Menjadi Polemik, Jenderal Tito Tegaskan Proses Hukum Peserta Pilkada Harus Tetap Berjalan

@Rayapos | Jakarta: Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengambil langkah tegas terkai polemik yang muncul akibat tersangkutnya beberapa pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta Februari mendatang.

Tak tanggung-tanggung, Tito memutuskan untuk “menabrak” Peraturan Kapolri yang terbit ketika Jenderal Badrodin Haiti masih menjabat sebagai Tribrata 1.

Saat itu Badrodin mengeluarkan aturan dimana jika seorang pasangan calon tersangkut kasus hukum, maka Polisi harus menunggu hingga Pilkada usai baru bisa menggulirkan penyidikan.

Kini, Jenderal Tito terpaksa “merubah” aturan tersebut. Adapun kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menjadi dasar dari langkah Jenderal Tito.

Ia menegaskan siapapun pasangan calon yang tersandung masalah hukum harus langsung diproses.

“Kalau ini digulirkan, akan membawa konsekuensi. Siapa pun yang dilaporkan, semua dilaporkan sama, harus diproses,” ujar Tito di Kompleks PTIK, Jakarta, Rabu (25/1).

Tito mengatakan, kasus Ahok menjadi preseden untuk menindaklanjuti laporan tanpa harus menunggu Pilkada selesai.

“Jangan dihentikan prosesnya karena referensinya adalah kasus Ahok yang diajukan pada saat tahapan Pilkada. Yang otomatis membawa konsekuensi hukum asas equality before the law, semua sama di muka hukum. Tidak ada bedanya,” tegas Tito.

Seperti diketahui, calon wakil gubernur Sylviana Murn, “menyusul” Ahok ketika ia mulai diperiksa atas dugaan korupsi dana bansos Kwarda DKI Jakarta dan pembangunan Masjid Al Fauzi Kantor Walikota Jakarta Pusat.

Kini Polisi telah menaikkan status kedua kasus tersebut ke tahap penyidikan. Jika semua bukti cukup, tak menutup kemungkinan Sylviana juga akan ditetapkan sebagai tersangka, sama seperti Ahok yang kini sementara menjalani persidangan kasus dugaan penistaan agama.

“Jadi, kalau ada laporan kepada paslon lainnya, termasuk di Jakarta, ya kita proses. Itu konsekuensinya, tidak ada penundaan,” kata Tito.

Dalam kasus yang menyeret Sylvi, calon gubernur nomor urut 1, Agus Yudhoyoo, mengeluarkan komentar tak sedap ketika menduga ada motif politis tertentu di balik munculnya kasus Sylvi.

“Inilah yang sangat saya sayangkan. Rasa-rasanya aroma politiknya terlalu tinggi. Mencari-cari suatu yang tidak ada,” demikian sindir Agus.

Berbeda dengan Ahok yang dengan tegas “menyerahkan diri” untuk diperiksa, Agus Yudhoyono malah menilai kasus Sylvi merupakan upaya untuk memojokkan dirinya dalam proses pencalonan mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Comments

comments

LEAVE A REPLY