Herdi terkapar di lokasi penembakan, sekitar 10 menit setelah kejadian. Foto: Warga Jelambar

@Rayapos | Jakarta – Penembak mati Herdi (45) bergerak sangat cepat. Penembakan yang terjadi di Jalan Jelambar, Penjaringan, Jakarta Utara, itu berlangsung hanya dalam lima detik. Dua tembakan dilepas pelaku, kena kepala korban, dan roboh langsung tewas.

Peristiwa itu terjadi tepatnya di Jalan Jelambar Aladin RT 03/06, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjarngan, Jakarta Utara. Itu wilayah padat penduduk. Persisnya di jalan gang selebar tiga meter. Di kiri-kanan jalan, rumah penduduk rapat berhimpitan.

Peristiwa terjadi Jumat (20/7/2018) pukul 23.45. Dua tembakan di malam gelap itu menggemparkan warga setempat. Bahkan, tubuh korban Herdi tumbang tergeletak di jalan. Posisi kepalanya hanya sekitar dua meter dari dinding depan rumah warga.

Kapolsek Penjaringan, Ajun Komisaris Besar Rachmat Sumekar kepada wartawan mengatakan, polisi kini memburu pelaku. “Pelaku masih dalam proses penyelidikan. Kami menemukan proyektil di lokasi. Tidak ada barang korban yang hilang. Korban ditemukan tewas diduga ditembak di bagian leher dan punggung,” ucap Rachmat.

Polisi langsung mengevakuasi korban dan membawa ke RS Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk dilakukan autopsi.

Korban Herdi warga jalan Jelambar Fajar, Gang Kode nomor 7 D, RT 002 RW 07, Penjagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. Rumah Herdi hanya sekitar 20 meter dari tempat dia tewas ditembak.

Herdi lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 4 April 1073. Pekerjaannya sesuai KTP: Karyawan swasta, beragama Budha. Menurut warga, pada saat kejadian dia pulang kerja berjalan kaki, setelah turun dari mobil taksi online.

Berita Terkait:  Herdi Ditembak Mati di Jelambar Hanya Lima Detik

Pelaku Naik Motor Berambut Cepak

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Penjaringan, Komisaris Mustakim, saat ditanya wartawan, Sabtu, 21 Juli 2018, mengatakan: “Korban tewas ditembak di kepala. Dua selongsong peluru ditemukan di lokasi.”

Mustakim mengatakan, masih menyelidiki kasus ini sehingga belum bisa menjelaskan motif dan latar belakang penembakan. Polisi sudah memeriksa tiga saksi yang melihat langsung kejadian itu.

Saksi pertama adalah seorang pedagang berinisial SI. Ia melihat pelaku mondar-mandir di depan warungnya. SI juga melihat Herdi datang dan turun dari mobil taksi online.

Saksi SI melihat Herdi berjalan di gang selebar tiga meter itu ke arah Jalan Jelambar Fajar. Pelaku mengikuti dari belakang. Pelaku (dua lelaki) naik motor Yamaha N Max warna abu-abu.

“Saksi ini sempat berteriak meminta tolong,” kata Mustakim. Namun satu saksi lagi berinisial ED memintanya untuk diam. “Dia takut menjadi sasaran karena pelaku memegang senjata api.”

Setelah insiden itu, pelaku kabur bersama kawannya yang sudah menunggu menggunakan sepeda motor. “Yang mengendarai motor hanya pakai topi, dan eksekutornya pun tidak menggunakan helm, dengan ciri-ciri rambutnya cepak,” ujar Mustakim.

Saksi kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Penjaringan pada pukul 24.00. Mereka juga telah menceritakan kepada polisi bagaimana kronologi korban ditembak mati oleh pelaku. “Korban sudah dibawa ke RS Polri Kramatjati,” kata Mustakim.

Baca Juga:

Saksi Mata Tiga Orang

Saksi mata kejadian ini yang dimintai keterangan polisi ada tiga orang. Saksi 1, berinisial SI (34). Saksi 2, berinisial Tu (36). Saksi 3, berinisial Ed (47).

Kronologisnya demikian: Saksi 1 sedang menjaga dagangan bensin eceran di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Sekitar pukul 23.00 Jumat (20/7/2018) saksi melihat motor Yamaha N Max warna abu-abu lewat di depannya.

Saksi melihat dengan jelas motor pelaku, sebab jalan di situ selebar tiga meter. Hanya motor itu yang lewat. Motor pelaku berpenumpang dua orang lelaki (berboncengan) ternyata mondar-mandir lewat di jalan tersebut.

Kedua orang pemotor sama-sama tidak mengenakan helm. Pengemudi motor mengenakan topi. Sedangkan yang dibonceng terlihat berambut cepak.

Sekitar pukul 23.40 Herdi turun dari mobil (diduga taksi online) dan jalan kaki di gang sempit itu. Herdi jalan menuju arah Jalan Jelambar Fajar. Herdi melewati di depan saksi 1.

Beberapa saat kemudian, motor N Max yang semula mondar-mandir, meluncur ke arah Herdi berjalan. Saksi 1 melihat ini.

Tapi, saat peristiwa penembakan, yang melihat saksi 2, Tu. Dia saat itu sedang mengepak barang-barang, menaikkan ke mobil. Saksi 2 melihat langsung peristiwa penembakan.

Penembaknya adalah pria yang dibonceng, tidak bertopi tidak berhelm. Dia turun dari motor, dan menembak Herdi. Sedangkan pengemudi motor bertopi, tetap di motornya dengan mesin hidup.

Letusan tembakan dua kali, korban Herdi langsung tumbah ke tanah. Seketika saksi 2 terkejut. Saksi 2 sempat berteriak minta tolong.

Namun, pada saat bersamaan muncul saksi 3, Ed yang juga melihat kejadian tersebut. Saksi 3 segera mencegah saksi 2 berteriak. Diperingatkan oleh saksi 3, bahwa berteriak sangat berbahaya.

Pelaku penembak secepat kilat, angsung naik motor. Dan, motor tancap gas. Kabur. Total waktu eksekusi ini hanya sekitar lima detik.

Korban herdi tumbang dan tidak bergerak lagi. Posisinya terlentang. Dua tangan membentang lebar. Dua kaki tertekuk, karena dia tumbang mendadak. Di bagian kepala, darah mengalir deras. Herdi mati seketika.

Warga setempat heboh. Mereka keluar rumah, menyaksikan tubub Herdi tak bergerak. Mereka hanya menonton, sebab menunggu polisi datang.

Saksi 2 dan 3 segera melaporkan itu ke Polsek Penjaringan. Tim polisi langsung tiba di TKP. Korban Herdi tetap tidak bergerak. Lantas dikirim ke kamar jenazah RS Polri Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. (*)