Petugas Bawaslu laporkan Ngadiyono ke Polda DIY. Foto: Alfi

@Rayapos | Sleman – Jangankan menghina Presiden RI, menghina anggota Bawaslu Kabupaten Sleman pun Ngadiyono dipolisikan. Padahal, dia Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul.

Ngadiyono akhirnya dilaporkan ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tuduhannya, menghina anggota Bawaslu, berarti menghina lambang negara. Ngadiyono diproses polisi.

Bentuk penghinaan Ngadiyono terhadap anggota Bawaslu itu kelihatan sepele.

Ceritanya, pada Rabu (28/11/2018) Capres Prabowo Subianto mendatangi warga Muhammadiyah DIY. Tujuannya silaturrahim, sekaligus bertujuan politis terkait Pilpres 2019.

Ngadiyono adalah Ketua DPC Partai Gerindra Gunungkidul, juga Wakil Ketua DPRD Gunungkidul. Praktis, Ngadiyono mendampingi bosnya, Prabowo.

Di saat yang sama, datang juga anggota Bawaslu dan Panwaslu tingkat kecamatan di sana. Nah… saat itulah terjadi penghinaan.

Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawalsu DIY, Sri Rahayu Werdiningsih, menjelaskan kepada wartawan seusai melapor di Mapolda DIY, Senin (3/12/2018). Cerita Sri demikian:

“Saat yang bersangkutan datang di lokasi, mengetahui ada petugas Bawaslu Sleman dan Panwaslu Kecamatan di sana.”

Ngadiyono lalu menyapa salah seorang petugas:

“Anda Bawaslu, ya?”

“Betul.”

“Preeet…” balas Ngadiyono, sambil membelakangi petugas, lalu menonjolkan pantat, seperti orang sedang kentut.

Petugas yang di “preeet” tidak terima. Marah. Itu dianggap sebagai penghinaan. Lantas dilaporkan ke polisi.

“Kita laporkan. Diduga yang bersangkutan melanggar Pasal 207 KUHP, penghinaan terhadap lembaga negara. Ini bagi kami suatu penghinaan, entah apa motifnya,” jelas Sri.

Dalam laporan polisi, pihak Bawaslu juga menyerahkan alat bukti berupa file video peristiwa tersebut. Kejadian itu kebetulan terekam kamera petugas Bawaslu Sleman.

Pasiaga SPKT Polda DIY, Ipda Mijan kepada wartawan di Mapolda DIY, Senin (3/12/2018) menyebutkan pihak terlapor bernama Ngadiyono anggota (Wakil Ketua) DPRD Gunungkidul dari Fraksi Gerindra.

“Pada dasarnya kita menerima laporan dari Bawaslu Sleman, terlapor satu orang dengan pasal yang disangkakan Pasal 207 KUHP,” ujarnya.

Baca Juga:

VIDEO: Pidato Habib Bahar di Panggung Reuni 212

VIDEO: Prabowo Salah Ucap Nama Rasulullah di Reuni 212? Begini Jelasnya

Ngadiyono Membantah Begini…

Sementara, Ngadiyono berkelit atas tuduhan Bawaslu. Dia menyebut kata ‘pret’ yang terlontar sebetulnya adalah ‘jepret’, menirukan suara kamera.

“Waktu itu kan, kalau disebut kata-kata ‘pret’, salah. Saya kan dengan teman-teman, waktu saya datang diajak foto-foto, ‘jepret’ gitu. Menirukan suara bunyi kamera,” kata Ngadiyono, saat dimintai konfirmasi wartawan melalui telepon, Senin (3/12/2018).

Ngadiyono juga membantah melakukan gestur tubuh mleding atau memantati petugas Bawaslu seperti materi laporan Bawaslu Sleman ke polisi.

“Bukan mleding, tapi action pas difoto. Tapi saya tidak ngerti siapa yang motret, saya diajak foto bareng teman-teman, semua difoto. Setelah difoto saya masuk mobil lagi, terus pulang,” imbuhnya.

Ngadiyono pun siap memberikan klarifikasi ke Bawaslu maupun polisi atas ulahnya itu.

Dituduh Membawa Mobil Dinas DPRD

Tak hanya dipolisikan, pria yang kembali mencalonkan diri dalam Pileg 2019 untuk kursi DPRD Gunungkidul itu juga disorot Bawaslu karena kedapatan membawa mobil dinas di acara Prabowo tersebut.

“Pada saat kegiatan kampanye Prabowo tanggal 28 November kemarin, ada salah satu anggota legislatif dari Gunungkidul datang membawa mobil dinas. Kita tahu mobil dinas tidak diperbolehkan digunakan dalam kampanye, dilarang menggunakan fasilitas negara dalam kampanye,” kata Sri.

Menurut Sri, penggunaan mobil dinas untuk kegiatan kampanye bisa diproses pidana maupun administrasi melalui Sentra Gakkumdu.

“Penggunaan mobil dinas, fasilitas pemerintah, diatur dalam Pasal 281 ayat 1 UU 7/2017, disebut pelaksana, peserta dan tim kampanye dilarang menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah dan tempat pendidikan.”

“Nanti dibahas di Gakkumdu, apakah mobil dinas termasuk dalam nomeklatur fasilitas pemerintah atau tidak. Juga larangan penggunaan mobil dinas secara eksplisit di Pasal 301,” jelas Sri.

“Penggunaan mobil dinas nanti kita proses sendiri kami pemeriksaan di Bawaslu ada mekanismenya,” papar Sri.

Lalu, seperti apa tanggapan Ngadiyono?

Dia mengakui membawa mobil dinas saat menghadiri acara Prabowo. Dia beralasan mobil dinas melekat kepadanya sebagai Wakil Ketua DPRD sehingga dia berani mengendarai mobil pelat merah itu ke acara Prabowo.

“Kalau ndak melekat saya nggak berani bawa, itu juga bukan perjalanan dinas (tidak memakai fasilitas negara). Setahu saya (mobil dinas) bisa saya bawa ke mana-mana, pikir saya melekat itu ya saya bawa ke manapun bisa, karena saya ndak dapat transportasi dan sebagainya,” ujarnya.

“Dan sebagai ketua DPC, saya diwajibkan hadir. Bapakne teko mosok anake ora teko, engko malah disemprit,” sebutnya. (*)