Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

@Rayapos | Jakarta – Indonesia harus impor beras. Jika tidak, kekacauan bakal terjadi. Hal itu ditegaskan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Ia menilai, Indonesia terancam defisit beras.

“Ada dua pilihan. Kalau impor pasti di bully, kalau tidak impor siapa pun pemerintahnya akan jatuh dengan chaos. Itu konsekuensi politik yang ada,” ujar Enggar di Jakarta Selatan, Kamis (14/9/2018).

Baca juga:

DPRD DKI Tolak Penambahan Angggaran Bikin Waduk di Jakarta

Disangka Curi Start Kampanye, Jokowi Malah Tertawa

Sandiaga: Erick Thohir Nangis di Sebelah Saya

Enggar menjelaskan, pada akhir tahun lalu, stok beras di Tanah Air turun tajam. Stok beras pemerintah di gudang Bulog bahkan sempat minus.

Ia menekankan Indonesia hampir selalu mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan domestik. Apalagi, saat ini, lahan pertanian di tanah air terus tergerus.

“Hanya di zaman orba (orde baru), itu pun satu periode tertentu, kita tidak impor beras. Di luar itu, kita selalu impor beras,” tegas dia.

Enggar mencontohkan, pada 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan untuk impor sebanyak 2,5 juta ton. Impor dilakukan guna meredam gejolak politik yang mungkin terjadi jelang Pilpres jika harga beras terus naik.

Kemudian pada 2015 hingga 2015, Menteri Perdagangan Thomas Lembong juga memutuskan impor beras sebanyak 1,5 juta ton.

Baik SBY maupun Thomas Lembong, menurut dia, melakukan impor beras secara G to G (government to government) sehingga mendapat harga lebih murah.

“Langkah yang diambuil mereka benar. Saya tidak berani, saya pilih tender terbuka yang transparan, meski harga lebih mahal. Tender terbuka semua bisa melihat, termasuk KPK,” ungkap dia.

Ia pun menekankan setiap keputusan impor tak dilakukan sendiri, melainkan melalu rapat koordinasi di tingkat Kementerian Koordinator Perekonomian. Rapat juga dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Pertanian, Dirut Bulog, dan Deputi Menteri BUMN.

Enggar sepanjang tahun ini telah mengeluarkan izin impor 2 juta ton beras. Izin impor diberikan secara bertahap, yakni 500 ribu ton sebanyak dua kali serta 1 juta ton.

BAGIKAN