Mengenal “Deep State”, Duri Dalam Daging Pemerintahan Donald Trump

Foto: You Tube

Anda mungkin sudah mendengar istilah “Deep State” atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “Pemerintah Bayangan” . Beberapa bulan terakhir, istilah ini menjadi viral, karena diangkat oleh banyak media di seluruh dunia.

Dikutip dari laman Voice of America, istilah “deep state” muncul belakangan ini ketika para pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan ada semacam “pemerintahan bayangan” yang berusaha menggagalkan pemerintahan pimpinan presiden yang baru itu.

Istilah “deep state” sendiri mengisyaratkan adanya semacam konspirasi atau komplotan, yang terdiri dari badan-badan intelijen, para pejabat angkatan bersenjata dan bahkan hakim-hakim pengadilan.

Tujuannya adalah mempengaruhi kebijakan dan menjegal berbagai usaha yang sedang dijalankan oleh pemerintah baru. Sebelum ini, istilah “deep state” dipakai untuk menggambarkan situasi di Turki dan konflik-konflik internal dalam pemerintahan di Mesir dan Pakistan.

Tapi kini istilah itu digunakan oleh media konservatif dan para pejabat sayap kanan di Amerika untuk menggambarkan adanya semacam “cabal” atau faksi politik rahasia, yang berusaha menggagalkan pemerintahan Presiden Trump.

Lantas apa sebetulnya yang menjadi istimewa dari Deep State?

Intinya sangat sederhana, namun sangat mengerikan. Ibukota Amerika, Washington DC, sebenarnya terbelah menjadi dua kubu yang bersilangan. Kubu pertama sangat transparan dan mudah untuk diikuti, sementara kubu yang lain bergerak seperti bayangan dan lebih banyak diisi oleh mereka yang piawai merencanakan pemufakatan jahat.

Menurut sejumlah pengamat, terdapat kecenderungan dimana gerakan Deep State yang beroperasi secara rahasia namun paralel dengan konstitusional, mulai mendapat pengakuan dari kalangan politisi dan birokrat mainstream.

Voice of America mengabarkan bahwa, menurut seorang profesor bernama Tim Melley dari Universitas Miami yang banyak menulis tentang hal ini, “deep state” sebetulnya adalah “teori konspirasi yang klasik”.

Contohnya adalah ketika Presiden John Kennedy dibunuh pada tahun 1963. Banyak orang berpendapat bahwa dinas-dinas intelijen Amerika terlibat dalam pembunuhan presiden yang populer itu.

Di lain pihak, Presiden Trump sendiri memperkuat kabar-kabar tentang adanya komplotan terhadap pemerintahannya dengan menuduh pendahulunya, Presiden Barack Obama memerintahkan penyadapan telepon di kantornya di Trump Tower di New York.

Tudingan ini tentunya langsung dibantah oleh kubu Obama. Namun demikian, yang harus dicatat adalah, mereka yang menjadi aktor intelektual dari sebuah pemerintahan bayangan sangatlah ahli dalam menjalankan skenario semacam ini. Sejauh ini, sangat sulit untuk mengumpulkan bukti cukup kemudian menelanjangi dan membuka kedok dari gerakan Deep State.

Terkait perkembangan yang terjadi dalam pemerintahan Trump, gerakan pemerintahan bayangan ini oleh banyak pihak diyakini memiliki data-data valid yang rahasia. Bahkan dikatakan bahwa kegiatan intelijen dari pemerintahan bayangan dalam pemerintahan Trump, jauh lebih intens ketimbang apa yang dilakukan intelijen pemerintah Amerika.

Aktivitas intelijen dari gerakan Deep State memang tidak bisa terbukti, namun semua orang dengan kemampuan menganalisa, pasti akan percaya karena begitu banyak fakta yang dikeluarkan.

Tiga tahun silam, badan keamanan nasional Amerika (NSA), membuka sebuah pusat pengolahan data di luar kota Bluffdale, Utah. Fasilitas canggih dengan kapasitas miliaran gygabytes itu, disebut dapat menyimpan data masif dari semua penduduk –bayi sampai dewasa-,  di seluruh dunia.

Fasilitas tersebut pertama kali dioperasikan tahun 2014, dengan menyedot anggaran operasional sebesar USD 40 juta per tahunnya. Tidak perlu bukti, untuk orang bisa percaya tentang eksistensi fasilitas canggih dan mahal tersebut.  Bagi NSA, alibi yang selalu digunakan adalah “demi keamanan negara”.

Hal ini serupa dengan gerakan Pemerintahan Bayangan. Mereka bisa merubah hasil pemilu, mempengaruhi elit negara dan mengontrol kebijakan-kebijakan sebuah negara dari balik layar. Tidak terlihat tentu saja, namun publik sangat percaya bahwa gerakan semacam ini memang ada.

Kembali ke dalam pemerintahan Donald Trump, lagi-lagi belum bisa dibuktikan siapa para aktor intelektual yang menggerakkan pemerintahan bayangan tersebut. Semua hanya menduga.

Ada yang percaya, namun banyak pula yang menganggap isu Deep State hanyalah hoax belaka. Donald Trump sendiri berada di pihak yang sangat yakin bahwa ada komplotan di Gedung Putih yang berusaha untuk menjatuhkannya.

Trump mencurigai pengikut Barack Obama merupakan pentolan yang menggerakkan Deep State, meski secara keras dan tegas telah dibantah oleh Obama sendiri.

“FBI gagal total dalam mencegah beberapa orang yang membocorkan rahasia-rahasia negara, serta menganggu pemerintahan yang sah. FBI juga gagal menghentikan beberapa agen mereka membocorkan sejumlah data rahasia kepada media, yang akhirnya berdampak buruk bagi Amerika,” demikian Trump dalam cuitan di akun twitternya, akhir February 2017.

Terlepas dari ada ata tidaknya komplotan yang mengendarai gerakan pemerintahan bayangan di dalam pemerintahan Trump, satu hal pasti adalah Trump masih akan akrab dengan gonjang-ganjing dalam negeri.

Comments

comments