Kim Jong-Un (Dok. KCNA via REUTERS)

@Rayapos | Seoul – Tentara Korea Utara (Korut) yang membelot ke Korea Selatan (Korsel) tahun lalu diketahui ternyata anak seorang jenderal di Korut. Dia menyebut kebanyakan warga Korut yang sebaya dengannya tidak memiliki kesetiaan pada pemimpin Korut, Kim Jong-Un.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/11/2018), tentara Korut yang disebut bernama Oh Chong Song menjadi pemberitaan global saat melarikan diri secara dramatis dari wilayah Korut, tahun lalu. Saat itu Oh nekat menerobos perbatasan Korut-Korsel, tepatnya menerobos Zona Demiliterisasi yang ada di desa gencatan senjata Panmunjom, di bawah tembakan dari tentara Korut lainnya yang berusaha mencegahnya.

Oh yang terkena tembakan dan terkapar di Zona Demiliterisasi berhasil diselamatkan tentara Korsel dalam misi menegangkan. Setelah itu dia dirawat di rumah sakit karena mengalami luka serius. Tergolong sangat langka bagi tentara Korut untuk membelot di wilayah Panmunjom, yang selama ini dikenal sebagai daya tarik wisata dan satu-satunya lokasi di perbatasan Korut-Korsel di mana tentara kedua negara bisa berhadapan langsung.

Pekan ini, laporan surat kabar Jepang, Sankei Shimbun, menyebut bahwa Oh yang berusia 25 tahun itu merupakan anak seorang Mayor Jenderal di Korut. Hal itu disampaikan sendiri oleh Oh yang untuk pertama kalinya melakukan wawancara dengan media. Dalam wawancara itu, Oh menyebut dirinya sebagai ‘golongan atas’ di Korut. Namun demikian, Oh menyebut dirinya tidak memiliki kesetiaan pada pemimpin Korut.

“Di dalam Korut, orang-orang dan khususnya generasi yang lebih muda acuh tak acuh satu sama lain, pada politik dan pemimpin mereka, dan tidak ada loyalitas,” sebut Oh dalam wawancara itu.

Oh sendiri menyebut dirinya ‘acuh tak acuh’ pada kepemimpinan Kim Jong-Un dan tidak tertarik untuk mengetahui pandangan teman-temannya.

“Mungkin 80 persen generasi saya acuh tak acuh dan tidak punya loyalitas,” ujarnya. “Wajar untuk tidak memiliki ketertarikan atau kesetiaan karena sistem turun-temurun dianggap sebagai sesuatu yang diberikan, terlepas dari ketidakmampuan untuk memberi makan rakyat,” imbuh Oh.

Dalam wawancara itu, Oh juga membantah laporan media-media Korsel yang menyebut dirinya membelot karena diburu atas kasus pembunuhan di Korut.

Dituturkan Oh bahwa aksi pembelotan itu berawal saat dirinya minum-minum karena memiliki masalah dengan teman-temannya. Dalam perjalanan kembali ke pos, Oh melanggar titik pemeriksaan dan akhirnya terus melaju karena khawatir dieksekusi mati. “Saya takut saya bisa dieksekusi mati jika saya kembali jadi saya melintasi perbatasan,” ucap Oh, sembari menyatakan dirinya tak menyesal telah membelot dari Korut.

Soal tentara-tentara Korut lain yang menembaki dirinya saat dia berusaha membelot, Oh mengaku dirinya bisa memahami mereka. “Jika mereka tidak menembak, mereka akan menghadapi hukuman berat. Jadi jika saya menjadi mereka, saya akan melakukan hal yang sama,” ucapnya.

Sankei Shimbun menyebut sejumlah pejabat intelijen Jepang telah mengonfirmasi identitas Oh. Potongan video yang diunggah ke situs Sankei Shimbun menunjukkan sosok Oh yang memakai jaket hitam dan atasan putih dengan wajah disamarkan dan berbicara dengan sedikit aksen Korut.

BAGIKAN