Shinta dimakamkan di desanya, Desa Bandulan, Sukun, Malang, Jatim, Jumat (24/8/2018). Foto: RadarMalang

@Rayapos | Malang – Shinta dimakamkan di Sukun, Malang, Jawa Timur, Jumat (24/8/2018) kemarin. Mahasiswi kedokteran Jerman itu punya barang, yang kini jadi kenangan keluarga.

Ibunda Shinta, Umi Salamah, saat ditanya wartawan, mengatakan: “Barang-barang peninggalan Shinta akan dihibahkan. Tapi ada dua barang yang kami minta dikirim dari Jerman.”

Shinta Putri Dina Pertiwi (22) warga Desa bandulan, Sukun, Malang, Jatim. Dia sudah empat tahun kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Leipzig, Jerman.

Selama itu, dia belum pernah pulang ke Malang. Sebab, menurut Umi, Shinta berniat akan pulang, setelah meraih gelar dokter.

Simak videonya di sini:

Dilansir dari media massa Jerman, Neue Presse Coburg, demikian kisahnya:

Rabu (8/8/2018) pagi waktu Jerman, Shinta main dengan dua teman cewek. Berenang di Danau Trebgaster, Bavaria, Jerman.

Danau itu luasnya 68.000 meter persegi. Dalamnya sampai 50 meter. Lokasi tak jauh dari kampusnya.

Lewat tengah hari, Shinta tidak terlihat oleh teman-temannya. Dicari ke mana-mana. Sudut-sudut danau yang begitu luas.

Tidak ketemu. Waktu setempat menunjukkan pukul 13.30.

Teman-teman Shinta segera lapor polisi. Segera polisi menerjunkan tim penyelam. Tak kurang, 100 penyelam handal dikerahkan. Tidak ketemu.

Polisi sempat mewawancara ulang kepada dua teman Shinta. Kalau-kalau Shinta sudah pulang, meninggalkan danau. Tapi, teman-teman yakin, Shinta ada di danau.

Pencarian diintensifkan. Pencarian meluas dari titik yang diperkirakan sebagai lokasi akhir Shinta terlihat berenang. Tidak juga ketemu.

Esok pagi, Kamis (9/8/2018) pencarian diulangi. Dengan upaya lebih keras lagi.

Ternyata, tubuh Shinta ditemukan mengambang. Pada sekitar 30 meter dari titik akhir dia terlihat berenang. Waktu ditemukan sekitar pukul 16.00. Lebih 24 jam dari laporan hilang.

Pakaian renang Shinta masih utuh. Badannya juga utuh. Tapi sudah tewas.

Jenazah Shinta dibawa ke RS setempat. Dilakukan pemeriksaan. Dan, segala urusan administrasi yang rumit.

Jenazah kemudian dipulangkan ke Indonesia dalam peti. Tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta pada Kamis (23/8/2018). Persis dua pekan dari saat ditemukan.

Keluarga Shinta menjemputnya di Jakarta. Dari Jakarta jenazah diterbangkan ke Malang. Peti tidak dibuka.

Umi Salamah, ibunda Shinta, ingin memeluk anaknya untuk terakhir kali. Maklum, sudah empat tahun mereka berpisah.

Tapi, melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Umi tidak membuka peti jenazah.

Umi mengatakan: “Saya ikhlas, tidak melihatnya untuk terakhir kali. Keluarga sudah konsultasi kiai, dibolehkan dikubur dalam peti.”

Sebagai catatan, berdasarkan Islam, jenazah harus dimandikan. Dikafani. Dimakamkan tanpa peti. Tapi, ini terpaksa tidak bisa dilakukan. Karena kondisi. Keluarga ikhlas.

Semangkuk Spagheti Masih Utuh

Selama di Jerman, Shinta tinggal di sebuah apartemen di Leipzig. Tak jauh dari kampusnya.

Di apartemen itu juga teman akrabnya dari Indonesia, bernama Saras, tinggal. Mereka kuliah di kampus yang sama.

Selama proses pemulangan jenazah, Saras membantu berkomunikasi dengan keluarga Shinta di Malang. Prosesnya begitu rumit, sampai dua pekan.

Ada yang mengharukan. Yakni kondisi kamar Shinta di apartemen.

Umi selalu ingin tahu kondisi Shinta. Maka, Saras mengirimkan video-video kondisi kamar Shinta kepada Umi.

Umi membeberkan suasana terakhir kamar apartemen, sebelum Shinta tewas. Dia membeberkan sambil menangis.

“Saya menangis melihat video yang dikirim mbak Saras. Dia perlihatkan kamar apartemen Shinta,” kata Umi dengan mata berkaca-kaca.

Di situ terlihat barang-barang Shinta. Buku-buku, baju, sepatu, syal, alat musik, hingga barang elektronik.

Bahkan, sebuah mangkuk berisi spagheti. Utuh, belum dimakan.

Kata Saras kepada Umi, spagheti itu dibuat Shinta sebelum berenang. Beberapa menit, sebelum Shinta berangkat ke danau.

Umi mengatakan, Shinta suka makan spagheti. Dia menduga, spagheti itu dibuat Shinta untuk dimakan setelah pulang berenang.

“Mungkin karena setelah berenang akan merasa lapar. Jadi, sebelum berangkat, dia bikin spageti. Akan dimakan setelah pulang,” tuturnya dengan mata memerah.

Baca Juga:

Bisa Rusuh, Deklarasi Ganti Presiden di Surabaya, Minggu Besok

Panitia Ganti Presiden di Surabaya, Akui Bukan Khilafah

Dua Polisi Nyaris Tewas Ditembak di Tol Cipali

Barang Barang Shinta Dihibahkan

Kata Umi: “Mbak Saras mengusulkan, barang-barang Shinta yang kini masih di apartemen, sebaiknya disumbangkan. Saya setuju.”

Ada banyak pakaian, sepatu, tas, dan semua perlengkapan gadis Shinta. Juga aneka perlengkapan kuliah. Serta peralatan musik, kegemaran Shinta.

Umi mengatakan: “Kalau buku-buku akan disumbangkan ke Georgia. Karena di sana sedang membutuhkan buku-buku kedokteran.”

Sedangkan barang lainnya, Umi setuju usulan Saras, disumbangkan ke pengungsi Suriah. “Barsng seperti baju-baju, sepatu, alat musik Shinta dihibahkan ke pengungsi Suriah,” tambahnya.

Topi dan syal Shinta
Topi dan syal Shinta

Dua Barang Ini Jadi Kenangan

Umi meminta Saras mengirimkan semua barang Shinta untuk disumbangkan ke semua itu. Saras membantu menyalurkannya.

Namun, Umi minta dua barang Shinta dikirimkan kepadanya di Malang.

Barang apakah itu? “Syal dan topi. Itu sering dipakai Shinta ke mana-mana,” kata Umi, berlinang airmata.

Sebab, dua barang itu hasil rajutan. Karya Shinta sendiri. Semasa hidupnya, dia bangga menghasilkan rajutan itu. Sehingga ke mana-mana topi dan syal dia pakai.

“Saya minta topi dan syal dikirim ke saya. Sebagai tombo kangen (pelepas rindu),” tutup Umi. (*)

BAGIKAN