Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo. Foto: Dok Rayapos

@Rayapos | Jakarta – Hati-hati main sosmed. Rachmy Denda Hasnyta Zainuddin di Lampung dicokok polisi, gegara sebar hoaks: “Server KPU Diatur Menangkan Jokowi”.

Jelasnya, hoaks yang disebar intinya, bahwa server KPU di luar negeri di-setting atau diatur untuk memenangkan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (8/4/2019) mengatakan:

“RD ibu rumah tangga, background pendidikannya cukup tinggi, dokter pendidikannya.”

Rachmy ditangkap petugas Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dari kediamannya di Tanjungkarang Barat, Kota Bandar Lampung, pada Minggu (7/4/2019) sekitar pukul 07.00 WIB.

Dia menyebarkan video hoaks melalui akun Facebook miliknya.

Penangkapan tersebut pengembangan dari penangkapan Eko Widodo alias EW yang dicokok polisi di rumahnya di Ciracas, Jakarta Timur, di hari yang sama sekitar pukul 02.30 WIB.

Dari penelusuran polisi, diketahui Eko Widodo menyebarkan video hoaks melalui akun Twitter @ekowBoy.

Menurut Dedi, keduanya berperan sebagai buzzer atas penyebaran video serta tulisan hoaks di media sosial.

“Yang jelas ini merupakan inisiasi mereka. Ketika mereka mendapatkan video itu, pelaku memberikan narasi dan memviralkan,” ujarnya.

Pelaku, lanjut Dedi, menyebarkan melalui akun media sosial milik masing-masing dan juga bertautan dengan artikel berita.

Para pelaku memiliki jumlah pengikut yang banyak, sehingga video ini semakin banyak diketahui oleh masyarakat.

Hal pertama yang dilakukan para pelaku tersebut adalah menyiapkan banyak konten untuk dipilih dan selanjutnya disunting sesuai dengan rencana kepentingan mereka.

Kemudian, pelaku yang disebut sebagai pembuat konten, mengirimkan informasi yang sudah diedit menjadi berita hoaks itu ke tim buzzer.

Tim buzzer tersebut mempunyai sejumlah akun media sosial palsu yang berperan memviralkan konten hoaks.

Begitu konten video dan tulisan yang diunggah telah viral, maka pelaku akan berusaha menghilangkan jejak, seperti mengubah nama akun media sosialnya.

Rachmy mengubah nama akun Facebook dari Rahmi Zainuddin Ilyas menjadi Garfil. Sebab, video yang diunggahnya viral dan mendapat banyak komentar netizen.

Pemilik akun tersebut juga kedapatan menghapus konten pada Jumat (5/4/2019) pukul 17.00 WIB.

“(Atau) salah satu ada berita hoaks dari Ig (Instagram) dan mendadak langsung di-suspend. Jadi, ketika informasi hoaks itu menyebar, pelaku langsung menghilang dari Ig-nya,” tuturnya.

Dedi mengatakan kedua orang tersebut melanggar Pasal 13 ayat 3 dan Pasal 14 ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 dengan ancaman hukum penjara empat tahun.

“Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ada barang bukti milik yang bersangkutan ada handphone, sim card, untuk melakukan penyebaran atau memviralkan berita hoaks,” tutur Dedi.

Direktorat Siber Bareskrim Polri masih mendalami kemungkinan hubungan kedua tersangka dan keterkaitan dengan salah satu calon presiden.

Sebab, kegiatan mereka sistematis. Jelas melemahkan elektabilitas Jokowi – Ma’ruf, yang berarti menguntungkan Paslon Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Penjelasan Polda Lampung

Saat dikonfirmasi terkait penangkapan RD tersebut, Kabid Humas Polda Lampung yang baru, AKPB Zahwani Pandra Arsyad, membenarkan adanya penangkapan pelaku penyebar hoax server KPU di Lampung.

“Memang bener ada kegiatan dari Bareskrim Polri melakukan penangkapan pelaku penyebar hoax di Lampung,” sebutnya, Senin (8/4/2019).

Pandra belum bisa menyampaikan soal detail penangkapan dan modus tersangka. “Detailnya kami tunggu penyelidikan dari Bereskrim,” katanya.

Disinggung soal penyelidikan dilakukan di Polda Lampung, Pandra mengaku tidak ada peminjaman ruangan.

“Pelaku langsung ditangkap dan cepat dibawa ke Bareskrim, jadi disini tidak ada,” tegasnya.

Pandra menghimbau kepada masyarakat untuk bijak bermedia

“Lebih baik menyaring dahulu sebelum menshare kepada semua lapisan masyarakat, karena masyarakat membutuhkan informasi yang jelas,” katanya.

Kejar Pelaku Lain

Selain itu, polisi juga masih mengejar dua terduga pelaku lain yang berperan sebagai kreator atau orang berada di dalam video dan penyebar konten atau buzzer.

“Pelaku yang menyampaikan secara verbal dalam video, kami sudah masukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) dan sudah berhasil diidentifikasi. Satu lagi sebagai buzzer juga masih kami buru,” ujarnya.

Para pelaku dijerat Pasal 45 ayat (3) dan 45A ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengapresiasi kerja Polri yang bergerak cepat mengungkap penyebar hoaks tersebut, pasca-dua hari kasus tersebut dilaporkan.

“Saya mengapresiasi kerja Polri yang begitu cepat. Hoaks diviralkan itu sudah banyak sekali tersebar sehingga membuat opini di masyarakat seakan-akan berita tersebut adalah benar,” kata Ilham.

Ilham menegaskan KPU tidak memiliki server di negara lain selain di Indonesia.

“Sekali lagi perlu kami sampaikan bahwa tidak ada server kami di Singapura, semua server kami ada di dalam negeri,” kata Ilham.

Selain itu, sesuai perundang-undangan, hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 yang sah adalah dilakukan secara manual. “Rekapitulasi yang digunakan adalah manual,” jelasnya.

Sebelumnya, tujuh komisoner KPU kompak membuat laporan ke SPKT Bareskrim Polri di Jakarta pada Kamis (4/4/2019) malam.

Mereka geram. Hoaks itu berupa video dan tulisan berisi tudingan bahwa KPU memiliki server di Singapura yang di-setting atau diatur untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019.

Kabar tersebut tersebar dan viral di Facebook, Twitter dan Instagram.

Rahmi menggunggah video yang diberi judul “Wow server KPU ternyata sudah Disetting 01 menang 57% tapi Jebol Atas Kebesaran Allah Meskipun Sudah Dipasang 3 Lapis”.

Dalam unggahan tersebut disertakan caption, “Astaghfirullah, semua terbongkar atas kebesaran dan kekuasaan serta kehendak Allah semata”.

Semuanya menyebut asma Allah. Tentu, bertujuan menarik simpati masyarakat.

Ada juga penyebaran informasi yang menyebutkan, ‘Breaking New! Pak Wahyu mantan staf Jokowi di Solo bongkar server KPU di Singapura udah setting kemenangan 01 57%!!!, Jebol salah satu dari 7 servernya. Sebarkan. Viralkan.’ (*)

BAGIKAN