Peran Dinasti Siliwangi Dalam Islamisasi Sunda

rayapos.com - Dinasti Siliwangi
Maharaja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi yang bertahta di Keraton Bogor pada 1482-1521 M memiliki peran besar dalam proses Islamisasi masyarakat Bogor khususnya, maupun "Tatar Sunda" pada umumnya. (Foto: Republika)

@Rayapos | Bogor: Maharaja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi yang bertahta di Keraton Bogor pada 1482-1521 M memiliki peran besar dalam proses Islamisasi masyarakat Bogor khususnya, maupun “Tatar Sunda” pada umumnya.

“Proses Islamisasi di ‘Tatar Sunda’ yang berjalan lancar tidak terlepas dari dukungan penuh dan peran besar yang ditunjukkan Prabu Siliwangi beserta dinasti dan keturunannya,” kata Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ustadz Ahmad Idhofi.

Ponpes Nurul Iman Al-Hasanah, Minggu (22/1) menggelar kegiatan untuk membedah sejarah Islamisasi Sunda.

Serangkaian itu juga dilaksanakan “tawassul”, yakni munajat doa untuk para ulama dan leluhur Sunda, yang berlangsung di aula pesantren, yang terletak di Jalan Karacak KM 03, Kampung Geledug, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Pesantren bermotto “Salaf Modern” itu mengelola SMP, MTs, SMK, MA, dan perguruan tinggi, dengan total santri mencapai 1.000 orang lebih.

Ahmad Idhofi –yang juga pengurus Lembaga “Bahtsul Masail” Masail NU Kabupaten Bogor– menjelaskan kegiatan tersebut menghadirkan pegiat kebudayaan Sunda dan aktivis NU Ahmad Fahir, M.Si sebagai narasumber.

Acara itu diikuti 50 alumni dan peserta lain dari unsur mahasiswa dan guru, utusan NU Kecamatan Leuwisadeng, guru SMP Ma’arif NU Cilebut, dan pengurus MUI Kabupaten Bogor.

Ketua NU Kecamatan Leuwisadeng, Baejuri, mengatakan kegiatan itu menarik karena mengkaji sejarah dan relasi Islam Sunda.

“Ada istilah Islam itu Sunda, Sunda itu Islam. Hal ini berkat perjuangan para ulama dan pemimpin masa silam. Karena itu, kita doakan sebagai bentuk syukur,” katanya.

Sejarah panjang Dalam penelusuran Ahmad Fahir, sejarah perjumpaan Islam dengan Sunda terbilang sangat panjang.

Bahkan, Islam masuk wilayah Sunda jauh sebelum era “Wali Songo” (Wali Sembilan) pada akhir abad ke-15 dan 16, yang dikenal sebagai puncak Islamisasi Nusantara.

Ia menyebut “Syaikh Quro” mendirikan pesantren pertama di Nusantara sebelum era “Wali Songo”.

“Beliau memiliki andil besar dalam mengislamkan Prabu Siliwangi dan menjadikan dinastinya di Kerajaan Pajajaran (terutama dari garis isteri Subang Larang) dan dari garis Talaga sebagai aktor utama penyebaran Islam ‘Tatar Sunda’,” kata Fahir.

Wilayah “Tatar Sunda” dimaksud kini masuk dalam sejumlah provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan wilayah barat Jawa Tengah.

Islam diperkirakan telah menyebar luas di “Tatar Sunda” sejak abad 12, sebagaimana dikisahkan “Babad Pamijahan”, Tasikmalaya.

Pada abad 17, seorang ulama besar bernama Syaikh Abdul Muhyi melakukan napak tilas bertahun-tahun mencari gua “Safar Wadi” peninggalan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani saat berguru ke Syaikh Sanusi pada abad 12.

Ia mengatakan sejarah Islam Sunda termasuk paling tua di Indonesia dengan banyaknya jejak peninggalan para penyebar Islam serta makam para wali sebelum era “Wali Songo”.

“Islam berkembang pesat di ‘Tatar Sunda’ karena berdampingan dengan budaya Sunda. Masyarakat menerima Islam secara terbuka, dan tetap melestarikan budaya,” kata salah satu pendiri Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU-IPB) itu.

Menguak misteri Pengurus MUI Kabupaten Bogor Ustadz Zulfiqor mengapresiasi kegiatan tersebut karena dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sejarah dan relasi Islam dengan Sunda.

“Banyak misteri dan sejarah Islam Sunda yang belum tergali akibat minimnya literasi. Kita perlu mendalami lagi, agar lebih memahami sejarah secara utuh,” katanya.

Dengan kondisi minimnya literasi tersebut, diharapkan menstimulasi semua pihak untuk bersama-sama peduli pada penggalian sejarah Islam di “Tatar Sunda”.

“Ini menjadi tantangan agar sejarah hubungan Islam dan budaya Sunda akan semakin memperkaya khazanah sejarah di Nusantara ini,” katanya.

Sedangkan Ketua Forum Alumni Ponpes Nurul Iman Al-Hanasah, Muhamad Sulaiman, dalam sesi diskusi juga mengharapkan kegiatan tersebut dapat menambah wawasan tentang Islam Sunda.

“Kegiatan ini sebagai pengajian perdana alumni Ponpes Nurul Iman Al-Hasanah. Kami akan menggelar diskusi seperti ini secara rutin setiap bulan,” kata Sulaiman.

Dengan rutinitas kegiatan semacam itu, harapan menjadikan sejarah Islam di wilayah Jawa Barat semakin tergali, khususnya agar dapat menjadi rujukan generasi saat ini dan masa datang. [ant]

Comments

comments