ilustrasi

@Rayapos | Jakarta – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan, kondisi alutsista TNI AU saat ini masih belum mampu mendukung operasi TNI melindungi dari ancaman nyata, ancaman potensial, maupun ancaman hibrida.

“Namun dengan perencanaan pembangunan kekuatan TNI AU yang baik, tentunya secara bertahap akan memenuhi target Minimum Essential Force,” kata Panglima saat sertijab KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna, di Halim Perdanakusuma Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Hadi berpesan kepada Yuyu, pemenuhan alutista dalam rencana strategis (renstra) TNI AU menjadi salah satu tugas utama KSAU yang baru.

Baca juga: Tak Punya Bukti, Paus Fransiskus Bela Uskup Chile Soal Kasus Pedofilia

“Untuk alutista telah dibuat dalam bentuk roadmap. Nanti renstra kedua yakni tahun 2014 hingga 2019 sudah saya serahkan pada Marsekal Yuyu Sutisna,” ucap Hadi.

Dalam renstra itu, TNI AU akan mendatangkan pesawat pengganti F-5 Tiger, yang telah digunakan sejak tahun 1978.

“Kita masih menunggu kedatangan pesawat pengganti F-5 Tiger yang sudah setahun ini penerbang kami tidak terbang lagi dengan pesawat tersebut,” papar Hadi.

Baca juga: Kapolri Resmikan Gedung Promoter di Polda Metro Jaya

Selain pesawat pemburu F-5 Tiger, Panglima TNI juga membutuhkan pengganti pesawat angkut C-130 Hercules. Hercules ini sudah lama menjadi tulang punggung armada angkut TNI AU.

“Kita akan ganti Hercules dengan yang baru. Tipenya sama, Hercules, hanya kita upgrade ke versi J-nya,” kata Hadi.

Baca juga: Peter Schaller Buta Dengan Kekuatan Borneo FC

Hadi menambahkan, TNI AU juga perlu radar dalam mengawal wilayah udara NKRI. “Saat ini yang eksis ada 20. Dalam renstra kedua dan ketiga kita butuh 12 radar lagi skalanya nanti 6-6 atau 4-4-4. Nanti akan dihitung oleh KSAU,” pungkasnya.

BAGIKAN