelakaan, faktor penyebab kecelakaan dan juga daerah rawan kecelakaan (blackspot).”

“Sehingga harapannya tim terpadu ini bisa bekerja sama untuk mengurangi angka kecelakaan di jalan tol,” kata Ahmad Yani, saat konferensi pers di kantor pusat Kemenhub, Jumat (8/3/2019).

Ahmad Yani adalah Direktur Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan.

Pihaknya, akan melakukan sosialisasi di rest area, seluruh jalan tol Indonesia secara simultan. Dengan melibatkan Kakorlantas, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kepala Badan pengatur Jalan Tol (BPJT), Direktur Jenderal Bina Marga, dan juga Direktur Utama PT Jasa Marga.

Yani menjelaskan, beberapa faktor penyebab kecelakaan di jalan nasional, berdasarkan data dari Polri, faktor manusia (human error) adalah yang paling tinggi presentasenya. Yaitu sebesar 80 hingga 90 persen.

Faktor kendaraan sebesar 5 sampai 10 persen, kemudian faktor Infrastruktur dan lingkungan sebesar 10 hingga 20 persen.

“Faktor manusia menyumbang angka kecelakaan terbesar. Penyebabnya antara lain adalah lengah, lelah, mengantuk, pengaruh minuman beralkohol, melanggar batas kecepatan minimal maupun maksimal, dan yang paling dominan adalah tidak tertib lalu lintas,” jelas Yani.

Sementara itu, Direktur Prasarana Transportasi Jalan, M. Risal Wasal, mengatakan bahwa jalan tol akan segera dilengkapi dengan CCTV sebagai pemantau kecepatan kendaran.

Hal tersebut, sebagai salah satu cara untuk memetakan blackspot. Kemudian, akan ada juga pemasangan rambu batas kecepatan, rumble strip, marka profil dan pemasangan papan peringatan neonbox, serta warning light.

“Pelanggar yang tertangkap oleh speed camera akan ditindak oleh polisi di pintu akhir. Sehingga tidak diberhentikan di tengah perjalanan,” jelasnya.

Pelanggaran diberlakukan tidak hanya kendaraan yang melebihi batas maksimal. Namun juga kendaraan yang kurang dari batas kecepatan minimal.

“Kendaraan di bawah kecepatan minimal itu sudah pasti Over Dimension and Over Loading_ (ODOL). Sehingga mungkin juga polisi akan menerapkan pasal berlapis bagi pelanggar”, tegas Risal.

Selain itu, Risal juga menjelaskan bahwa perlunya pemasangan stiker pemantul cahaya di bagian belakang truk yang melalui jalan tol. Agar mengurangi resiko ditabrak dari belakang.

Pihaknya juga akan mempertegas truk di lajur satu. Dengan catatan semua operator jalan tol memasang rambu atau marka jalur truk.

“Upaya penurunan kualitas keselamatan di jalan tol ini dinilai perlu segera dilaksanakan, mengingat jumlah kecelakaan yang sangat besar. Berdasarkan data yang diperoleh dari asosiasi jalan tol, pada tahun 2018 terjadi 1.135 kecelakaan di jalan tol, sedangkan pada tahun 2017 terdapat 1.075 kecelakaan,” jelasnya. (*)

Baca Juga:

FBR Resmi Dukung Jokowi, Begini Alasannya

BAGIKAN