Michael Gorbachev: Dunia Terlihat Seperti Sedang Bersiap Untuk Perang

Mantan penguasa Uni Sovyet, Michael Gorbachev, menyatakan pendapatnya. Ia mengatakan dunia terlihat seperti dalam persiapan perang (Foto: rt.com)

@Rayapos | Moskow: Mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, menuliskan kecemasannya bahwa saat ini dunia seolah-olah sedang bersiap perang menyusul militerisasi politik dan perlombaan teknologi senjata.

Dia berperan sangat besar atas perubahan dan demokratisasi di dunia, terkhusus saat tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur dirobohkan.
Saat itulah “Angin Perubahan” ditiupkan dan band Scorpion menggubah lagu yang fenomenal, Wind of Change.
Arus perubahan ini lalu menjalar ke seluruh dunia saat itu. Uni Soviet kemudian berubah menjadi Republik Federasi Rusia.

“Lebih banyak tentara, tank dan kendaraan lapis baja pengangkut personel yang diangkut ke Eropa. NATO dan pasukan Rusia serta senjata yang digunakan berjarak kini ditempatkan berdekatan satu sama lain, seolah-olah siap menembak target,” tulis Gorbachev, di majalah TIME, Jumat.

Gorbachev mengkritik negara-negara yang meningkatkan anggaran belanja militer, di sisi lain negara-negara tersebut masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Uang dengan mudahnya dicari demi senjata canggih berkekuatan penghacur yang sebanding dengan senjata pemusnah massal, untuk kapal selam yang satu tembakan meriamnya mampu menghancurkan setengah benua, untuk sistem pertahanan rudal yang mampu merusak stabilitas strategis,” lanjut pria 85 tahun itu.

Dalam situasi saat ini, menurut Gorbachev, politisi dan pemimpin militer kian agresif dengan doktrin pertahanan lebih berbahaya.

“Semuanya tampak seolah-olah dunia sedang mempersiapkan untuk perang,” tulisnya.
Gorbachev kemudian menceritakan pada paruh kedua tahun 1980-an, bersama dengan AS, mereka meluncurkan proses pengurangan senjata nuklir guna menurunkan ancaman nuklir.

Berdasarkan laporan Non-proliferation Treaty Review Conference, sebesar 80 persen senjata nuklir yang terakumulasi bertahun-tahun saat Perang Dingin di Rusia dan AS sudah dinonaktifkan dan dihancurkan. Namun tidak ada keamanan yang berkurang dan bahaya perang nuklir yang bermula akibat kegagalan teknis atau kecelakaan mampu ditekan.

“Hal ini dimungkinkan, atas segala kesadaran para pemimpin negara berkekuatan nuklir utama bahwa perang nuklir tidak dapat diterima,” lanjut Gorbachev.

November 1985, pada KTT pertama di Jenewa, para pemimpin Uni Soviet dan AS menyatakan: perang nuklir tidak bisa dimenangkan dan tidak boleh diperjuangkan. Kedua negara kami tidak akan mencari superioritas militer. Pernyataan itu disambut seluruh dunia dengan lega.

Gorbachev pun mengingat kembali pertemuan Politbiro pada 1986 di mana terjadi doktrin pertahanan yang membahas rancangan “Menanggapi serangan dengan segala cara yang ada”.

Anggota Politbiro berkeberatan dengan formula tersebut dan semua sepakat bahwa senjata nuklir harus digunakan demi satu tujuan: mencegah perang dan tujuan akhir dunia adalah menghapuskan senjata nuklir.

Keluar dari lingkaran setan

Hari ini ancaman nuklir tampak nyata. Keterkaitan antara kekuatan-kekuatan besar semakin memburuk selama beberapa tahun belakangan. Para advokat yang mendukung produksi senjata dan kompleks industri militer seolah cuci tangan.

“Kita harus keluar dari situasi ini. Kita perlu melanjutkan dialog politik yang bertujuan mencari keputusan bersama dan aksi bersama,” tulis Gorbachev.

Menurut dia, ada pandangan dialog fokus memerangi terorisme karena merupakan hal mendesak yang penting. Namun menjadikan dialog terorosme sebagai pokok hubungan antar-negara yang berujung kemitraan, tampaknya tidak cukup.

“Sekali lagi Fokusnya harus mencegah perang, menghentikan secara bertahap perlombaan senjata, dan mengurangi persediaan senjata. Tujuannya harus disepakati, tidak hanya pada tingkat senjata nuklir, tetapi juga pertahanan rudal dan stabilitas strategis,” lanjut dia.

Dalam dunia modern, perang harus dilarang karena tidak ada masalah global yang dapat diselesaikan dengan perang — kemiskinan, maupun lingkungan, migrasi, pertumbuhan penduduk, atau kekurangan sumber daya.

Langkah pertama

Gorbachev mendesak anggota Dewan Keamanan PBB sebagai badan yang memikul tanggung jawab utama perdamaian dan keamanan internasional untuk mengambil langkah awal.

“Secara khusus, saya mengusulkan pertemuan Dewan Keamanan di tingkat kepala negara untuk mengadopsi resolusi yang menyatakan perang nuklir tidak dapat diterima dan tidak perlu diperjuangkan,” tulisnya.

Gorbachev menilai inisiatif untuk menyatakan resolusi harusnya muncul dari pikiran Donald Trump dan Vladimir Putin sebagai presiden dua negara yang memegang lebih dari 90 persen persenjataan nuklir dunia.

“Presiden Franklin D Roosevelt pernah berkata bahwa salah satu kebebasan utama adalah bebas dari rasa takut,” tulis Gorbachev kemudian menambahkan bahwa membersihkan dunia dari rasa takut berarti membuat orang lebih bebas.

“Ini harus menjadi tujuan bersama. Banyak masalah yang lebih mudah diatasi. Sekarang waktunya memutuskan dan bertindak,” demikian Gorbachev.[ant]

Comments

comments