Presiden Jokowi berdoa di makam pahlawan, dan mengenakan pakaian pejuang. Foto: Instagram

@Rayapos |  Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Upacara Hari Pahlawan 2018 di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (10/11/2018).

Dimulai pukul 08.00 Presiden Jokowi hadir bersama sejumlah Menteri, di antaranya Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin bertugas memimpin doa.

Jokowi bertugas menjadi inspektur upacara.

Sebagai tanda penghormatan kepada pahlawan, sirene dibunyikan selama 1-2 menit.

Selain itu para peserta upacara juga mengheningkan cipta untuk mengenang jasa pahlawan.

Selepas upacara, Jokowi meletakkan karangan bunga di depan monumen TMP Cikutra dan diakhiri dengan penghormatan.

Setelah meletakkan karangan bunga, Jokowi menuju beberapa makam pahlawan nasional.

Sekira lima pusara makam pahlawan yang didatangi oleh Presiden Jokowi sembari menaburkan bunga di atas makam tersebut.

Prosesi penaburan bunga tersebut didampingi pihak keluarga pahlawan yang hadir.

Setelah menaburkan bunga, Jokowi langsung memanjatkan doa di setiap makam yang dihampirinya.

Di sekitarnya dikelilingi beberapa orang yang turut mengangkat menengadahkan tangannya.

Dilansir dari akun Twitter Sekretariat Kabinet, @setkabgoid, Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga turut mendamping Jokowi.

Usai melakukan penaburan bunga, Presiden RI sempat berbincang-bincang dengan sejumlah keluarga pahlawan.

Permintaan untuk berswafoto dari masyarakat juga diladeni oleh orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Selanjutnya, Jokowi menuju Gedung Sate untuk membuka acara Bandung Lautan Sepeda 2018. Tidak hanya melepas puluhan ribu pesepeda, Jokowi juga ikut bersepeda sejauh lima kilometer.

Berikut cuplikan video upacara peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Baca Juga: 

Beredar Video, Prabowo Belepetan Hafal Pancasila

Korban Surabaya Membara Bergelimpangan Kayak Ikan Pindang

Inilah Titik Lokasi Cewek Bule Dibegal Payudara

Kenakan Pakaian Pejuang

Sementara itu, dilansir dari akun Twitter pribadi Pramono Anung, @pramonoanung, politikus berusia 55 tahun itu membagikan foto Jokowi yang memperingati Hari Pahlawan.

Sedikitnya ada dua foto yang dibagikan oleh Pramono Anung.

Foto pertama yang diambil di depan Kantor Gubernur Jawa Barat itu tampak Jokowi kenakan pakaian pejuang berwarna khaki lengkap dengan pecinya.

Pakaian tersebut mirip dengan yang dikenakan pahlawan Bung Tomo.

Pada bajunya tampak disematkan lambang bendera Merah Putih dan sederet bintang.

Di bawah bendera juga terpampang nama Joko Widodo.

Jokowi terlihat membawa sebuah sepeda ontel yang disematkan bendera Merah Putih kecil di depannya.

Di belakang sepeda juga ada tas klasik berwarna cokelat.

Sedangkan foto kedua tampak Jokowi tengah berdoa di atas pusara makam pahlawan.

Mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dan peci hitam, Jokowi tampak menengadahkan tangannya .

Di belakangnya terlihat orang membawa keranjang berisi bunga.

“Selamat Hari Pahlawan,” tulis Pramono Anung dalam keterangan foto tersebut.

Sejarah hari pahlawan demikian: Jumat 9 September 1945, pesawat-pesawat Inggris sengaja terbang menjatuhkan selebaran kertas dari udara ke seluruh penjuru kota Surabaya.

Itu adalah ultimatum dari Inggris yang meminta para pejuang Surabaya untuk menyerahkan senjata pada 10 November 1945 paling lambat pukul 06.00 pagi.

Selebaran berisi pesan kepada siapa pun untuk menyerahkan orang yang bertanggung jawab atas tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945.

Sudah dipastikan, saat itu amarah Britanita Raya sedang membuncah kepada arek-arek Suroboyo.

Namun, alih-alih takut, para pejuang dan pemuda dari seluruh Surabaya malah menantang Inggris untuk berjibaku atau perang terbuka.

Hal itu terungkapkan dalam pidato Bung Tomo pada 10 November 1945.

“Tuntutan itu, walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita… selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih… maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga,” ujarnya.

Sontak pidato yang disampaikan dengan semangat berapi-api lewat radio tersebut menyulut semangat arek-arek Suroboyo untuk tak gentar menghadapi ultimatum Inggris.

Walau pasukan Inggris dilengkapi dengan senjata dan armada yang canggih kala itu, mereka pun siap bertarung habis-habisan mempertahankan harga dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Dalam berbagai kisah sejarah pertempuran 10 November diceritakan bahwa peristiwa itu menjadi perang terbuka terbesar Indonesia sesudah proklamasi kemerdekaan.

Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas. Surabaya banjir darah.

Juga 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut.

Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban tewas dari pihak sekutu sejumlah 600-2.000 tentara.

Lalu, di manakah tempat baku tembak dan korban tewas pertama di Surabaya pada waktu itu?

Nugroho Notosusanto dalam buku Pertempuran Surabaya terbitan 1985 menulis bahwa kontak senjata antara pejuang Surabaya dan tentara sekutu Inggris kali pertama terjadi di sekitaran Theater atau Bioskop Sampoerna dan Pabrik Rokok Liem Seeng Tee.

Jadi, pagi 10 November 1945, di sekitaran itu ada 100 pejuang yang terdiri dari Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan badan-badan perjuangan lainnya.

Mereka kebanyakan berasal dari daerah Tambak Bayan, Nggringsing, Kebalen, dan Labuan.

Dari 100 orang tersebut, ada 20 pemuda bersenjata lengkap yang telah bergabung dua hari sebelumnya. Usia mereka 17-20 tahun dan umumnya menggunakan seragam tentara Jepang.

Mereka berkumpul tanpa ada yang mengoordinasi alias datang atas kehendak sendiri-sendiri. Dengan tujuan untuk mempertahankan daerah tersebut.

Usai pesawat-pesawat pengebom Inggris melakukan bombardeman atau menjatuhkan bom ke kota Surabaya sejak pukul 10.00 WIB,

Kendaraan tank dan pasukan infranteri angkatan darat Britinia Raya lalu bergerak menelusuri jalan-jalan kota tersebut.

Mereka lalu bertemu dengan 100 pemuda yang sudah siap siaga di sekitaran Sampoerna Theater dan pabrik rokok Liem Seeng Tee.

Kontak senjata pun terjadi. Maka, tentara Inggris yang kebanyakan berasal dari India itu berhasil merebut kawasan tersebut.

Dalam pemberitaan Suara Karya, Senin (11/11/1974), berjudul “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, tercatat ada 7 pemuda yang gugur dalam pertempuran itu.

Mereka kebanyakan berusia 17-18 tahun dan tanpa diketahui identitasnya.

Seperti yang ditulis Nugroho Notosusanto, para pejuang yang gugur di depan Sampoerna Theater adalah kelompok pejuang yang kali pertama gugur dalam pertempuran 10 November Surabaya.

Mereka-lah yang memberi makna penting bagi sejarah kemerdekaan kita. (*)