Manado Fiesta 2017: Upaya jadikan Manado sebagai kota pariwisata dunia

Pagelaran Manado Fiesta 2017 yang belakangan ramai dibahas, menjadi menarik untuk dicermati. Hal ini membuat saya tergelitik mencoba mengikuti efek domino yang terjadi akibat gelaran acara yang digagas Pemkot Manado ini.

Pasalnya sejak di buka pada 2 September lalu, bahkan hampir sepekan sebelum hari H, banyak hal yang telah mengemuka.

Pertama, yang menarik diikuti adalah menyangkut dampak dari identitas Manado sebagai Kota Pariwisata Internasional.

Jujur saya mau katakan bahwa sejak 4 Juli 2016 lalu saat terjadi booming pariwisata Sulut, yg ditandai membanjirnya wisatawan mancanegara dari Asia dan Eropa,  serta USA dan Australia di era kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw, ada kekhawatiran “sepi” nya Manado dari rangkaian event bertaraf internasional.

Bahkan, beberapa kawan istimewa saya yang adalah pejabat di Kementrian Pariwisata di Jakarta kerap menyindir.

“Kok ga ada event besar di Manado?,” atau yang lebih menggelitik lagi ungkapan yang mengatakan ibukota Sulawesi Utara sudah berpindah ke Tomohon.

“Kok Manado kalah sama Tomohon yg punya Tournament of Flower. Jangan-jangan ibukota provinsi udah pindah ke Tomohon?”

Keluhan serupa juga dilontarkan banyak kawan “tour operator” nasional dan asing tentang sepinya event.

Memang, adalah sebuah “kewajiban” bagi Manado untuk melaksanakan rangkaian agenda event pariwisata di wilayahnya karena fakta tourism yang sudah melekat lagi dalam dirinya sejak booming turis 2016 lalu,  yang mencatat sebanyak 41.625 orang (hanya dalam 6 bulan, dari Juli sampai dengan Desember) dan pada 2017 ini, dari Januari sampai dengan 27 Agustus lalu berhasil mencapai 54 ribu lebih turis.

Belum lagi turis nusantara yang tiba di Manado, menurut angka pada 2016 lalu mencapai sekitar 1.2 juta orang pada posisi Agustus 2017 lalu sudah mencapai 1.4 juta lebih.

Booming turis ini mau lihat apa di Manado? uang yang mereka bawa, akan dibelanjakan kemana?. Sebab, pariwisata saat ini tak sekadar menjual view yg cantik, tapi harus ada sebuah atraksi dan fasilitas yang menjual agar turis bisa spend time and money di situ.

Ditambah lagi, dua “stigma” baru Manado oleh Presiden Joko Widodo kepada Manado, yang harus segera diejahwantahkan, antara lain melalui gelaran event hajatan internasional. Yaitu pada Maret 2016.

Jokowi menyebutkan Manado (Sulut) sebagai Gerbang Utara Pariwisata Indonesia dari pasar Asia Pasifik. Lalu pada Mei 2017 lalu, Jokowi dalam pertemuan Beijing Summit untuk One Belt One Road (OBOR), menetapkan Manado sebagai pintu masuk jalur sutra ke Indonesia.

Jadi, terhadap rangkaian harapan dan peluang ini, kapankah event pariwisata di Manado hidup lagi?.

Akankah kehebohan event wisata Festival Bunaken dan Danau Tondano (Fesbudaton -red), yang heboh di era kepemimpinan Gubernur CJ Rantung dan EE Mangindaan terjadi lagi? ataukah, akan ada lagi event sebesar World Ocean Summit (WOC) era Gubernur SH Sarundajang yang sukses menyedot banyak tamu asing dan menghadirkan aneka bangunan hotel bintang di Manado, terwujud lagi?.

Manado memang punya cara bikin surprise. Sehingga tidak berlebihan kalau saya harus memuji dan mengatakan, GSVL-Mor merupakan pasangan yang memimpin ibukota provinsi saat ini, diam-diam menyimpan jurus untuk menjawab semua harapan dan tantangan tersebut menjadi peluang bagi kemajuan daerah dan masyarakatnya, melalui gelaran Manado Fiesta yg saya sebut tadi. Kok bisa??.

Nah, di sinilah sisi menariknya membahas Manado Fiesta itu.

“Bung Dino. Ini amazing. Percaya atau tidak. Seminggu kedepan, tingkat hunian banyak hotel di Manado hampir capai 100 persen!” kata salah seorang GM hotel bintang di Manado kepada saya di suatu pagi mengawali kegiatan saya.

Saat itu, sepekan sebelum hari H acara Manado Fiesta yang resmi dimulai 2 September lalu. Karuan saja rasa rindu dan galau saya yang selama ini menanti akan ada event besar di Manado terjadi. Bahkan bukan saja hanya kegiatannya yang besar, tapi efek domino dari sisi ekonominya juga, ternyata mulai terkabul.

Yang istimewanya lagi. Dari sisi branding Manado sebagai kota wisata dunia, yang memiliki sejumlah kegiatan wisata andalan, akhirnya terwujud. Banyak kawan penggiat pariwisata di luar Sulut maupun luar negeri mulai dibangkitkan kesadarannya bahwa Manado sudah memiliki event unggulan yang namanya Manado Fiesta.

Apalagi, dari sisi kemasan promosi, yang sejak diluncurkan di Kemenpar RI awal tahun ini, Manado Fiesta bisa dikatakan sukses memancing pesona orang untuk hadiri kegiatan ini. Apalagi duet GSVL-Mor pun menindaklanjuti itu dengan melakukan rangkaian road show ke kota-kota besar di Indonesia yang juga menjadi kantong wisatawan nusantara.

Di sisi lain, kawan-kawan pengusaha biro perjalanan yg bernaung dalam ASITA Sulut juga menggeber acara Manado Travel Mart 2017.

Bisa dibayangkan, network bisnis ASITA sebagai biro perjalanan internasional yang ada di Indonesia itu, akan hadir di hajatan Manado Fiesta. Lalu, mereka semua membicarakan ramai Manado sebagai kota wisata dunia!.

Pernyataan yang tak jauh berbeda juga dilontarkan penggagas acara lomba paduan suara internasional bertajuk “Manado Cantat”, Yang merupakan warga negara Singapura yang kredibilitas dan kapabalitasnya sudah diakui musisi paduan suara dunia.

Katanya, “Manado Fiesta telah menciptakan Manado sebagai kota bernyanyi di Asia. Yah, Manado miliki jutaan warga yang pintar bernyanyi di Asia. This is Singing city in asia,” katanya kepada saya semalam saat hadiri acara final Manado Cantat.

Selain itu ada juga Deputy Promosi Kementrian BKPM RI Bpk Himawan, yang mengatakan, event wisatanya bagus, mereka akan datang, turis akan kian tertarik. Tak hanya karena di promosi tour operator. Tapi daya tarik itu akan muncul lewat event. Salut Manado, Din,” ungkapnya.

Saya terhenyak. Bangga. Haru. Identitas Manado sebagai kota pariwisata dunia kian menguat. Manado Fiesta sungguh membangunkan kesadaran yg telah lama hilang. Bahwa bukan saja mempesona karena alamnya yang indah tapi karena di kota ini ada sebuah pesta budaya dan pesta keramahan bagi wisatawan dari mana saja di ujung dunia ini. Ini siap membetahkan turis di Manado.

Kedua yg menarik dicermati adalah dampak ekonomi. Di sini, saya mencatat disadari atau tidak oleh pelaksana. Manado Fiesta sukses mewujudkan outcome oriented atau orientasi pemasukan yang menjadi parameter berpikir dalam menyusun setiap program kerja yang baku diterapkan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya.

Maksudnya?

Yah dari sisi outcome, Manado Fiesta mendatangkan pendapatan tak sedikit. Maaf, saya bukan pakar hitung-hitungan atau dengan cepat menjeneralisasikan sebuah fakta sepihak dalam sebuah kenyataan yg terkesan buru-buru.

Tapi, yang ingin saya sodorkan adalah Manado Fiesta berhasil mendatangkan turis, khususnya wisatawan nusantara. Tentu dengan spending money yang tidak sedikit.

Buktinya mana?

Hitung-hitungan saya seperti ini. Sepekan sebelum hari H, saya menemukan info, dari 270 hotel di Manado, 16 diantaranya hotel bintang, rata-rata tingkat hunian hampir mencapai 100 persen. Namun yg menarik, saat diinfokan bahwa akan ada Manado Fiesta, tak sedikit yang meminta untuk extended. Menambah masa tinggal.

Kemudian ada turis nusantara yang datang khusus Manado Fiesta. Nah, jika diambil rata, jika tingkat hunian sekitar 90 an persen saja, maka rata-rata kamar menginap hotel bintang sekitar 100 kamar. Per kamar dihuni 2 orang. Masa tinggal mereka rata-rata lima hari. Belum lagi, hotel non bintang, yang berjumlah 254, dengan jumlah kamar rata-rata sekitar 40 kamar dan sepekan ini tingkat huniannya mencapai 80 an persen.

Ditambah, rata-rata spending money mereka, yang menurut data BPS, pembelanjaan turis domestik rata-rata per orang bisa mencapai Rp 5 juta.

Maka bisa dibayangkan kita akan menemukan jumlah turis yang tiba dan berbelanja di Manado selama event dan yang memanfaatkan kemeriahan kegiatan Manado Fiesta ini, luarbiasa.

Lantas, kemana saja perbelanjaan itu dilakukan turis selama Manado Fiesta?,
sudah pasti, kebutuhan makan minum, transportasi kendaraan baik di darat dan di laut hingga souvenir akan jadi sasaran mereka.

Saya usulkan agar Walikota Bpk GS Vicky Lumentut dan Wakil Walikota Manado Bpk Mor Bastian, bisa mengajak timnya, untuk segera menghitung efek ekonomi yang tercipta dari Manado Fiesta. Sehingga, dalam term Outcome Oriented itu tadi, dana sebesar Rp 14 miliar untuk acara ini, berubah menghasilkan pendapatan ratusan miliar rupiah.

Manado Fiesta masih akan berlanjut hingga 10 September. Dari sisi kemasan acara, memang harus diakui, pembenahan masih harus dilakukan, semisal kegiatan karnaval. Masalah tepat waktu, pengerahan massa anak anak yang harus nunggu berjam jam hingga dramatisasi esensi karnaval yang masih kurang, memang perlu dievaluasi lagi kedepan agar lebih baik lagi.

Kalau toh belakangan ini muncul aneka rasa ingin tahu beberapa anggota masyarakat terhadap besar kecilnya anggaran, saya kira itu adalah bagian dari kecintaan sekaligus keterkejutan mereka, lantaran sempat tertidurnya kota ini dari polesan rangkaian event wisata yang hebat dan menyentuh kepentingan warganya.

Dengan kata lain, ujaran-ujaran ingin tahu tentang dana kegiatan, tak usahlah dibalas dengan ketersinggungan, tapi dari sisi positif lihatlah keinginan masyarakat ini sebagai keinginan untuk melihat dampak, outcome, apa yang sudah terjadi dari gelaran Manado Fiesta. Masyarakat butuh dampak, efek nyata.

Nah, harapan ini alangkah baiknya dijawab dengan hasil investigasi ekonomi intelijen terhadap rangkaian dampak ekonomi, efek domino, kegiatan Manado Fiesta yang bagus ini saya kira, untuk kian merangsang kesadaran dan cinta masyarakat bahwa inilah momentum dimana era pariwisata menjadi prime mover pengentasan kemiskinan di daerah ini. Bahwa pariwisata bukanlah iven gagah gagahan hambur dan habiskan duit semata.

Tapi yang mau saya sampaikan di sini adalah, Manado Fiesta telah sukses membangkitkan kembali sisi pencitraan bahwa Manado adalah kota wisata “yang tertidur” nyaris tanpa kegiatan wisata.

Dan kreativitas di balik rangkaian kegiatan ini patut kita acungkan jempol. Kepemimpinan GSVL-Mor, bahkan dengan antusias mendukung penuh acara ini sehingga terwujud.

Di sisi lain, Manado Fiesta juga telah tampil sebagai kegiatan yang ikut menggairahkan bisnis perekonomian kerakyatan. Antusiasme masyarakat bahkan terlihat dari berbagai gelaran acara yang sudah dimulai.

Bahkan melalui event ini, jadi pasar wisatawan nusantara yang selama ini kurang dilirik, padahal potensi outcome-nya luarbiasa, mulai digarap.

Tentu ini semua, dengan bersinerji bersama kepemimpinan OD-SK sebagai motor sukses pariwisata Sulut yang sedang menahkodai kepemimpinan pemprov Sulut saat ini.

Keberhasilan Manado Fiesta harus disertai dengan pembenahan infrastruktur dan keterlibatan masyarakat lebih banyak lagi melalui sosialisasi dan proses penyadaran ke masyarakat yang harus terus disampaikan ke lapisan bawah. Sehingga Manado Fiesta adalah sungguh sebuah Fiesta. Sebuah pesta kerakyatan yang menguntungkan dan mesenjahterakan masyarakat.

 

Penulis : Dino Gobel adalah Staff Khusus Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara

Comments

comments