Peristiwa Natal Sabuga: Bubarkan Ormas Intoleran, Indonesia Bukan Fasis

rayapos.com - Peristiwa pembubaran Natal Sabuga
Foto : Istimewa

Selasa, 6 Desember 2016 sore di Gedung Sabuga, Jl Taman Sari Bandung Jawa Barat. Adalah perayaan KKR Natal dipimpin imam nasrani bernama Pdt. Stephen Tong, yang menjadi persoalan kali ini.

Sekelompok masa yang menamakan diri Pembela Ahnus Sunnah (PAS), tiba-tiba menggeruduk Gedung Sabuga Bandung, menuntut supaya KKR Natal dibubarkan. Para jemaah pun ketakutan. Ada yang keluar, ada pula sekelompok paduan suara yang terjebak di atas mimbar diselimuti ketakutan.

Dalam tuntutannya, seperti biasa gerombolan ormas seperti PAS selalu menelikung panitia penyelenggara dengan masalah perijinan.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Yusri Yunus, panitia tidak mengajukan ijin lengkap.

Apa iya? Rasanya sangat bodoh jika menggelar acara besar seperti itu, di bumi Pasundan, lantas keliru mengurus ijin.

Sementara itu menurut panitia, semua bentuk perijinan sudah dikantongi, termasuk pemberitahuan kepada pemerintah. Keterangan itu diperkuat dengan pernyataan Walikota Ridwan Kamil di akun instagramnya.

Selaku kepala daerah, Kang Emil malah menyatakan Ibadah KKR tersebut sudah dikoordinasikan dan memerintahkan tetap dijalankan karena hak beragama dilindungi oleh negara.

Pembela Ahlus Sunnah (PAS) berkilah tentang promosi acara tersebut telah disebarkan secara masif dalam berbagai bentuk kepada masyarakat umum.

“Seharusnya acara Kebaktian itu kan untuk kaum Nasrani, kok ini dibebaskan penyebaran pamplet dan spanduknya ke mana-mana. Semestinya  panitia itu mengatakan kegiatan ini khusus Nasrani.” Demikian Ketua PAS, Roinnul Balad S.Sos.

Sekali-kali, cobain deh jalan-jalan di kota mana saja. Lalu kalau pas ada tabliqh akbar, atau acara zikir, pernah gak lihat spanduk-spanduk yang ukurannya segede bagong berdiri dengan megah di sudut-sudut jalan, persimpangan, serta lokasi lain?

Akan tetapi, layaknya kebiasaan ormas-ormas intoleran, mencari kambing berwarna hitam pun langsung dilakukan. Pimpinan gerombolan PAS berkilah bahwa mereka tidak ijnkan KKR Natal di Sabuga dilanjutkan, karena kalau Kristen membuat acara, harusnya di gereja bukan di gedung seperti Sabuga.

Ah.. mereka mungkin lupa. Atau lebih tepatnya, pura-pura lupa. Makanya, gak ada salahnya kalau kita memang harus melawan lupa.

Jika tidak ada halangan, 12 Desember 2016 nanti, akan ada tablik akbar di Lapangan Gazibu Bandung.

Tabligh akbar boleh, KKR Natal tidak boleh.

Memang menjadi pelajaran juga bagi umat agama lain seperti Budha, Hindu, Konghuchu ataupun Nasrani, supaya tidak terlalu eksklusif. Berlakulah inklusif. Gandenglah, libatkanklah, undanglah penganut agama lain untuk saling membantu menyukseskan acara.

Banser NU selalu dengan tangan terbuka dan sukarela membantu tanpa pamrih dalam menjaga rumah ibadah. Lihatlah sang pahlawan umat Islam, pahlawan agama, pahlawan kita semua bernama Riyanto dari Mojokerto.

Ia gugur sebagai syuhada ketika menggendong granat yang akan diledakkan di sebuah gereja di malam Natal 2000 silam. Ia menghadap Tuhan nya sebagai seorang pahlawan.

Demikian juga ada para pecalang dari umat Hindu di Bali yang ikut membantu menjaga perayaan-perayaan keagamaan.

Ada pula Brigade Manguni di Minahasa yang tak sungkan untuk terlibat menjaga perayaan Idul Fitri di tanah Nyiur Melambai.

Kembali ke persoalan kejadian tadi malam, menjadi sangat terang benderang, gerombolah itu tidak punya hak melakukan penistaan di Sabuga tadi malam. Karena telah menistakan agama tertentu, menjadi layaklah mereka untuk diseret di depan hukum, ditetapkan sebagai tersangka dan disidang sebagai penista-penista agama.

Negara tidak boleh tunduk pada sekelompok ormas yang berkoar-koar seolah-olah mereka membawa mandat ilahi,  mentang-mentang selalu berpakaian dengan warna suci.

Ingat bahwa Indonesia tidak menganut paham negara agama, ataupun agama negara. Semua sama di depan hukum.

Waras atau tidak cara berpikir mereka yang dengan bangga mengusung paradigma intoleran, walahuallam. Atau, kita yang harus menjadi tidak waras terlebih dahulu untuk bisa memahami jalan pikiran mereka?

Sudah barang tentu, tidak semua umat muslim yang bertindak semena-mena seperti ormas-ormas yang lebih layak disebut gerombolan tersebut.

Ulama-ulama hebat yang sangat toleran, mengusung nilai-nilai keislaman yang damai, menjaga kesucian agama, serta menjunjung tinggi ajaran Nabi Muhamad SAW, sangat banyak di negeri yang kita cintai ini.

Bukan hanya ulama, kyai, ataupun pemimpin umat. Umat Islam di Indonesia pun ada begitu banyak yang sangat mengedepankan kebhinnekaan, ke-Indonesiaan, kesantunan, keragaman, kemajemukan, serta kesatuan dan persaudaraan sebagai anak bangsa.

Umat Muslim membersihkan gereja di Samarinda pasca pemboman. Umat Muslim juga yang menyingsingkan lengan membersihkan kelenteng dan Vihara di Tanjung Balai.

Ketika Mesjid Istiqlal kekurangan lahan parkir saat Sholat Id, area parkir Gereja Kathedral pun dibuka lebar-lebar supaya para jamaah nyaman dan khusuk beribadah.

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah, Serengan, Kota Solo, Jateng, memiliki alamat yang sama yaitu di Jalan Gatot Subroto Nomor 222, Solo.

Kalau ditulis, tidak akan habis contoh bagaimana umat muslim di Indonesia sangat menghargai arti persaudaraan.

Ketika lebaran tiba, saya mengunjungi keluarga sendiri yang beragama muslim. Kala natal tiba, kunjunganpun berbalas. Tidak ada penghalang. Karena kita semua memang pada hakikatnya adalah saudara.

Angkat topi setinggi-tingginya buat saudara-saudara muslim.

Hanya segelintir ormas-ormas dengan segala kepentingan –dari masalah uang hingga politik-, mengatas namakan Islam yang membuat kegaduhan di tengah keragaman nusantara.

Sebagai anak bangsa, kita harus waspada dari bahaya laten fasisme. Mereka sangat apriori dengan iklim demokrasi, persatuan dan kesatuan.

Tak heran jika kemudian mereka ingin menggantinya dengan paham-paham sekterianisme. Bukan dengan tujuan suci, tapi segudang agenda politik, kekuasaan, uang dan ketenaran.

Dikutip dari tulisan Rudi dalam laman seword.com, biasanya golongan Fasis sebelum menjadi kekuatan besar politik, akan mendirikan ormas-ormas ultranasionalis yang juga sangat fanatik. Anggotanya didoktrin habis-habisan agar menjadi pribadi yang siap tempur dan demonstrasi.

Biasanya ormas-ormas ini akan diturunkan untuk berkelahi dan membuat onar di kubu lawan politiknya. Mereka juga sering digunakan untuk mengintimidasi masyarakat awam agar tunduk dan mau mendukung tujuan mereka.

Jika sudah merasa diatas angin, maka ormas ini juga akan digunakan untuk merongrong pemerintahan yang sah melalui aksi demonstrasi, aksi mogok massal, hingga aksi kekerasan.

Di Jerman dulu ada ormas bernama “Seragam Coklat”, ormas ini digunakan Nazi untuk menghancurkan kekuatan kiri komunis dan ormas politik poros tengah yang demokratis. Setelah Nazi berkuasa ormas ini dirombak dan dimiliterisasi sehingga menjadi pasukan elit Schutzstaffel (SS), pasukan ini bertanggungjawab atas keselamatan partai dan doktrinasi Nazi.

Pasukan ini juga bertanggungjawab atas banyak tindakan genosida dan kejahatan perang yang masif pada Perang Dunia 2.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kita menjadi saksi eksisnya ormas-ormas yang sok suci seperti itu.

Di situlah kita perlu berlaku bijak. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang wajib kita pertahankan. Intoleransi harus dimusnahkan dari nusantara. Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak bisa saling menghargai satu sama lain sebagai sesama putra putri Ibu Pertiwi.

Gerombolan ormas-ormas pengacau kesatuan tanah Indonesia, harus segera dibubarkan.

Salam Kita Semua Bersaudara!

Comments

comments