Presiden Joko Widodo

@Rayapos | Jakarta – Beredar aduan seseorang yang menuduh guru di SMA Negeri 87 Jakarta mendoktrin siswanya untuk membenci Presiden Joko Widodo (Jokowi). Si pengadu diduga salah satu orang tua murid SMAN 87.

“Saya prihatin dengan SMA di Jaksel saat ini. Guru agamanya mendoktrin anakanak dengan memfitnah Jokowi. Saya berusaha lapor ke Diknas, tetapi telepon saya tidak diangkat,” tulis keluhan orang tua siswa tersebut, sebagaimana pesan yang beredar.

Disebutkan, guru SMA 87 Jakarta tersebut setiap Jumat mendoktrin anak-anaknya untuk tidak pilih Jokowi dan membenci mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Terbaru:

Guru SMAN 87 Tulis Surat Maaf Khusus ke Jokowi, Begini Isinya

Dalam aduan yang viral tersebut, si pengadu yang mengaku orang tua murid menyebut anaknya dan siswa SMAN 87 lainnya dikumpulkan guru N di masjid dan ditunjukkan video gempa di Palu, Sulawesi Tengah.

Si pengadu menjelaskan, guru N menyebut banyak korban yang bergelimpangan akibat gempa merupakan salah Jokowi.

“Dikasih video tentang korban Palu yang jenazahnya bergelimpangan di depan rumah sakit. Kemudian ibu guru itu bertanya kepada murid-muridnya, ini salah siapa? Salah pemerintah. Salah Jokowi. Masih mau pilih dia untuk presiden ke depan? Saya menggiring kalian pilih yang lain,” bunyi pesan orang tua tersebut.

Guru N itu, kini telah diperiksa oleh pihak SMAN 87 Jakarta.

Kepala Sekolah SMAN 87 Jakarta, Patra Patriah, mengungkapkan, pembinaan terhadap guru tersebut dilakukan. “Disaksikan oleh 3 wakil kepsek dan ka-TU,” ujar Patriah kepada wartawan, Rabu (10/10/2018).

Baca juga:

Rahasia Kecepatan Sapto: Bayangkan Dikejar Anjing

Pasutri Terekam Digerebek sedang Pesta Seks Swinger di Hotel, Ini Videonya

Hasil dari pembinaan tersebut, kata Patriah, guru N sudah meminta maaf atas perbuatannya. Permintaan maaf tersebut dituliskan di atas kertas yang sudah ditandatangani.

“Guru tersebut minta maaf atas kekeliruannya dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Beliau juga membuat pernyataan di atas kertas yang ditandatangani,” jelas Patriah.

BAGIKAN