Prof DR KH Ma'ruf Amin

@Rayapos | Jakarta – Politik Indonesia berubah dahsyat. Perubahan yang mengajarkan kepada 264 juta penduduk kita, bahwa selama ini ada upaya orang mencampur-adukkan kekuasaan (power) dengan agama (religion). Membodohi rakyat, seolah-olah kekuasaan dan agama adalah satu.

Tujuan orang pencampur-aduk power dengan religion adalah satu: Agar dia (mereka) berkuasa. Caranya, memanfaatkan ratusan juta rakyat yang beragama Islam. Dengan simbol-simbol. Contoh: Pernyataan publik ‘Partai Allah’ versus ‘Partai Setan’. Dan, banyak simbol-simbol lain.

Pelajaran tersebut diurai oleh Prof Dr KH Ma’ruf Amin. Dijabarkan secara gamblang Ma’ruf, Ketua Majelis Ulama Indonesia yang kini Cawapres.

Inti pernyataan Ma’ruf, selama ini ada pihak yang bicara (selalu) menyebut diri mereka menghargaai ulama. Menghormati ulama. Patuh terhadap ulama. Artinya, ulama representatif dari agama Islam.

Tapi, kenyataannya kelompok itu tidak mendengarkan Ijtimak Ulama. Mengabaikan Ijtimak Ulama.

Ucapan Ma’ruf demikian: “Ada belah sono ngomongnya menghargai ulama. Menghargai ulama… Tapi, hasil ijtimak ulamanya nggak didengerin. Malah wakilnya bukan ulama,” ujar Ma’ruf di kantor PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Simak videonya:

Ma’ruf tak menyebut dengan lugas pihak yang dimaksud. Sindiran itu disampaikan Ma’ruf saat bicara tentang sosok Joko Widodo. Menurut dia, Jokowi sangat menghargai para ulama.

Ma’ruf tidak mengatakan, bahwa kelompok Prabowo Subianto sudah menampung Ijtimak Ulama. Inti Ijtimak Ulama kepada Prabowo: Cawapres Prabowo ada dua: Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri atau Ustaz Abdul Somad.

Ternyata Prabowo memilih Sandiaga Uno yang kata Wasekjem Partai Demokrat Andi Arief, Sandiaga membayar kepada PAN dan PKS masing-masing Rp 500 miliar. Ujung-ujungnya ternyata duit. Ternyata duit sekardus.

Simak videonya:

Tidak. Ma’ruf Amin tidak mengatakan begitu. Walau kenyataan yang terjadi begitu. Melainkan, Ma’ruf mengatakan, bahwa Jokowi orang yang sangat menghargai ulama.

“Saya anggap Pak Jokowi betul-betul dia menghargai ulama. Penunjukan saya, saya anggap itu penghargaan ulama,” kata dia.

Baca Juga:

Bersiap, Perjalanan KRL Bogor-Jakarta Akan Lebih Lama

Momen Isteri Sandi Pamitan ke Isteri Anies

Martak: Semangat Ijtimak Ulama Ganti Presiden

Ma’ruf mengatakan, semua kalangan boleh terjun ke dunia politik. Menurut dia, dunia politik tak tertutup bagi para kiai dan ulama.

“Memang yang boleh jadi presiden dan wakil presiden itu politisi saja? Atau tentara saja? Pengusaha saja? Kiai juga boleh,” tutur dia. (*)

BAGIKAN