Ilustrasi pengguna Glock. Foto: Reuters

@Rayapos | Jakarta – Gedung DPR tertembak, Senin (15/10/2018) sore. Dua tembakan. Peluru menembus dinding kaca lantai 16 dan 13. Masuk dalam ruangan, bersarang ke dinding tembok.

Berdasarkan keterangan resmi Polri, itu tembakan nyasar. Anggota Perbakin berinisial I dari Tangerang Selatan, sore itu latihan menembak di Lapangan Tembak Senayan. Lokasinya di seberang bagian belakang Gedung DPR.

“Kemungkinan jenisnya pistol Glock,” ucap Ketua Perbakin DKI Jakarta, Irjen Pol Setyo Wasisto, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/10/2018). Pelurunya ukuran 9 milimeter.

Setyo yang juga Kadiv Humas Polri itu menjelaskan, itu tembakan nyasar. Penembaknya anggota Perbakin berinisial I dari Tangerang Selatan.

I sedang latihan menembak di Lapangan Tembak Senayan. Dia latihan menembak sasaran bergerak.

“Tembakannya nyasar ke Gedung DPR,” kata Setyo. Tapi, I diperiksa polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Secanggih Apakah Pistol Glock?

Dilansir dari PistolTraining, pistol Glock diproduksi perusahaan Glock Ges .mbH, terletak di Deutsch-Wagram, Austria.

Diciptakan Gaston Glock pada 1960-an. Tapi produksi massal baru dilakukan 1982.

Ini memang jenis pistol canggih. Berbingkai bahan Polimer, dioperasikan secara recoil-pendek. Glock adalah pistol semi-otomatis.

Penciptanya, Gaston Glock malah bukan ahli senjata. Dia adalah ahli dalam meneliti Polimer.

Dia ditantang oleh Angkatan Bersenjata (AB) Austria untuk membuat pistol. Tantangan AB Austria sederhana: Buatkan, pistol yang canggih tapi berbobot ringan.

Gaston Glock ditantang begitu, sebab dia ahli Polimer. Pihak AB membayangkan: Siapa tahu Gaston Glock bisa membuat pistol berbahan baku Polimer. Pasti bobotnya ringan.

Setelah bekerja keras selama 2 tahun di markasnya yang terletak di Deutchs Wagram, Austria, Gaston akhirnya menyerahkan protoype pistol buatannya, diberi nama Glock 17 kepada AB Austria untuk diujikan.

Setelah melampaui tes di tentara Austria, pada tahun 1982 Glock GmBH mendapat kontrak untuk memproduksi 25.000 pucuk pistol Glock 17. Kandungan bahan bakunya 80% polimer. Sisanya logam.

Pistolnya memang ringan. Kira-kira bobotnya separo pistol lain yang berbahan baku seluruhnya logam.

Pistol ini mulai dipakai militer dan polisi Austria pada tahun 1982. Hasil tes, keamanan dan ketahanan sangat bagus.

Tapi ada masalah. Karena Glock berbahan Polimer, banyak pihak jadi khawatir. Mereka khawatir pistol tidak terdeteksi alat pemindai di bandara. Maklum, di zaman itu alat pemindai belum canggih.

Jika tidak terdeteksi alat pemindai, bahaya. Semua penumpang pesawat bisa bawa Glock.

Kemudian dilakukan beberapa revisi bahan baku Glock. Bahan logam ditingkatkan sedikit. Sehingga jadilah Glock seperti sekarang.

Beberapa saat kemudian dipakai juga oleh angkatan bersenjata Belanda, Norwegia dan Swedia. Kini jadi pistol terkenal se dunia.

Glock punya cukup banyak komponen logam. Pada framenya. Pada laras dan slide yang terbuat dari besi berkadar karbon tinggi.

Magasin juga punya rangka logam di balik kulit polimernya. Dengan begitu, tidak mungkin lolos alat pemindai.

Sejak diperkenalkan pertama kali 1982, Glock mengalami 3 perubahan.

Perubahan pertama dimulai dengan dirilisnya model generasi kedua. Perubahan paling jelas terlihat pada bagian grip, diberi permukaan kasar.

Generasi ketiga kemudian muncul dengan desain baru pada grip yang mempunyai lekukan untuk jari dan rail.

Keunggulan teknis Glock, penggunaan bahan polimer yang tahan panas. Hingga 200 derajat celcius.

Larasnya beda dari yang ada. Glock 17 menggunakan poligonal rifling pada laras. Yaitu sistim alur dalam laras model baru. Berbeda dengan alur konvensional.

Glock 17 juga mempunyai chamber loaded indicator. Berfungsi mendeteksi kamar peluru.

Recoil Spring Glock 17 juga mengadaptasi sistem Captive Recoil Spring. Fungsinya mencegah terjadinya kesalahan proses melepas per tolak balik.

Model ini, kecil kemungkinan melukai pengguna. Misalnya, melukai muka atau mata operator, setelah terjadi ledakan.

Pengoperasian Glock 17 sangat praktis. Tombol dapat diakses dengan mudah, tanpa mengubah genggaman. Ini cocok untuk rapid shooting.

Glock 17 mempunyai 3 tombol. Pelepas magasin. Pengunci slide. Penghenti slide.

Glock 17 tidak mempunyai pengaman. Pistol ini menganut sistem “save action”.

Save action berarti pengaman otomatis. Ada tuas kecil terletak di bawah picu. Otomatis mengunci picu, bila tuas tidak ditekan.

Jadi… pistol tidak akan menyalak, bila picu ditekan mundur. Sebaliknya, picu tidak akan dapat ditekan mundur, bila pengaman tidak tertekan.

Pada 1992 tercatat kurang lebih 350 ribu pistol Glock digunakan di 45 negara. Mayoritas (sekitar 200 ribu) di Amerika Serikat.

Tentu juga anggota Perbakin yang salah sasaran, sehingga tertembak Gedung DPR.

Baca Juga:

Siap-Siap, Ada Diskon Besar-Besaran di Pameran Motor IMOS 2018

JPM Tanah Abang Diluncurkan, Jalan Jatibaru akan Dibuka

Horor… Luna Maya Kedinginan di Makam Suzzanna

Kecanggihannya Jadi Membahayakan

Paul Barrat, pengarang buku “Glock: The Rise of America’s Gun” menyatakan, daya tarik Glock ada di kapasitas magazine. Punya 33 round.

“Magazine-nya sangat besar. Menyembul di bawah gagang pistol, dari pegangan tangan,” ucap dia dalam satu kesempatan wawancara dengan sebuah radio di AS, 2010.

Dia lanjutkan: “Anda bisa menembakannya dengan sangat cepat. Dan harus mengosongkan round sebanyak itu sebelum mengisi peluru kembali.”

Semakin canggih senjata, semakin bahaya jika dipegang tangan yang salah.

James Holmes, penembak yang membunuh selusin orang di Aurora, Colorado, Amerika Serikat, 2011 menggunakan Glock.

Teroris ekstrim kanan asal Norwegia, Anders Behring Breivik. Ia menggunakan Glock 17 ketika menembak sebagian besar dari 67 korban tewas dalam pembantaian yang dilakukannya di Pulau Utoya, 2011.

Peter Mangs, warga Swedia dituduh menembak mati tiga orang dan 12 orang lain terluka dalam kurun 2009 hingga 2010, juga pengguna Glock 19.

Di Jerman, Robert Steinhauser, yang menewaskan 17 orang dalam pembantaian Erfurt 2001 menggunakan Glock 17.

Di Amerika Serikat, selain oleh Holmes, Glock lebih akrab di tangan para pembunuh berdarah dingin.

Misalnya: Jared Lee Lougher menggunakan Glock 19 ketika menembak Senator Gabrielle Giffords dan membunuh enam orang lainnya di supermarket Safeway, di Tuscon, Arizona, AS pada 2011.

Seung Hui Cho, membunuh 32 orang dalam peristiwa “Pembatantaian Virginia Tech” tahun 2007, pengguna Glock 19.

George Jo Hennard membunuh 23 orang di Luby’s Cafe pada 1991, pengguna Glock 17.

Kevin Sweat, membantai dua gadis remaja berusia 11 dan 13 tahun di Oklahoma, AS pada 2008.

Glock juga digunakan oleh dua pertiga dari kepolisian AS dan banyak digunakan dalam film-film dunia.

Dalam film “The Fast and The Furious” misalnya, tokoh agen FBI Brian O’Connor menggunakan Glock 17.

Di luar Amerika Serikat, Glock banyak digunakan dalam komunitas-komunitas pecinta olah raga menembak.

Breivik dan Mangs dari AS, misalnya, membeli Glock secara legal dan sering menggunakan pistol itu ketika menggunakannya secara teratur dalam klub menembak agar diberi lisensi.

Breivik dan Mangs juga memasang laser yang diimpor dari AS pada pistol mereka. Sementara itu Breivik memahat tulisan “Mjolnir” – palu yang menjadi senjata Thor, Dewa Bangsa Nordik.

Bahkan, Mangs menghabiskan berbulan-bulan menjahit kulit khusus sebagai sarung Glock. Itu sekaligus jadi tempat menyembunyikan selongsong peluru.

Tapi, betapun kita bersyukur Glock dari Lapangan Tembak Senayan tidak membawa korban. (*)

BAGIKAN