Wartawan Saudia Arabia, Jamal Khashoggi pada 2011. Foto: Shutterstock

@Rayapos | Jakarta – Pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi diperintahkan melalui media sosial Skype. Pelakunya Saud al-Qahtani, memerintahkan anak buahnya membunuh Khashoggi.

“Bawakan saya kepala anjing itu,” kata Qahtani, memberikan instruksi kepada anak buahnya.

Dilansir dari Reuters, Selasa (23/10/2018) data ini dimiliki intelijen Turki. Bahkan, kini sudah di tangan Presiden Turki, Tayyip Erdogan.

Qahtani adalah ajudan Putera Mahkota Kerajaan Saudi Arabia, Mohammed bin Salman (MBS). Qahtani juga merangkap Penasihat Media Kerajaan Saudi Arabia.

Sedangkan, berdasarkan informasi dari sumber berpangkat tinggi Arab Saudi yang memiliki akses intelijen ke anggota Kerajaan Arab Saudi, Qahtani tersambung ke sebuah ruangan di konsulat Saudi melalui Skype.

Ketika Khashoggi berada di dalam kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, Qahtani mulai melontarkan hinaan ke Khashoggi.

Menurut sumber dari Arab Saudi dan Turki, Khashoggi juga membalas ejekan dari Qahtani. Mereka bertengkar lewat Skype.

Sumber intelijen Turki menyampaikan, sampai pada satu titik, Qahtani mengatakan kepada anak buahnya yang berada di sekitar Khashoggi, untuk menghabisi Khashoggi.

“Bawakan saya kepala anjing itu”, kata Qahtani memberikan instruksi ke anak buahnya, berdasarkan sumber intelijen Turki.

Masih belum jelas, apakah Qahtani menonton proses pembunuhan atau tidak.

Tapi, sumber dari Arab Saudi mengatakan operasi pembunuhan ini adalah operasi yang ceroboh dan sembrono. Sebab, operasi yang dilakukan negara Kerajaan Arab Saudi, pelaksanaannya tidak rapi.

Menurut sumber, bukti audio Skype Qahtani kini dipegang oleh Presiden Turki Tayyip Erdogan.
Pihak Turki mengatakan Erdogan enggan untuk menyerahkan barang bukti ke otoritas Amerika Serikat.

Erdogan dalam keterangan resmi mengatakan ia akan segera merilis informasi penyelidikan Turki atas pembunuhan Khasoggi.

Pejabat senior di pemerintahan Saudi mengatakan belum mendengar bahwa Qahtani tersambung melalui Skype.

Sebelumnya, Raja Kerajaan Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud telah memerintahkan pemecatan terhadap dua orang penting.

Pertama, Wakil Kepala Dinas Intelijen Kerajaan Arab Saudi, Ahmad al-Assiri. Kedua, Qatani selaku penasehat media kerajaan.

Tuduhan pemerintah Kerajaan Arab Saudi soal pemecatan itu adalah: Mereka terlibat dalam kasus kematian Khashoggi.

Keduanya merupakan pembantu dekat atau ajudan putera mahkota kerajaan MBS.

Biografi akun Twitter Qahtani sendiri berubah dari royal adviser menjadi chairman of the Saudi Federation for Cybersecurity, Programming and Drones.

Baca Juga:

Bagaimana Elektabilitas Prabowo Pasca Hoax Sarumpaet? Survei LSI Menjawab

2 Pengeroyok Haringga Dituntut Hukuman 3,5 dan 4 Tahun

Jokowi Bagi Sertifikat di Jaksel, Emak-Emak Heboh

Pejabat CIA Terbang ke Turki

Direktur CIA, Gina Haspel melakukan perjalanan ke Turki terkait isu internasional yang berkembang soal kasus pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Itu disampaikan sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters, Senin (22/10).

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia telah mengerahkan “orang-orang intelijen top di Turki,” tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Kedatangan Direktur CIA ini setelah Presiden Turki Tayyip Erdogan bersumpah untuk mengungkap seluruh kejadian pembunuhan wartawan Khashoggi.

Erdogan bakal mengungkap, bagaimana pemerintah Saudi melakukan pembunuhan itu. Serta bagaimana pemerintah Saudi menutupinya.

Kedatangan direktur ini dipekirakan menjadi usaha intelijen AS untuk mengakses informasi yang dimiliki Turki. Termasuk file audio yang dimiliki pejabat Turki yang berhasil merekam pembunuhan itu.

Pejabat intelijen AS bersikap skeptis atas pernyataan Saudi yang berusaha menutupi pembunuhan Khashoggi.

Senin (22/10/2018) Presiden Trump menyatakan kepada reporter, bahwa, “Saya tidak puas dengan apa yang saya dengar” dari Arab Saudi dan akan melakukan penyelidikan hingga ke akar-akarnya.

“Kami memiliki intelijen di Turki. Kami akan melihat apa yang kami miliki. Saya akan mengetahui lebih banyak besok,” jelasnya,

“Mereka akan kembali malam ini atau besok pagi. Tapi kami memiliki orang di Arab Saudi dan Turki,” kata Presiden Trump, seperti dikutip The Washington Post.

Juru bicara CIA menolak untuk memberikan komentar. Juru bicara lainnya menyebut bahwa kunjungan direktur CIA dilakukan secara anonim. Karena perjalanan ini mambawa isu yang sensitif.

Kekhawatiran kepala intelijen AS bagi Washington adalah jika Erdogan akan membuka detil pembunuhan Khashoggi yang akan mempengaruhi Putera Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
Sebab ia telah menjadi sekutu kunci bagi Trump dan saat ini menjadi penguasa Saudi secara de facto. (*)

BAGIKAN