Pelajaran dari Pembunuhan Sekeluarga Bekasi

Tersangka Haris Simamora. Air susu dibalas air tuba. Foto: JPNN

@Rayapos | Jakarta – Pembunuhan di Bekasi menghebohkan. Bagaimana mungkin, tersangka Haris Simamora membunuh Tulang (paman), bibi, dan dua saudara sepupu. Setan apa yang merasukinya?

Seperti diberitakan Rayapos, Haris sudah ditetapkan polisi sebagai tersangka pembunuhan sekeluarga di Bekasi. Korbannya:

Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita (37), Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7).

Posisi Haris dalam keluarga Daperum adalah keponakan Maya. Berarti Haris memanggil Maya sebagai Inang. Dan, anak-anak Maya yang dibunuh Haris memanggil Tulang.

Tapi, dalam keseharian, Sarah Boru Nainggolan dan Arya Nainggolan memanggil Haris sebagai Om.

Ini menggambarkan, betapa sangat dekat kekerabatan antara pelaku dengan korban sekeluarga. Lantas, mengapa pembunuhan bisa terjadi?

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, kepada wartawan menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, diketahui Haris mengaku, membunuh sekeluarga Daperum karena dendam.

Kronologisnya demikian:

Pada 2014 Haris ikut menumpang di rumah keluarga Daperum. Karena dia pengangguran, maka disuruh mengurus toko milik keluarga Daperum yang sekaligus jadi tempat tinggal.

Jadi, Haris tinggal serumah dengan keluarga Daperum. Tugasnya menjaga toko. Mengirim dan membeli aneka barang dagangan. Untuk itu, Daperum punya mobil angkutan pengiriman barang.

Haris juga dipercaya mengelola tempat kos. Lokasi tempat kos juga di lingkungan rumah keluarga Daperum.

Itu berlangsung hampir setahun. Pada 2015, belum diketahui penyebabnya, Daperum mengambil-alih semua tugas Haris.

Beberapa waktu kemudian, Haris tidak lagi tinggal serumah dengan keluarga Daperum. Dia keluar, entah tinggal di mana. Tapi, masih sering berkunjung ke sana.

Kepada polisi, Haris mengaku, dia nekat membunuh keluarga Diperum lantaran kerap diperlakukan kasar.

“Tersangka ini mengaku sering dihina, kadang-kadang kalau di situ (di kediaman Diperum) dibangunkan dengan kaki,” ujar Argo.

Disebutkan, meski mengaku kerap diperlakukan kasar, Haris sering mengunjungi kediaman Diperum.

“Hampir tiap bulan mereka ketemu. Namanya saudara sepupu. Kemarin tersangka ini ditelepon korban, disilakan datang ke rumah karena mau belanja untuk beli baju untuk Natalan,” tutur Argo.

Maksudnya, pada Senin (12/11/2018) siang, Haris ditelepon Daperum. Diminta datang ke rumah. Menjelang Natalan. Daperum menjanjikan, Haris akan dibelikan baju Natal. Ini tradisi tahunan mereka.

Haris datang pada malamnya, sekitar pukul 21.00. Dengan niat, membunuh Daperum. Niat itu dilaksanakan sekitar pukul 23.00 di hari itu juga. Ibarat air susu dibalas air tuba.

Melihat Linggis, Muncul Inspirasi

Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat mengatakan, Haris mendapatkan linggis dari brankas rumah korban untuk melakukan pembunuhan.

“Adapun modus operandi pelaku yang berinisial HS yaitu pelaku melakukan pembunuhan dengan linggis. Di mana linggis tersebut didapat dari brankas yang ada di rumah korban,” tuturnya.

Dilanjut: “Linggis itu bisa langsung terlihat jika orang memasuki rumah tersebut,” ujar Wahyu. Inilah inspirasi Haris mewujudkan niatnya, membunuh Daperum.

Wahyu mengatakan, Haris tiba di rumah korban pada Senin (12/11/2018) sekitar pukul 21.00.

Haris kemudian membunuh Diperum dan istrinya sekitar pukul 23.00 saat keduanya tengah tertidur di ruang tamu.

Pelaku Tunggal (Sementara)

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, Haris membunuh keluarga Diperum seorang diri.

Meski demikian, polisi masih melakukan pengembangan untuk memastikan ada tidaknya tersangka lain dalam kasus ini.

“Nanti kami masih pengembangan ke (tersangka) yang lain,” ujar Argo.

Haris dikenal sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi dengan warga sekitar.

Hal itu disampaikan Mastaufik, satpam salah satu sekolah di dekat rumah korban, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Sebelum keluarga almarhum, Haris dulu yang mengelola kontrakan sama toko juga, itu kira-kira dua tahun lalu. Kesehariannya (Haris) tidak kayak almarhum, dia (Haris) selalu di dalam. Sosialisasinya kurang,” kata Mastaufik.

Mastaufik menambahkan, keseharian Haris berbeda dengan korban yang dikenal bersahabat dan akrab dengan warga sekitar.

Korban kerap menyapa dan mengajak ngobrol pembeli di warungnya.

“(Haris) paling menyapa kalau sekadar saja. Kalau korban baik banget, seru, asyik orangnya. Saya kan suka beli juga di warung itu saat dijaga Haris. Habis beli begitu saja sudah, kurang basa-basi orangnya,” ujar Mastaufik.

Proses Penangkapan Haris

Argo menuturkan, Haris diamankan di Garut, Jawa Barat.

Haris merupakan orang yang membawa mobil Nissan X-Trail milik korban dan ditemukan di garasi sebuah indekos di daerah Cikarang, Jawa Barat.

Argo mengatakan, Haris diamankan di sebuah saung atau rumah peristirahatan para pendaki.

“Sampai di Garut kami dapatkan HS ada di di kaki Gunung Guntur. Di sana dia berada di saung atau rumah katanya akan mendaki gunung. Setelah kami geledah tasnya, ada kunci mobil merek Nissan dan HP dan uang Rp 4 juta,” kata Argo.

Baca Juga:

TERBARU… CIA: Putra Mahkota Saudi Perintahkan Bunuh Khashoggi

Akunnya Dibanned, Habib Bahar Ancam Geruduk Kantor Instagram

Begini… Pengakuan Pembunuh Sekeluarga Bekasi

Pasal 340 KUHP, Hukuman Mati

Brigjen Wahyu mengatakan, Haris terancam hukuman mati.

“Tindak pidana yang terjadi yaitu pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian, di mana pasal yang diterapkan adalah Pasal 365 Ayat 3, kemudian 340 dan 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati,” ujar Wahyu.

Ia mengatakan, pembunuhan ini telah direncanakan HS beberapa hari sebelum kejadian.

Haris membunuh Diperum dan istrinya dengan senjata tajam. Sementara itu, kedua anak Diperum dibekap hingga tewas.

“Kemudian yang bersangkutan juga mengambil barang korban seperti ponsel dan mobil X-Trail,” kata dia.

Beginilah proses lengkap terjadinya pembunuhan. Ada sebab, terjadi akibat. Dan, tak kalah penting adalah karakter individu dalam memproses suatu peristiwa. Sebab sebab.

Bagi individu tertentu, suatu kejadian yang terkait dirinya, bisa menimbulkan emosi yang mengendap. Disebut dendam. Tapi, pada individu lain, itu bukan sebab yang menimbulkan dendam.

Dari sisi Daperum, tentu tidak disadari, bahwa sikap kekeluargaan: Menasihati agar Haris jadi orang berguna, justru menimbulkan petaka. Karena, disampaikan secara vulgar: “Kamu orang tak berguna.”

Daperum tidak menyadari, bahwa nasihat buat keponakannya ini justru menimbulkan petaka dahsyat. Bukan hanya bagi dirinya, tapi sekaligus seluruh keluarga kecilnya.

Dari kronologi di atas, sangat jelas, bahwa Daperum menyayangi Haris. Terbukti, dia akan membelikan baju Natal buat Haris. Ini wujud rasa sayang.

Semoga peristiwa tragis ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua. (*)

BAGIKAN