Aldi bersama rakitnya terombang-ambing 49 hari di laut. Foto: Kementerian Luar negeri RI

@Rayapos | Jakarta – Nama Aldi Novel Adilang (19) mendadak terkenal. Nelayan asal Minahasa Utara, Sulawesi Utara, itu bersama rakitnya terombang-ambing ombak di lautan selama 49 hari.

Dia selamat, setelah ditolong awak kapal berbendera Panama, MV Arpeggio yang kebetulan berpapasan di perairan Guam.

Lantas kapal yang membawa Aldi bersandar di pelabuhan Tokuyama, Jepang, 6 September 2018.

Dari sana pada 8 September 2018 dia diterbangkan oleh Konsulat Jenderal RI di Osaka ke Manado. Lanjut dipulangkan ke Minahasa Utara.

aldi

Kisah Aldi bersama rakitnya terombang-ambing di laut sudah tersebar. Bagai lagu “Nenek Moyangku, Seorang Pelaut” dia terkenal di Sulawesi Utara.

Titik awalnya, dia sebagai nelayan menjaga lampu di rompong (rumah rakit di laut). Titiknya di perairan Pulau Doi, Ternate. Sekitar 125 kilometer pesisir utara Manado.

Pada 14 juli 2018, seharusnya Aldi sudah menikmati hasil tangkapan di Pulau Doi. Tapi pukul 07.00 WITA pagi itu, angin selatan bertiup kencang. Aldi berada di rakit.

Angin menerpa rakit Aldi. Akibat terpaan ombak, tali rakit terputus.

Sejak itulah ‘petualangan’ dimulai. Rakit Aldi diterpa ombak, kian menjauh dari pantai.

Di rakit ada generator. Tabung gas. Lampu. Radio HT tenaga surya. Baju. Beras 3 kilogram. Rempah-rempah. Peralatan dapur. Dan, Alkitab. Ini semua bawaan Aldi saat bekerja.

Melalui komunikasi HT, kapal penangkap ikan dari Pangkalan Dua, mengetahui Aldi hanyut. Kapal berpenumpang beberapa orang, menunggu rakit Aldi.

Namun, ternyata rakit Aldi tak melewati titik dimana mereka menunggu. Aldi hanyut di laut lepas.

Bagaimana kisahnya? Wartawan Manado Post (Jawa Pos Grup) memuat kisahnya demikian:

Rumah Aldi di Desa Langsa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara didatangi. Rumahnya sederhana. Berbahan tripleks.

Aldi (kaos putih-hitam) bersama keluarganya. Foto: Manado Post
Aldi (kaos putih-hitam) bersama keluarganya. Foto: Manado Post

Wartawan berniat mewawancai Aldi. Tapi, kebetulan Aldi tidak di rumah.

“Aldi tidak ada di rumah. Dia pergi melaut lagi. Belum tahu juga mau balik kapan,” ungkap Alvian Adilang, 49, ayah Aldi saat ditemui Manado Post. Minggu (23/9/2018).

Tapi, Alvian menceritakan kisah anaknya ketika berjuang di tengah laut selama 49 hari.

Perjuangan itu diungkapkan panjang lebar oleh Aldi ke keluarganya, setelah dia dipulangkan dari Jepang ke Minahasa.

“Aldi jadi pencari ikan di tengah laut sejak dua tahun terakhir. Sejak dia masih berusia 17 tahun,” cerita Alvian.

Total, Aldi terombang-ambing di laut selama 49 hari. Semua bekalnya habis, sebelum dia ditolong awak kapal MV Arpeggio.

Untuk bertahan hidup, Aldi memakan ikan hasil tangkapan. Tidak peduli ikan yang dimakankan pun dalam kondisi mentah, yang penting bisa mendapatkan energi.

Lama-lama gas Elpiji habis. “Dia memotong kayu yang berada di rakit. Membakarnya. Lalu memasak. Tapi, lama-lama korek api pun habis. Sehingga terpaksa makan ikan mentah,” cerita Alvian.

Baca Juga:

Duel Persija – Persib Sejak 2005, Menghasilkan 95 Korban

Wara-wiri di Hollywood Sejak Kecil, Para Artis ini Tajir Melintir

Dipenjara 11 Tahun, Residivis Pembunuhan Berencana Jadi Tukang Todong

“Suatu ketika entah hari ke berapa, katanya dia sudah lemas dan kekurangan suplai air,” ceritanya.

Pada waktu stok air habis, Aldi berkreasi begini: Dia celupkan bajunya ke laut. lantas diperas, airnya diminum. Tentu, air laut yang asin.

Selanjutnya dia mendapatkan bisikan atau pendengaran, agar dia membuat tempat penampungan dari bulu (bambu) karena akan hujan.

“Setelah Aldi selesai membuat tempat penampungan, keesokan harinya itu memang benar turun hujan,” sebut Alvian menirukan cerita Aldi.

Selama Aldi menghilang, keluarga sangat ketakutan dan pasrah. Mereka menduga Aldi telah meninggal di laut.

Lantas kenapa Aldi bisa kembali ke tanah air, itu karena anugerah dari Tuhan. “Setiap hari dia berdoa dan baca firman Tuhan, karena di dalam rakit ada Alkitab,” tutur Alvian.

Kejadian aneh lainnya yang dialami Aldi yakni sebelum ditolong oleh nelayan lain di perairan Jepang.

Aldi melihat ada ikan besar sedang menuntunnya mengikuti arus. “Ikan tersebut katanya sangat besar. Aldi hanya melihat setengah badan ikan, besar dan panjang.”

Selain melihat ikan setengah badan, Aldi juga melihat ikan-ikan besar yang dekat dengan rakitnya. Tetapi tak sedekat ikan setengah badan yang menuntunnya mengikuti arus.

Sebagai nelayan, Aldi paham bahwa rakitnya hanya setitik kecil di tengah lautan. Ombak laut yang begitu besar, mempermainkan rakitnya naik-turun diterjang badai.

Karena khawatir rakitnya terlempar, selain menggunakan pemberat, Aldi menambahi pemberat lagi. Yakni, melubangi tabung gas yang sudah habis.

Tabung gas yang sudah berlubang, diikatkan di rakit, lalu ditenggelamkan. Dengan begitu, cukup menahan rakit agar tidak terlempar saat badai datang.

Di sisi lain Alvian mengeluhkan sikap bos tempat Aldi bekerja. Sebab ketika mengetahui anaknya hilang, Alvian sempat memberi tahu ke bosnya.

Ketika itu bosnya mengaku Aldi sudah di Filipina. “Tapi sebenarnya bos Aldi itu berbohong,” sebutnya.

Sementara Alvian bersama keluarga mendapat kabar pertama kali anaknya selamat yakni dari aparat Polsek Wori.

Ketika itu aparat polisi itu pun berupaya menghubungkan Alvian dengan anaknya lewat aplikasi Skype.

Setelah Aldi pulang, Alvian dan keluarga sangat trauma. Mereka tidak mau anaknya kembali ke laut.

“Saya bilang ke Aldi, kalau melaut harus bersama teman-teman dan tidak sendirian di rakit,” ayah empat orang anak tersebut.

Sebagaimana diketahui, selamatnya Aldi setelah mendapat Japan Coast Guard (JCG) mendapat laporan dari kapal berbendera Panama MV Arpeggio bahwa ada orang yang menumpangi rakit terdampar di perairan sekitar Guam.

Usai dievakuasi diketahui, nelayan itu orang berkewarganegaraan Indonesia. JCG pun berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka.

Pada Kamis (6/9/2018), menurut laporan JCG Aldi dibawa ke Tokuyama Jepang.

Aldi diperiksa tenaga medik Jepang. Foto: Kementerian Luar Negeri RI
Aldi diperiksa tenaga medik Jepang. Foto: Kementerian Luar Negeri RI

Selanjutnya KJRI berkomunikasi dengan kapten kapal MV Arpeggio. Komunikasi itu untuk menghubungi pihak keluarga.

“KJRI langsung minta bantuan Polresta Manado juga untuk menghubungi keluarga karena mereka kesulitan mendapatkan nomor kontak keluarga korban,” jelas Kapolresta Manado Kombes Pol FX Surya Kumara. (*)

Aldi saat pulang. Foto: kementerian Luar Negeri RI
Aldi saat pulang. Foto: kementerian Luar Negeri RI

Simak video penyelamatan Aldi oleh awak kapal MV Arpeggio, di sini: