Azas Tigor Nainggolan

@Rayapos | Jakarta – Pengamat transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan memberikan apresiasi terhadap pengembangan penerapan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Hukum atau penegakan peraturan atau lalu lintas secara elektronik oleh Polda Metro Jaya.

Tigor berpendapat, teknologi tersebut bisa digunakan sebagai alat – sarana dalam membantu penegakan hukum atau peraturan lalu lintas di lapangan. Termasuk juga untuk penegakan peraturan lalu lintas di kota-kota seperti Jakarta dan sekitarnya.

“Pengawasan dan penegakan berbasis teknologi seperti sistem elektronik dalam ETLE bisa merubah perilaku masyarakat dalam berlalu lintas. Secara teknis penggunaan pengembangan teknologi membuat kinerja kepolisian lebih efektif, akuntabel, profesional dan modern dalam melayani masyarakat,”
Ia menjelaskan pembutan sistem penegakan hukum atau,” Tulis Tigor melalui keterangan resmi yang diterima Rayapos Minggu (25/11/2018)

Dia menjelaskan peraturan lalu lintas secara elektronik atau ETLE di Jakarta sebenarnya sudah menjadi ide atau gagasan sejak tahun 2010 lalu. Hal itu didasari dari pemikiran menggunakan sarana elektronik dalam sistem penegakan lalu lintas.

Selain itu tingginya pelanggaran hukum lalu lintas dan semrawutnya lalu lintas di Jakarta, juga menjadi dasar munculnya sistem tersebut. Dimana diketahui pelanggaran dan kesemrawutan lalu lintas di Jakarta disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat pengguna jalan dalam berlalu lintas. .

“Boleh dikatakan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas baru selevel kesadaran anak usia 10 atau atau setingkat anak kelas 4 SD. Maksudnya level rendah setingkat kelas 4 SD itu adalah masyarakat baru akan tertib dan hati-hati jika ada petugas kepolisian di lapangan jalan raya,” kata dia

Lanjut Tigor menerangkan, buruknya kesadaran ini sangat jelas terlihat dan terbuka untuk kita saksikan setiap hari di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan dia menyebut masih ada ribuan pelanggaran peraturan lalu lintas di Jakarta setiap harinya, tetapi hanya sedikit yang dapat ditindak atau dicegah.

Dilain sisi kata dia, jumlah anggota kepolisian sangat kurang dan terbatas. Bahkan untuk mengisi ajakan penegakan seringkali menempatkan patung seperti anggota polisi di pinggir jalan-jalan raya. Bamun menurutnya hal itu, masih belum mudah untuk menegkan pelanggaran hukum lalu lintas.

Dia berpendapat perubahan pendekatan penegakan secara elektronik ini akan membantu pengawasan, penegakan dan pembangunan perilaku tertib dalam berlalu lintas dan merubah perilaku masyarakat dalam berlalu lintas. Karena perubahan perilaku yang dibangun akan mengurangi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

Lanjut dia menambahkan, adanya sistem secara elektronik ini, pemerintah bisa efektif dalam melakukan pengawasan hukum lalu lintas.

“penegakan peraturan secara elektronik adalah sangat positif membantu pengawasan serta penegakan peraturan dalam berlalu lintas masyarakat secara tegas konsisten. Selamat untuk hasil usaha dan pengembangan inovasi pelayanan yang sudah dilakukan Kepolisian Daerah (Polda Metro) Jaya,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Hari ini, Minggu 25 November 2018 Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya meluncurkan inovasi sistem penegakan hukum atau peraturan lalu lintas secara elektronik, yang biasa disebut sebagai Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE.

Sistem penegakan elektronik ini menggunakan perkembangan teknologi dalam pengawasan dan penegakan hukum di lapangan. Menggunakan alat ETLE ini, pihak kepolisian tidak lagi memerlukan jumlah personil yang banyak untuk ditempatkan di jalan-jalan raya dalam melakukan pengawasan serta penegakan aturan lalu lintas.

BAGIKAN