Ferin Diah Anjani (21) dan Kritiyan Ari Wibowo (30). Kolase: Rayapos / DWO

@Rayapos | Blora – Mencari cewek lewat media sosial. Diajak bertemu, langsung berhubungan seks di hotel. Setelah puas, cewek dibunuh, hartanya diambil. Mayat dibawa dengan mobil, lalu dibakar hidup-hidup di hutan.

Itulah yang dilakukan Kritiyan Ari Wibowo (30) terhadap Ferin Diah Anjani (21) pada Rabu (1/8/2018). Mayat Ferin yang gosong terbakar, baru dimakamkan di TPU Dadapsari, Sendangmulyo, Tembalang, Semarang, Selasa (7/8/2018) kemarin.

Kritiyan kini ditahan polisi. Dia mengakui semua kronologi pembunuhan tersebut. Dia mengakui, korban Ferin masih berontak ketika dibakar di hutan.

Deskripsinya: Tangan dan kaki Ferin terikat. Mulut tersumpal. Tubuhnya dibalut sprei hotel yang tebal. Diikat pula. Ketika bungkusan bergejolak di tanah hutan, disiram seliter bensin. Dibakar. Sekitar 30 detik bungkusan itu tak bergerak lagi. Api melahapnya sampai gosong.

Korban dibakar dalam kondisi hidup juga dikuatkan oleh hasil otopsi jenazah korban. “Ya, hasil otopsi Laboratorium Forensik Polda Jateng, begitu,” kata Kapolres Blora AKBP Saptono.

Dalam interogasi intensif di kantor polisi, Kritiyan jatuh mental. Dia akhirnya mengakui, bahwa cara itu pernah dia lakukan pada 2011. Modusnya sama persis. Korbannya juga wanita yang dia setubuhi dulu, sebelum dibunuh. Polisi yang terkejut, kini masih mendalami kasus tujuh tahun lalu yang tak terungkap itu.

Berita Terkait:  Ternyata Caddy Ferin Dibakar Hidup-hidup

Siapakah Kritiyan Ari Wibowo?

Kapolres Blora AKBP Saptono kepada wartawan menjelaskan, Kritiyan warga Kecamatan Kunduran, Blora, Jateng. Dia sarjana pariwisata lulusan universitas di Semarang.

Terakhir dia Manajer Front Office di sebuah hotel di Semarang. Itu sebabnya dia kos di sebuah rumah di Tlogosari Wetan, Pedurungan, Semarang.

Berikut Kronologisnya

Ini pengakuan Kritiyan kepada polisi: Bermula dari dia kenal Ferin di medis sosial. Mereka berkomunikasi intensif di situ. Keduanya saling tahu foto masing-masing. Mereka berpacaran di dunia maya.

Kemudian Kritiyan mengajak Ferin bertemu. Saat bertemu, Kritiyan membawa mobil Honda Jazz (menurut pengakuan Kritiyan, itu mobil pinjaman). Setelah ketemu, mereka check ini di sebuah hotel di Semarang. Mereka berhubungan seks di situ.

Usai berhubungan seks, Kritiyan memukul kepala Ferin dengan benda tumpul. Serangan mendadak. Polisi belum mengungkap detil proses pembunuhan. Tapi, setelah dipukul Ferin pingsan.

Berikutnya Kritiyan mengikat tangan, kaki, menyumpal mulut Ferin. Lantas, tubuh Ferin dibungkus dengan sprei tebal hotel. Lapis dua. Sprei dan selimut. Lantas bungkusan diikat kuat.

Bungkusan tubuh Ferin dibopong keluar kamar. Dimasukkan mobil Honda Jazz. Polisi belum menyebutkan hotel tempat pembunuhan. Terutama, jarak antara kamar dengan parkir mobil.

Namun, Kritiyan yang pegawai hotel (bukan hotel tempat pembunuhan) sudah paham seluk-beluk itu. Kejadian tersebut dini hari, Kamis (2/8/2018). Kecil kemungkinan ada pegawai hotel yang melihat Kritiyan membopong bungkusan besar.

Mobil meluncur ke arah Blora, desa kelahiran Kritiyan. Dia hafal kondisi jalan dan situasi di sekitar jalan tersebut. Mobil berhenti di jalan pinggiran hutan jati di Desa Sendangwates, Kecamatan Kenduran, Blora, Jateng.

Jarak antara Semarang ke Blora sekitar 120 kilometer. Honda Jazz dikemudikan Kritiyan bisa melaju sekitar 3 jam dari hotel ke lokasi hutan jati di Blora. Sebab, pada dini hari jalanan sepi.

Baca Juga:

Prostitusi Anak Dibawah Umur Terungkap di Apartemen Kalibata City, Tarifnya Segini

Hotman Paris Komentari Praperadilan Kasus Video Porno Luna Maya dan Cut Tari

Dua Perampok Berpistol Beraksi di Mini Market Palmerah, Pegawai Disekap

Tiba di pinggiran hutan, mobil Kritiyan berhenti. Dalam kondisi langit masih gelap dia menurunkan bungkusan dari mobil. Saat itulah dia tahu, bahwa Ferin masih hidup. Sebab, tubuh yang dibungkus itu ternyata berontak.

Kritiyan membopong bungkusan. Berjalan sedikit masuk hutan. Lantas membanting bungkusan ke tanah. Pemberontakan Ferin kian kencang. Tapi, Ferin tak berdaya, tanpa suara.

Skenario Kritiyan tetap dijalankan. Dia mengambil bungkusan bensin yang sudah disiapkan di mobil. Bensin disiramkan merata ke sekujur bungkusan. Dan, pemberontakan bungkusan semakin hebat.

Satu sulutan api. Bungkusan langsung menyala. Selimut rangkap sprei yang sudah berbensin, menyala berkobar-kobar. Suatu pemandangan sungguh dahsyat… Kelojotan… Ferin dalam proses sakaratul maut yang sangat sakit.

Sedangkan Kritiyan segera kembali ke mobilnya. Masuk ke mobil. Kabur.

Dalam pengakuan Kritiyan kepada polisi, modus yang sama pernah dia lakukan pada 2011. Cewek dirayu, diajak berhubungan seks, dibunuh, dibakar di hutan. Ketika itu ceweknya bermobil, dan mobilnya kemudian jadi milik Kritiyan.

Pembunuhan 2011 itu belum terungkap hingga kini. Maka, polisi sekarang melakukan penyelidikan intensif atas pengakuan Kritiyan ini. (*)