Ilustrasi

@Rayapos | Jakarta – Kemelut pembuangan sampah Jakarta ke Bekasi berdampak luas. Ribuan ton sampah dari Jakarta, dihadang masuk Bekasi. Akibatnya bau sampah di mana-mana.

Contohnya, di wilayah Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Sampah menumpuk di berbagai lokasi.

Hingga pukul 13.00 WIB, Sampah dari tempat pembuangan sampah di depan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Kelurahan Koja, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, masih terlihat menggunung.

Tumpukannya sampai ketinggian sekira 3,5 meter. Sampah meluber, menyebar hingga ke bahu jalan.

Sampah di depan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Kelurahan Koja, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara
Sampah di depan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Kelurahan Koja, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara

Ada satu truk sampah yang terparkir di depan tempat pembuangan sampah.

Namun truk tersebut sudah terisi penuh sampah di dalamnya.

Satu di antara sopir truk sampah yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, truknya merupakan truk ketiga.

Sebelumnya, dia sudah mengangkut dua truk menuju tempat pembuangan akhir di Bantargebang, Bekasi.

“Ini truk saya sudah ketiga. Tadi yang dua sudah jalan ke Bantargebang. Biasanya ada empat truk yang beroperasi” ujar sopir truk tersebut.

Dirinya merasa kesulitan semenjak truk sampah Jakarta tidak diizinkan ke Bantargebang.

“Kita ya sulit jadinya, kalau mau kesana ya malam di atas jam 9, kalau siang begini stanby saja, biasanya bisa antar dua kali, sekarang cuma sekali” sambung sopir tersebut.

Menurutnya, sebelum ada larangan sampah, tidak akan sampai menumpuk dan akan ada pengurangan terus.

Tempat pembuangan sampah di depan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri menjadi langganan tempat pembuangan sampah bagi warga cilincing dan sekitarnya.

Firman (16) satu di antara warga Koja, setiap harinya mengantar dua gerobak sampah penuh yang berisi sampah rumah tangga yang ia kumpulkan. “Saya buang ke situ,” katanya enteng.

Sementara itu, di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) RW 17 Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, sampah menggunung. Tingginya melebihi atap rumah.

Gunungan sampah didominasi oleh sampah rumah tangga dari seluruh wilayah yang termasuk dalam Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.

Dalam beberapa hari terakhir, gunungan sampah tersebut semakin menjulang tinggi.

Bahkan, tingginya sudah melebihi atap rumah warga yang ada di sekitarnya.

Gunung sampah di Bantargebang, Bekasi/ Foto: Dok Rayapos
Gunung sampah di Bantargebang, Bekasi/ Foto: Dok Rayapos

Salah seorang warga setempat, Dirman, yang dijumpai Warta Kota pada Minggu siang mengungkapkan kekhawatirannya mengenai gunungan sampah tersebut.

“Nggak tahu sih masalahnya apa. Tapi beberapa hari ini, gunung sampahnya makin tinggi. Lihat aja tuh, atap rumah saya aja kalah tinggi. Khawatirnya kalau tiba-tiba ada longsoran gunung sampah gimana coba? Ketimbun dong kita, abis semua rumah ini. Kan ngeri juga,” katanya sambil menatap gunung sampah yang ada di depan rumahnya.

Kekhawatiran Dirman bukan tanpa alasan. Menurutnya, keberadaan gunung­an sampah itu hampir saja menelan korban.

Kejadian berawal ketika para pemulung mencari rongsokan di antara gunungan sampah itu.

Tiba-tiba saja sebagian gunungan sampah itu longsor.

Para pemulung terkejut karena longsoran itu hampir merenggut nyawa seorang di antara mereka.

“Kemarin, ada yang lagi nyari rongsokan. Lagi ramai-ramainya, eh tiba-tiba aja longsor. Jatuh, ketimbun dah tuh pemulung. Untung kepalanya masih nongol, masih bisa napas. Akhirnya dibantuin sama warga dan pemulung lainnya. Alhamdulillah selamat,” tutur Dirman.

Makan Nasi Rasa Sampah

Selain itu, dampak lain yang ditimbulkan oleh gunungan sampah Muara Baru adalah bau menyengat yang tercium hingga ratusan meter dari lokasi pembuangan sementara.

“Bukan sok bersih ya mas. Kadang makan sampai gak ketelan karena saking baunya. Emang sih saya akui, saya tinggal di permukiman kumuh, tapi ya nggak sejorok itu,” kata Nurhayati, warga lainnya di lokasi.

“Kami makan nasi, terasa seperti sampah, karena baunya menyengat,” kata seorang warga lainnya.

Setelah diberi tahu permasalahan penyebab gunungan sampah, Dirman berharap agar Pemprov DKI Jakarta segera menyelesaikan perselisihan dengan Pemkot Bekasi.

“Pasti masalahnya duit nih, saya yakin banget. Jadi saya mohon kepada Pak Anies, Pak Gubernur kita, tolonglah masalah ini diselesaikan,” katanya.

Dia lanjutkan: “Duit dari pajak dan sebagainya kan banyak, pakai dulu lah. Ini masalah sampah udah darurat. Kasihan kami, warga yang tinggal di sekitar sini.”

Petugas Sampah Kewalahan

Nursyafrudin, seorang Pekerja Harian Lepas (PHL) yang menangani sampah di tempat itu, juga mengaku kewalahan menangani gunungan sampah tersebut.

Sebab, pasokan sampah yang masuk ke TPS tidak sebanding dengan sampah yang berhasil diangkut petugas.

“Jumlah sampah yang masuk ke sini bertambah. Sedangkan yang kita angkut ke Bantar Gebang justru semakin sedikit. Nggak seimbang,” ujarnya kepada Warta Kota, Minggu (21/10).

Dalam kondisi seperti ini, bukannya mendapatkan tambahan truk sampah, Nursyafrudin dan teman-temannya malah kekurangan alat angkut.

Bahkan sistem saling tarik truk sampah antarkelurahan yang ada di Kecamatan Penjaringan tak dapat menyelesaikan masalah.

“Umpamanya Penjaringan jatahnya berapa mobil dan dibagi per kelurahannya dapat berapa. Ada yang ditarik ke kerja bakti dan sebagainya,” tutur Nursyafrudin.

Dia jelaskan, mobil yang biasa di Muara Baru ditarik ke sana dulu. Atau yang di Pluit ditarik ke Muara Baru.

“Di Kelurahan Pluit kan gak pake dipo, ya dia biasa manual. Ibarat kata, orang RW yang biasa ngangkutin sampah kan kalau Minggu nggak masuk. Daripada mobilnya libur ditarik ke Muara Baru. Biasanya nggak numpuk setinggi ini,” tuturnys.

Kata Anies, Kewajiban DKI Selesai

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menunaikan kewajibannya kepada Pemerintah Kota Bekasi.

Kewajiban itu sebagaimana yang sudah disepakati dalam perjanjian kerja sama (PKS) tentang pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

“Dari aspek kewajiban-kewajiban, kita sudah selesai, tidak ada kewajiban yang tersisa,” kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Minggu (21/10/2018).

Anies menyampaikan, salah satu kewajiban Pemprov DKI Jakarta yakni membayar dana kompensasi bau sampah kepada Pemkot Bekasi.

Setiap tahunnya, Pemprov DKI membayar sesuai tonase sampah dari Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang. Pemprov DKI sudah membayar dana kompensasi bau untuk tahun 2018.

“Di tahun 2018, kita sudah menunaikan, nilainya Rp 138 miliar, dengan tambahan juga utang tahun 2017 senilai Rp 64 miliar,” kata Anies. (*)