Mayor Agus Harimurti Yudhoyono: “Saved By The Bell (?)”

Foto: plus.kapanlagi.com
Foto: plus.kapanlagi.com

Keputusan Mayor Agus Harimurti Yudhoyono untuk pensiun di pangkat Mayor, kemudian banting setir ke panggung politik dengan maju sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta, menyisakan banyak spekulasi.

Salah satu yang beredar adalah ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahu jika karir Agus di militer akan mandek, karena cedera punggung parah yang ia derita.

Beberapa rumor yang beredar mengatakan cedera pada bahunya ini menyebabkan Mayor Agus tidak memungkinkan untuk bisa berlari lagi dengan baik. Sementara syarat lari merupakan sebuah kewajiban untuk promosi dari Letkol ke Kolonel. Ada juga yang bilang Mayor Agus cedera syaraf kejepit parah, ketika mengikuti latihan perang dan sudah tidak bisa diterapi.

Selasa, 15 Februari 2005, merupakan hari dimana Mayor Agus –ketika itu menjabat sebagai Perwira Seksi Operasi Batalyon Lintas Udara 305 Kostrad, Kerawang-, menjalani rawat inap di Paviliun 3, Kamar 210, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

Saat itu Agus dikabarkan mengidap Demam Berdarah (DBD). Namun kabar ini kemudian diluruskan oleh Komandan Kodim Jakarta Pusat, Letkol A Yuliarto ketika menjenguk Agus keesokan harinya, Rabu 16 Februari 2005.

“Dia menderita sakit punggung akibat salah urat karena melakukan latihan brigade terlalu keras,” demikian tegas Yuliarto saat itu.

Sayangnya setelah itu, tidak ada lagi keterangan yang bisa dihimpun. Pihak rumah sakitpun menggelar aksi “bungkam” ketika ditanya awak media perihal cedera Agus saat itu.

Seperti diketahui, salah satu syarat untuk kenaikan pangkat di TNI –khususnya dari Letnan Kolonel ke Kolonel-, seorang perwira harus melalui serangkaian test kesamaptaan yang berpusat pada sisi kebugaran yang bersangkutan.

Jika Mayor Agus tetap berkair di militer, rencananya sekitar bulan April 2017 ia akan naik menjadi Letnan Kolonel, seiring dengan jabatannya sebagi Komandan Batalyon Infantri (Danyonif) Mekanis 203/Arya Kemuning, sebuah satuan elit yang berinduk di bawah Kodam V Jakarta. Sampai di sini tidak ada persoalan baginya. Yang kemudian bisa menjadi “penghalang” nantinya akan ditemui Agus ketika akan menyandang tiga bunga di pundak atau jenjang kepangkatan Kolonel.

Agus harus melalui ujian samapta yang cukup berat seperti tes Samapta A ya­kni lari sejauh 3200 meter dan Samapta B­ yang meliputi Pul Ups, Sit Up, Push Up ­dan Shuttle Run. Selain itu, juga dilaks­anakan tes renang militer sejauh 50 mete­r gaya dada. Sebelum dilaksanakan tes kesegaran jasma­ni, terlebih dahulu seluruh Pamen harus ­melakukan tensi. Bagi Perwira yang tensi­nya normal dan memenuhi syarat, dapat me­lanjutkan tes kesegaran jasmani, sedangk­an yang tensinya belum normal, tes akan ­dilaksanakan hari berikutnya.

Berbicara tentang tes samapta bagi Pamen TNI yang akan dipromosikan ke Kolonel, Wakapendam II/Sriwijaya, Letkol ­Inf Paiman, menjelaskan bahwa tes kesamap­taan jasmani dan ketangkasan renang mili­ter ini merupakan syarat mutlak bagi sel­uruh prajurit baik golongan Tamtama, Bin­tara, dan Perwira Pamen yang usul kenaik­an pangkat (UKP) di jajaran TNI AD.

“Tes kesegaran jasmani ini merupakan sal­ah satu persyaratan yang harus dipenuhi ­oleh prajurit untuk bisa naik pangkat. S­ebagai prajurit yang memiliki tugas bera­t dan membutuhkan fisik yang prima, maka­ prajurit dituntut untuk senantiasa memi­liki samapta / kemampuan fisik yang prim­a”, demikian Letkol Paiman ketika melakukan tes kepada 5 Perwira Menengah (Pamen) Koda­m II/Sriwijaya yang akan naik pangkat Kolonel ­periode 1 April 2016, Jumat (29/1/2016)­, seperti dilansir dari halosumsel.com.

Jika Mayor Agus Harimurti Yudhoyono harus mengikuti serangkaian test berat seperti ini ketika nanti akan naik menjadi Kolonel –mungkin 3 atau 4 tahun ke depan-, mampukah Mayor Agus melewatinya?

Jika kebugarannya ada pada level puncak, maka tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi, kalau spekulasi yang beredar bahwa Agus tidak bisa lagi berlari akibat syaraf yang terjepit di tulang belakangnya benar adanya, jelas bahwa karir militer Agus Harimurti Yudhoyono berada di ujung tanduk.

Ketika dikonfirmasi tentang cedera yang ia alami bertahun-tahun silam, Mayor Agus Yudhoyono menjawab diplomatis. Ia juga membantah bahwa keputusannya masuk ke panggung politik, karena prediksi karir militer yang akan mandek.

“Kita kan tentara banyak latihan segala macem. Enggak masalah semuanya,” demikian tegas Mayor Agus di Kantor BNN, Minggu (25/9).

Jawaban Mayor Agus yang masih terlihat “abu-abu” karena tidak menyentuh substansi persoalan, bisa saja menambah panjang spekulasi, rumor dan selentingan yang beredar seputar pencalonannya sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.

Satu hal yang pasti, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan jika Mayor Agus sebenarnya sedang disiapkan untuk menjadi pimpinan di TNI. Ia mengakui bahwa putra sulung SBY tersebut merupakan perwira cerdas dan gemilang.

“Saya berat, tapi itu pilihan pribadi, hak pribadi. Saya harus melepaskan itu. Saya menyayangkan. Saya sudah siapkan kader, lihat kadernya pilih berpolitik, berat ya,” demikian pernyataan Gatot Nurmantyo di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (23/9).

Menyimak pernyataan Jenderal Gatot, terbersit penyesalan kenapa Mayor Agus harus meninggalkan TNI, institusi yang juga menjadi kebanggaan sang ayah, Jenderal (purn) Susilo Bambang Yudhoyono.

Jejak Mayor Agus ketika berkarir di militer sampai jabatan terakhirnya, memiliki kemiripan dengan jejak karir Jenderal Yudhoyono senior.

Sang Ayah memang pernah menjadi komandan di Batalyon yakni pada tahun 1976-1977 sebagai Komandan Pleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad. Saat itu, SBY memimpin pasukan bertempur di Timor Timur.

Jauh sebelum menjadi Danyon 203 AK, Mayor Agus sempat malang melintang di Batalyon yang sama sebagai Danton III/C Yonif Linud 305/Tengkorak (2002), Danton II/C Yonif Linud 305/Tengkorak (2003), Pasi 2/Ops Yonif Linud 305/Tengkorak (2004) dan Dankipan C Yonif Linud 305/Tengkorak (2005)

Tak heran sewaktu dilantik menjadi Danyon Komandan Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning (AK), SBY menyampaikan kebanggaannya sebagai orang tua.

“Tentu sebagai orangtua merasa bahagia, masih sempat menyaksikan puteranya yang di militer juga, yang mengikuti kariernya sama di TNI sekarang sudah mendapatkan jabatan Danyon juga,” demikian Mayor Agus saat menyampaikan tanggapan SBY, di Makodam Jaya, Cawang, Jaktim, Rabu (5/8/2015).

Kini semua telah ditinggalkan Mayor Agus. Ia memilih berkarir di politik dan ajang Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti, akan merupakan “panggung perdana” Agus di rimba belantara politik ibukota yang sangat kejam.

Akhirnya, benar atau tidaknya spekulasi pilihan meninggalkan TNI karena cedera parah yang ia alami, tentu saja hanya Mayor Agus yang bisa menjawabnya secara benar.

Namun jika bisa berandai-andai, kalau memang cedera itu yang menjadi salah satu faktor utama Mayor Agus meninggalkan TNI, ekspresi yang paling tepat adalah “Saved by The Bell”.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY