Nh Dini. Foto: Youtube

@Rayapos | Jakarta – Novelis kenamaan Nh Dini (nama lengkap Sri Hardini) akan dikremasi di Kedungmundo, Semarang, Rabu (5/12/2018) hari ini.

Dia meninggal dalam usia 82 tahun. Akibat kecelakaan di jalan tol KM 10 Semarang, Selasa (4/12/2018) siang.

Saat itu ada truk Nopol AD-1536-JU terkendala mesin. Truk yang seharusnya melaju searah dengan mobil Avanza H-1362-GG yang ditumpangi Nh Dini, ternyata mundur. Akibatnya sangat fatal.

Dia sempat dilarikan ke RS Elisabeth, Semarang. Namun meninggal hari itu juga pukul 16.00 akibat gegar otak.

Dunia sastra Indonesia tentu berduka. Nh Dini novelis peraih penghargaan internasional SEA Write Award. Karya novelnya lebih dari 20 buku. Sebagian besar novelnya bercerita tentang perempuan.

“Saat ini jenazah disemayamkan di Wisma Lansia Harapan Asri, Semarang. Bsk stlh pukul 12.00 WIB akan dikremasi di pemakaman Kedungmundu Semarang,” tulis pesan yang beredar di kalangan kerabat Nh Dini.

Nh Dini ibunda dari Pierre Louis Padang Coffin, kreator film ‘Despicable Me’. Film itu mempopulerkan tokoh lucu Minions. Pierre kini masih di Prancis.

Anak keduanya, Marie Claire Lintang tinggal di Kanada. Namun, kebetulan kini dia sedang ada urusan di Bandung. Sehingga dia langsung ke Semarang, kemarin sore menjenguk ibunya.

NH Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Dia menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin di Jepang pada 1956.

Setelah menikah, Nh Dini mulai menulis novel. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak: Pierre Louis Padang Coffin (51) dan Marie Claire Lintang Coffin (48).

Sebagai istri diplomat, Nh Dini harus mengikuti tempat tinggal suaminya. Dari Jepang, pindah ke Kamboja, Prancis, Filipina sampai Amerika Serikat.

Namun, pernikahan Yves Coffin – Nh Dini kandas. Mereka berpisah pada 1984.

Puncak Karir ‘Pada Sebuah Kapal’

Nh Dini sukses menerbitkan lebih dari 20 karya yang dikenal sampai sekarang. Lewat novel ‘Pada Sebuah Kapal’, namanya melejit dan sukses sebagai seorang novelis kenamaan.

Novel ‘Pada Sebuah’ terbit pertama pada 1973 oleh Dunia Pustaka Jaya. Karya tersebut tiga kali dicetak ulang dan baru di tahun 1985 Gramedia Pustaka Utama (GPU) mengambil alih penerbitan Nh Dini.

Menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia, baru pada 1990 ‘Pada Sebuah Kapal’ dicetak ulang lagi oleh GPU. Jadi best seller.

Novel 'Pada Sebuah Kapal'. Foto: Gramedia
Novel ‘Pada Sebuah Kapal’. Foto: Gramedia

Editor GPU yang pernah menyunting seri ‘Kenangan’ NH Dini, Widia Kirana ketika, kepada wartawan mengatakan:

“Novel itu memang yang menjadi puncaknya Nh Dini. Saya sebagai pembaca karya sastra merasa ‘Pada Sebuah Kapal’ dan ‘La Barka’ paling bagus. Juga, ‘Hati yang Damai’.”

Sebelum Widia, ada penyunting lainnya yang mengurusi karya-karya Nh Dini.

“Di akhir-akhir itu saya menyunting karya terutama seri ‘Kenangan’, tapi sesudah itu saya tidak mengurusi lagi,” pungkasnya.

Sejak terbitnya novel ‘Pada Sebuah Kapal’, berbagai pihak merespons positif.

Sastrawan H.B. Jassin menuliskan tokoh Sri dalam novel itu demikian: “Sri telah menemukan eksistensi dirinya sebagai orang yang merdeka, berkehendak dan bertindak.”

Putera Sulung Kreator Film

Putera sulungnya, Pierre, mewarisi bakat Nh Dini. Pierre dan keluarganya tinggal di Prancis. Sibuk dengan proyek-proyeknya bersama industri perfilman Hollywood.

Pierre awalnya adalah seorang animator lepas di Studio CGI Prancis, Ex Machina. Ia dan Chris Renaud pun berkolaborasi dalam proyek film ‘Despicable Me’ di tahun 2010 pesanan Universal Studios.

Setelah itu keduanya menjadi sutradara ‘Despicable Me 2’ pada 2013. Pierre Coffin dan Kyle Bada pun menyutradarai film ‘Minions’ (2015).

Sejak film ‘Despicable Me’ di tahun 2010 hadir di layar bioskop, nama Pierre Coffin muncul ke permukaan. Namanya kerap disandingkan dengan kiprah Nh Dini yang merupakan novelis ‘Pada Sebuah Kapal’.

Sebagai kreator Minions, Pierre menggabungkan bahasa yang digunakan ciptaannya, yang berasal dari gabungan Spanyol, Prancis maupun Indonesia.

Saat bahasa Indonesia terdengar dalam film tersebut, publik Tanah Air pun turut kegirangan mendengarnya.

Pemberitaan mengenai Pierre Coffin pun ramai dikaitkan dengan Nh Dini. Dalam film, ada tiga momen yang menggunakan bahasa Indonesia.

Yang paling terkenal adalah ketika Ratu Elizabeth II memberi hadiah tiga minion jagoan usai berhasil menyelamatkan Kerajaan Inggris. Di situ, salah seorang minion mengucapkan kata ‘terima kasih’.

Baca Juga:

6 Manfaat Kopi Bagi Kecantikan, Tapi Bukan Diseduh Lho..

Diisukan Curi Hati Reino Barack, Syahrini Naik Pelaminan Desember Ini?

JPO Tosari Jakarta Pusat Bakal Dibongkar, Ini Gantinya..

Wanita Mandiri Hidup di Panti

Hebatnya, Nh Dini orang yang sangat mandiri. Berkali-kali anak-anaknya mengajak tinggal di luar negeri. Namun ditolak. Dia pilih hidup mandiri.

Di masa tuanya Nh Dini meninggalkan aset-asetnya berupa rumah dan tanah. Lantas, dia pilih tinggal di Wisma Lansia (Panti Jompo). Karena di situ banyak orang seusianya berkumpul.

Cucu keponakan Nh Dini, Aisa R Jusmar, mengatakan, Nh Dini sosok yang mandiri. Tidak ingin merepotkan orang lain.

Sudah lama novelis itu berada di Wisma Lansia. Mulai dari Yogyakarta, Kabupaten Semarang, dan terakhir di Kota Semarang.

“Pertama kali di wisma kapan saya lupa, sudah lama sekali. Beliau memang tidak mau merepotkan keluarga,” kata Aisa di persemayaman, Rabu (5/13/2018).

Aisa mengatakan dua anak Nh Dini, Marie Claire Lintang yang tinggal di Kanada dan Pierre Louis Padang Coffin yang tinggal di Prancis.

Anak-anak Nh Dini sudah pernah mengajak tinggal di luar negeri namun, Nh Dini tidak berkenan.

“Sudah pernah diajak tinggal di sana, tapi beliau lebih cinta di Indonesia dan memilih di sini,” ujarnya.

Kerabat lainnya, Paulus mengatakan hal senada, Nh Dini memang dikenal tidak mau merepotkan orang sehingga asetnya dijual dan memilih tinggal di Wisma Lansia.

“Prinsip beliau bukan orang yang suka ngrepotin orang di masa tuanya, nggak pernah ngrepotin, dia memilih menjual asetnya untuk tinggal di panti jompo,” kata Paulus.

Saat ini pihak keluarga masih menunggu kedatangan putri Nh Dini, Lintang yang kebetulan sedang tugas di Bandung. Sedangkan putranya yang berada di Prancis belum terkonfirmasi akan datang hari ini.

Suasana Khidmat mewarnai doa di Wisma Lansia Harapan Asri, Semarang, untuk mengantarkan kepergian Nh Dini yang disemayamkan di sana.

Sudah 4 tahun Nh Dini tinggal di wisma yang berada di Banyumanik Semarang itu. (*)

Jenazah Nh Dini disemayamkan di Wisma Lansia Banyumanik, Semarang. Foto: Radar Solo
Jenazah Nh Dini disemayamkan di Wisma Lansia Banyumanik, Semarang. Foto: Radar Solo
BAGIKAN