Ibu dan bayinya yang dilahirkan di pengungsian erupsi gunung Agung Bali (Foto : Istim

Bangsa Indonesia hari ini, memperingati Hari Ibu tahun 2017. Periode ini, saat yang tepat untuk mulai merancang Peringatan Hari Ibu, yang di masa lalu sangat meriah diisi dengan tema dan orientasi dari lingkungan keluarga, atau kegiatan sosial kemasyarakatan yang sangat luas.

@Rayapos | Jakarta – Di dalam lingkungan keluarga, Hari Ibu dijadikan peringatan yang sangat sakral, karena pada hari itu seluruh keluarga memberikan penghargaan yang tinggi kepada ibu yang ada dalam suatu rumah tangga.

Dengan membebaskan ibu tercinta dari tugas rutin seperti memasak, membersihkan dan menata tempat tidur, menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga. Penghargaan itu dilakukan di masyarakat Barat dengan memberikan bunga dan di masyarakat Timur dengan mengajak Ibu ke luar rumah dan ditraktir dengan makan makanan kesayangannya di rumah makan favoritnya.

Di masa lalu Peringatan Hari Ibu di Indonesia dilakukan dengan mengenang perjuangan kaum Ibu melawan ketidakadilan dan menuntut persamaan hak dengan kaum lelaki. Di sekitar tahun 1980-an, tatkala kita memberi perhatian yang tinggi kepada kaum Ibu dengan adanya Gerakan PKK dan lain-lain, para Ibu banyak yang memperingati Hari Ibu dengan kegiatan yang dipusatkan di Posyandu dengan menggelar acara mengajak ibu hamil meningkatkan disiplin pemeriksaan kehamilannya.

Pada hari itu di Posyandu diadakan acara khusus menangani Ibu dan anak balita dengan pelayanan kesehatan serta pemberian petunjuk kepada para ibu tentang kehamilannya dan bagi yang mengantar anak balitanya dianjurkan untuk memelihara gizi dan kegiatan yang merangsang tumbuh kembang anaknya.

Gagasan peringatan Hari Ibu dengan perhatian khusus untuk Ibu Hamil dan Anak Balita yang cemerlang itu mucul sekitar tahun 1983 dengan diresmikannya Posyandu sebagai kerja sama antara Departemen Kesehatan dan BKKBN guna memperingati dan sekaligus mendorong penurunan angka kematian ibu hamil lebih rendah lagi.

Pada waktu itu angka kematian karena melahirkan telah berhasil diturunkan dari sekitar 700 per 100.000 kelahiran pada tahun 1970-an menjadi sekitar 220 per 100.000 kelahiran pada akhir tahun itu. Angka itu ingin diruntunkan lagi, tetapi pada akhir-akhir ini malah naik menjadi sekitar 259 per 100.000 kelahiran yang seharusnya diturunkan menjadi sekitar 100 kematian per 100.000 kelahiran.

Di beberapa negara peringatan Hari Ibu juga bervariasi. Disimak dari situs internet dapat kita lihat beberapa variasi Hari Ibu yang menarik. Di Jerman pada waktu menghadapi revolusi industri, kaum ibu bekerja di luar rumah, tingkat kelahiran turun drastis. Karena itu beberapa kalangan merangsang Hari Ibu pada sekitar tahun 1920-an, 1923 dan 1925 guna merangsang kenaikan angka kelahiran di negara itu.

Hari Ibu dibahas agar para Ibu Pekerja diliburkan untuk mendorong kenaikan angka kelahiran. Hari libur pada Hari Ibu diadakan sebagai rangsangan agar para ibu kembali ke jati dirinya sebagai ibu untuk melahirkan anak lebih banyak. Tetapi hari libur ini mendapat tentangan dari beberapa kalangan karena dianggap membatasi hak persamaan kaum wanita untuk bekerja.

Namun pada jaman Nazi tahun 1933 – 1945 Hari Libur itu dinyatakan sebagai hari libur resmi, biarpun ada kalangan menentangnya dan memberikan subsidi kepada keluarga bukan karena jumlah anaknya tetapi karena keadaan ekonomi keluarganya. Pada tahun 1938 penghargaan diberikan kepada keluarga yang memiliki banyak anak. Di Kanada seperti juga di Amerika, Hari Ibu diperingati lebih awal pada bulan Mei sebagai Hari Libur yang biasanya ditandai dengan pemberian hadiah untuk para Ibu, nenek atau anggota ibu-ibu dalam suatu keluarga.

Upacara kecil itu biasanya meriah karena kaum ibu di nomor satukan dalam acara bersama yang meriah dengan pemberian bunga dan hadiah lainnya. Seperti juga di Amerika dan Kanada, di Finlandia Hari Ibu biasanya diperingati pada minggu kedua bulan Mei dan masyarakat diliburkan biarpun peringatan itu diselenggarakan oleh setiap keluarga dengan pertemuan keluarga, dan anak-anak dewasa yang biasanya pisah dengan orang tuanya mengunjungi orang tuanya, khususnya ibunya, dengan membawakan bunga Ros serta berkunjung santai makan kue bersama dan minum teh.

Di Cina Hari Ibu lebih dianjurkan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, bukan masalah keluarga individual, seperti salah salah satunya Anggota Partai Komunis Li Hangqiu dipergunakan memperingati Ibu Meng Mu, ibunya Meng Zi. Ibu Meng Mu memiliki organisasi non pemerintah mempromosikan Festival Masyarakat Ibu Cina yang didukung oleh 100 intelektual memberikan pencerahan tentang masalah etik. Peringatan yang biasa ditandai dengan pemberian hadiah model masyarakat Batat diganti dengan acara menanam bunga Lily oleh Ibu-ibu Cina sebagai tanda resmi apabila anak-anak menginggalkan rumahnya.

Akhir tahun ini, Desember 2017, Kerta Wredatama, anggota pensiunan wanita dari PWRI seluruhnya memiliki anggota pensiunan pegawai negeri dan pegawai BUMN laki perempuan tidak kurang dari 5.000.000 orang dan tersebar di seluruh Indonesia, menyelenggarakan acara Gebyar peringatan Hari Ibu 2017 yang unik.

Acara ini memberi aba-aba bahwa anggota pensiunan pegawai negeri dan pegawai BUMN sesungguhnya masih merupakan warga yang sangat aktif dan bisa menjadi kekuatan pembangunan yang potensial. Acara yang digelar tanggal 20 Desember di halaman Kantor PB PWRI di Pondok Labu, Jakarta Selatan akan menyajikan dagangan aneka barang yang dijual dengan harga pantas. Barang yang dijual bukan hanya produksi dari para pensiunan tetapi juga produk dari anggota Posdaya binaan dari lingkungan masyarakat di sekitar Jakarta dan daerah lainnya, termasuk dari Bandung.

Posdaya bisa merupakan embryo dari BUMDes yang sekarang mulai dikembangkan di desa-desa. Posdaya yang berhasil bisa menjadi cikal bakal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kalau bergabung bersama bisa menjadi Prukades atau Produk Unggulan Kawasan Perdesaan, yang menampung usaha ekonomi skala besar di desa. Produk yang dipamerkan siap dijual kepada publik dan para peminat bisa menjadi langganan produsennya secara tetap.

Penulis : Prof. Haryono Suyono, Ketua Umum PB PWRI

Baca juga : 

  1. Merayakan Hari Ibu Saja Belum Cukup
  2. Sosok Seorang Ibu Bagi Menkeu Sri Mulyani
  3. Sang Nenek Jadi Inspirator, Anies Ingatkan Perempuan Zaman Now

Comments

comments