Meliana. Foto: Antara

@Rayapos | Jakarta – Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi Meliana yang mengkritik volume azan. Dia harus tetap menjalani hukuman 18 bulan penjara.

Meliana mengkritik volume azan karena terlalu keras pada Juni 2016. Kemudian, rumah Meliana di Tanjungbalai, Sumatera Utara, dirusak massa. Bahkan Vihara di kota itu dibakar.

Belakangan, jaksa menuntut Meliana 18 bulan penjara. PN Medan pada 21 Agustus 2018 memvonis hukuman sesuai tuntutan jaksa. Pasal yang dilanggar: Penistaan agama.

Meliana lantas banding tapi ditolak. Meliana lewat pengacaranya kemudian mengajukan kasasi.

Apa kata MA? “Ditolak,” demikian lansir panitera MA dalam websitenya, Senin (8/4/2019).

Perkara itu diketuai hakim agung Sofyan Sitompul dengan anggota Desnayeti dan Gazalba Saleh. Perkara dengan panitera pengganti Raja Mamud itu diketok pada 27 Maret 2019.

Bagaimana dengan para perusak rumah Meliana dan vihara? Berikut hukuman yang dijatuhkan oleh PN Medan:

1. Abdul Rizal dihukum 1 bulan 16 hari.
2. Restu dihukum 1 bulan dan 15 hari.
3. M Hidayat Lubis dihukum 1 bulan dan 18 hari.
4. Muhammad Ilham dihukum 1 bulan dan 15 hari.
5. Zainul Fahri dihukum 1 bulan dan 15 hari.
6. M Azmadi Syuri dihukum pidana 1 bulan dan 11 hari.
7. Heri Kuswari dihukum 1 bulan dan 17 hari (kena pasal kasus pencurian).
8. Zakaria Siregar dengan pidana 2 bulan dan 18 hari.

Ketika proses banding di Pengadilan Tinggi Medan, dulu, sejumlah organisasi mengirimkan keberatan atas vonis Pengadilan Negeri (PN) Medan atas Meliana. Seperti:

1. Aliansi Umat Islam Kota Tanjung Balai, Sumut.
2. Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) FH UI.
3. Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).
4. Koalisi Masyarakat Sipil dan Peduli Toleransi, Pemajuan HAM dan Pembangunan yang Berkeadilan.
5. Kontras.

“Adalah hal-hal yang dijadikan masukan oleh majelis hakim tingkat banding dalam memutus perkara ini, akan tetapi tidak dipertimbangkan secara khusus dalam putusan, karena keberatan-keberatan tersebut disampaikan di luar persidangan,” demikian bunyi putusan banding sebagaimana dilansir PT Medan, Rabu (31/10/2018).

Vonis itu diketok pada 22 Oktober 2018 oleh ketua majelis Daliun Sailan dengan anggota Prasetyo Ibnu Asmara dan Ahmad Ardianda Patria. Meliana dinilai melanggar Pasal 156 KUH, dengan perbuatan mengucapkan kata-kata:

Lu..ya..lu…ya. Kita sudah sama-sama dewasa, ini negara hukum, itu masjid bikin telinga gua pekak, sakit kuping, hari-hari ribut, pagi ribut, siang ribut, malam ribut, bikin gua tidak tenang.

“Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 1612/Pid.B/2018/PN.Mdn tanggal 21 Agustus 2018 yang dimintakan banding tersebut. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan. Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding ini ditetapkan sebesar Rp 2.500,” ujar majelis. (*)

BAGIKAN