Mengintip Pendidikan Adat Masyarakat Ala ‘Sokola’

@Rayapos | Jakarta: Bukan bagaimana mengubah mereka agar bisa menerima sekolah formal tapi sebaliknya bagaimana menciptakan sebuah sistem sekolah yang bisa mereka terima, demikian pendiri sekolah alternatif “Sokola” Saur Marlina Manurung yang akrab dipanggil Butet.

Memang prinsip demikian bertentangan dengan pola pendidikan yang berlaku saat ini namun dengan keberbedaan itulah yang menjadi ciri dan bisa menjadi salah satu pola dalam menetapkan pendidikan bagi masyarakat adat.

Tentunya sudah tertinggal pola yang memaksakan masyarakat adat dengan pola kekinian di kota, seperti orang Papua yang terbiasa menggunakan koteka “dipaksa” harus mengenakan pakaian seragam sekolah.

Pola pendidikan demikian menjadi pembeda dan berhasil diterapkan di sejumlah masyarakat adat binaan dari Sokola, seperti Suku Anak Dalam di Jambi, Suku Kajang di Sulawesi Selatan, dan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Karena penyeragaman (mutlak) bisa membunuh keberagaman,” katanya dalam Seminar Masyarakat Adat dalam Pendidikan Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Selasa, 17 Mei 2016.

Kata kunci yang menarik untuk disimak dari perkataan Butet Manurung yang alumnus Antropologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu, yakni, mau tidak mau perubahan sudah datang dengan pendidikan mereka bisa menjadi Tuan atas perubahannya sendiri.

Hal itu tidak terlepas dari persepsi terhadap masyarakat adat selama ini, seperti bisa mengganggu konservasi: bahaya ekosistem, sosial: miskin, antropologis: eksotis/etnik, ekonomi: sumber uang, religius: tidak beragama, teknologi: tertinggal.

Kemudian secara pariwisata: museum budaya, pemerintah: obyek pembangunan, serta secara edukasi: bodoh.

Karena itu, pendidikan di pedalaman bukan tentang pemerataan guru saja tapi ada hal yang lebih penting, kurikulum, kapasitas guru dan cara pandang.

“Yang kesemuanya itu berakar dari pemahaman atas budaya setempat,” katanya.

Yang menjadi pertanyaanya, apakah mereka butuh pendidikan tapi bukan formal? “why”?. Jawabannya, dari keunikan/kekhususan, yakni, geografis, budaya.

UNDRIP Article 14 ayat 3 menyebutkan Negara-negara, bersama dengan masyarakat adat akan mengambil langkah-langkah yang efektif, agar warga-warga adat terutama anak-anak, termasuk warga-warga yang tinggal di luar komunitas mereka, untuk memiliki akses, jika mungkin, atas pendidikan dalam budaya mereka sendiri dan disediakan dalam bahasa mereka sendiri.

Maka model Sokola yang diterapkan melalui program berupa literasi, literasi terapan, Advokasi: akses terhadap fasilitas dan hak. Sedangkan metodenya: adaptasi, Live in (menetap), kurikulum kontekstual (menjawab masalah lokal), “Accommodate local custom”, kader dan pelibatan tetua/tradisi.

“Selanjutnya mengevaluasinya,” kata Butet Manurung.

Sementara itu dalam acara yang sama, anggota Komnas HAM Sandra Moniaga menyebutkan pemerintah Indonesia segera melakukan kajian dan revisi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Pendidikan.

“Kepada pemerintah daerah agar lebih sensitif dengan masyarakat adat terutama suku-suku kecil sebagai pewaris budaya yang harus dihormati dan dilindungi dengan membuat kebijakan yang dapat mengakomodir hak-hak masyarakat adat, termasuk hak keperdataan dan hak atas pendidikan mereka,” katanya lewat makalahnya “Hak Atas Pendidikan Masyarakat Hukum Adat”.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar segera meningkatkan realisasi penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak atas pendidikan masyarakat adat termasuk mengembangkan metode dan substansi pengajaran yang relevan dan tepat secara budaya termasuk pemuatan pendidikan agama suku/lokal ke dalam mata pelajaran di sekolah.

Ia juga memberikan rekomendasi kepada organisasi masyarakat adat dan lembaga-lembaga pendukungnya untuk terus belajar memahami hak-hak asasi masyarakat hukum adat dan (terus) mengembangkan berbagai program-program yang sejalan dengan prinsip-prinsip penghormatan dan pemajuan hak asasi masyarakat hukum adat.

Disebutkan, dalam Dokumen Hasil dari Konferensi Dunia tentang Masyarakat Adat (2014) Kepala Negara dan Pemerintahan, menteri dan perwakilan dari negara-negara anggota PBB menegaskan kembali dukungan mereka untuk UNDRIP dan membuat komitmen berikut terutama berkaitan dengan pendidikan, yakni: Butir 11. Kami berkomitmen untuk memastikan akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas tinggi yang mengakui keragaman budaya masyarakat adat dan untuk kesehatan, perumahan, air, sanitasi dan program ekonomi dan sosial lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan, termasuk melalui inisiatif, kebijakan dan penyediaan sumber daya. Kami berniat untuk memberdayakan masyarakat adat untuk mewujudkan program-program-program tersebut sebaik mungkin.

Butir 14.Kami berkomitmen untuk mempromosikan hak setiap anak adat, dalam masyarakat dengan anggota kelompoknya, untuk menikmati atau budaya sendiri, untuk menganut dan menjalankan agamanya sendiri dan/atau menggunakan bahasanya sendiri.

Butir 15.Kami mendukung pemberdayaan dan pengembangan kapasitas pemuda adat, termasuk partisipasi penuh dan efektif mereka dalam proses pengambilan keputusan dalam hal-hal yang berpengaruhi pada kehidupan mereka.

Kami berkomitmen untuk mengembangkan, dalam konsultasi dengan masyarakat adat, kebijakan, program dan sumber daya, di mana yang relevan, yang menargetkan kesejahteraan pemuda adat, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan transmisi pengetahuan tradisional, bahasa dan praktik, dan untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang hak-hak mereka.

Sedikit gambaran, Butet Manurung melakukan sekolah rintisan pertama di kalangan masyarakat Orang Rimba yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi.

Metode yang diterapkannya bersifat setengah antropologis dengan membaca, menulis dan berhitung. Bahkan dalam pengajarannya dilakukan sambil tinggal bersama dan pengajarnya harus siap untuk diminta mengajar setiap waktu oleh murid-muridnya.

Pola pengajaran yang dilakukan oleh Sokola itu dilakukan pula di daerah Flores, Papua, dan Makassar, Sulawesi Selatan. Bahkan pemerintah juga memuji pola pendidikan yang dilakukan oleh Sokola tersebut.

Perkataan Butet Manurung itu kembali terngiang-ngiang, “Mau tidak mau perubahan akan/sudah datang!, Dengan Pendidikan, mereka bisa menjadi Tuan atas perubahannya sendiri”.

 

[Antara]

BAGIKAN

LEAVE A REPLY