Lokasi penggelonggongan sapi di Ngawi yang digerebek polisi, Kamis (2/8/2018). Foto: Radar Madiun

@Rayapos | Ngawi – Penggelonggongan sapi marak lagi, menjelang Idul Adha. Peternak Ahmad Amthowi (19) ditangkap polisi di Ngawi, Jawa Timur, Kamis (2/8/2018) saat menggelonggong sapi. Sudah 10 sapi dia siksa begitu, satu di antaranya mati.

Penggelonggongan sapi adalah mencekoki sapi dengan air. Caranya: Mengikat selang air di kepala sapi, sehingga ujung selang masuk ke tenggorokan sapi. Ujung selang lainnya dihubungkan ke keran air.

Seekor sapi dewasa dicekoki air antara 35 – 40 liter air, tergantung daya tahan tubuh. Yang kuat hidup, yang lemah mati. Tujuannya menipu bobot. Setelah digelonggong, berat sapi naik 40 kg. Jika harga daging sapi Rp 120.000 per kg, maka penggelonggong mencuri sekitar Rp 4,8 juta per sapi.

Polisi menggerebek rumah di Dusun Ngadirejo Gang Mawar RT 10 RW 5, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, Kamis (2/8/2018). Peternak Ahmad dan pegawainya sedang menggelonggong sapi.

“Penggerebekan atas informasi masyarakat. Ternyata benar. Pelaku menggelonggong sapi dengan air di rumahnya,” terang Kasat Reskrim Polres Ngawi Maryoko kepada wartawan di lokasi, Kamis (2/8/2018)

Berikut videonya:

Rumah ini pun resmi di-police line. Sedangkan pemiliknya langsung ditetapkan sebagai tersangka, ditahan.

Tersangka Ahmad mengaku, dia dan karyawannya sudah menggelonggong tujuh ekor sapi. Salah satunya mati.

“Tapi kami temukan fakta, sudah sepuluh ekor sapi digelonggong lalu dijual ke Surabaya. Jadi yang bersangkutan langsung jadi tersangka,” kata Maryoko.

Modusnya, tersangka membeli sapi ke desa-desa di Ngawi. Lantas digelonggong. Kemudian dijual ke pedagang daging di Surabaya.

“Jadi pelaku menyiksa sapi-sapinya dengan digelonggong air yang dimasukkan melalui mulutnya. Dengan cara selang air yang dimasukkan ke mulut sapi dan airnya langsung dari air sumur pompa yang disedot dengan mesin,” ungkapnya.

Air dimasukkan selama lima menit. Setelah itu, sapi menjadi tampak gemuk dan bisa dijual dengan harga tinggi.

“Setelah kelihatan gemuk, sapi dibiarkan dan dijual ke salah satu pedagang daging di Kota Surabaya,” lanjutnya.

Ironisnya, saat penggerebekan ditemukan satu ekor sapi dalam keadaan mati, diduga akibat penggelonggongan tersebut.

Tersangka dijerat dengan Pasal 8 ayat 1 huruf a dan c dan ayat 2 jo pasal 62 (1) UURI nomor 8 tahun 1999. Ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Baca Juga:

Pasangan Jokowi-Moeldoko Dinilai Mampu Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia

MUI Daerah Tolak #2019GantiPresiden

Berpotensi Tercemar Bakteri Salmonella

Sapi gelonggongan bobotnya naik sekitar 10 persen dari berat semestinya. Jika semula beratnnya sekitar 400 kg, setelah digelonggong naik jadi sekitar 440 kg.

Pakar Meat Science yang Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gajahmada (UGM) Yogya, Prof Soeparno mengatakan, daging sapi gelonggongan berkualitas buruk. Sebab, air masuk ke jaringan daging.

Dijelaskan, daging normal ketika dimasak akan susut 37,25 persen. Daging gelonggongan susut 47 persen. Juga, daging jadi rusak. Kandungan gizinya berkurang.

“Berdasarkan penelitian, kadar protein daging sehat 21,08 persen. Daging glonggongan 15,98 persen,” katanya.

Daging sapi normal dan gelonggongan. Foto: BPOM
Daging sapi normal dan gelonggongan. Foto: BPOM

Ketika sapi digelonggong, maka air akan berdifusi ke jaringan otot. Akibatnya daging menggelembung bertambah berat.

Air yang berdifusi ke daging berpotensi jadi sumber bakteri. Terutama jika air yang digunakan sudah tercemar bakteri seperti E. coli, Salmonella, clostridium dan listeria.

Pada daging normal, bakteri hanya menempel pada bagian luar. Sedangkan, daging gelonggongan berbakteri masuk ke jaringan daging.

Intinya, daging gelonggongan bukan saja pelakunya mencuri dalam hal bobot daging. Tapi juga membahayakan konsumen daging. (*)

BAGIKAN