Kolase: Rayapos/DWO

@Rayapos | Jakarta – Siapa sih Herayati, lulus Cum Laude FMIPA ITB? Warga Jawa Barat tahu, sebab pemberitaan tentang Herayati, Minggu (22/7/2018) hari ini tersebar. Dia anak tukang becak Sawiri (66). Tapi, bagaimana dia bisa lulus?

“Saya berjuang belajar dan berdoa,” kata Herayati kepada wartawan. “Bapak saya tukang becak, saya ingin jadi dosen.”

Hera bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya Sawiri, ibunya Surah (62). Kakak-kakaknya Sumiati (43), Heryawan (28) dan Irfan Setiawan (27). Dia lulus MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 2 Cilegon, karena sekolah gratis.

Dia masuk ITB (Institut Teknologi Bandung) 2014/2015 melalui jalur beasiswa dari Dinas Pendidikan, Pemkot Cilegon. Di tahun kuliah pertama beasiswa Rp 20 juta. Tahun berikutnya turun jadi Rp 15 juta. Tahun berikutnya lagi tetap Rp 15 juta. Tahun terakhir dihentikan Pemkot Cilegon, karena alasan tidak diketahui.

Berita Terkait:  Herayati, Anak Tukang Becak Lulus Cum Laude FMIPA ITB

Uang beasiswa untuk membayar uang kuliah dan pemondokan Hera. Sedangkan, untuk makan sehari-hari dan kebutuhan dasar lainnya, carilah sendiri.

“Saya tidak bisa kirim uang,” kata Sawiri, ayah Hera. Sawiri tukang becak. Kini sehari-hari mengkal di komplek perumahan Krakatau Steel Cilegon. “Penghasilan saya sehari Rp 10 ribu. Paling banyak Rp 25 ribu,” katanya.

Rumahnya tak jauh dari komplek itu. Sebuah rumah sangat sederhana di Dusun Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Jasa Sawiri mengayuh becak, jarang dibutuhkan warga komplek perumahan. “Orang naik Gojek sekarang gampang dan murah,” katanya. “Sehari-hari saya banyak nongkrong di becak, nunggu penumpang.”

Tapi, tak ada lagi kemampuan Sawiri, selain menggenjot becak. Iaterinya, Surah, dulu membantu keuangan dengan mencuci pakaian tetangga. Kini sudah tidak lagi.

Pengguna jasa Sawiri biasanya ibu-ibu komplek yang kenal Sawiri. Mungkin, karena kasihan lalu naik becak. Sehari hanya ada satu-dua penumpang becaknya. “Itu cukup untuk makan kami sekeluarga,” ujarnya.

Kebutuhan Hera di kampus, dipandang sangat besar oleh Sawiri. “Saya tidak pernah mengirim uang ke Hera. Paling, kakaknya yang sudah menikah di Lampung (Sumiati), kadang mengirimkan uang padanya,” tutur Sawiri.

Bagaimana Hera menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pemondokan ITB? “Awalnya bingung. Banyak puasa. Kiriman uang dari kakak saya di Lampung harus saya hemat sekali,” kata Hera.

Beruntung prestasi akademik Hera bagus. IP (Indeks Prestasi) sejak semester 1 sampai 4 rata-rata di atas 3,75. Sehingga di tahun ke tiga dia dipercaya pihak ITB jadi dosen pengganti. Jika ada dosen tidak masuk, Hera menggantikan mengajar mahasiswa adik kelasnya.

Herayati saat menerima penghargaan dari Dekan ITB. Foto: Dok Herayati
Herayati saat menerima penghargaan dari Dekan ITB. Foto: Dok Herayati

Ada honornya walau kecil. Pihak ITB cenderung kasihan, membantu kebutuhan hidup Hera. Dan, ternyata peran Hera sebagai dosen pengganti, dinilai cukup baik. Sehingga berlangsung sampai dia lulus.

Di tahun ke empat kuliah, ada kendala. Pemkot Cilegon mendadak menghentikan beasiswa yang semula Rp 15 juta per tahun. Hera nyaris putus asa. Nyaris mundur.

Tapi, ada teman-teman Hera yang menginformasikan kondisi Hera ini ke banyak orang. Akhirnya, info itu sampai ke pejabat negara. Sehingga, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (kini Kepala Staf Kepresidenan RI) membantu Rp 10 juta. Disusul Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan (kini Menteri Kordinator Kemaritiman) membantu Rp 10 juta.

Hera bisa bayar kuliah. Lanjut lagi. Plus ada sedikit sisa uang (dari bantuan para jenderal) untuk makan sehari-hari Hera selama setahun.

Akhirnya dia lulus dari Program Studi Sarjana Kimia ITB, dengan predikat Cum Laude.

Baca Juga:

Hera ingin jadi dosen. Dia sudah action. Dia mengikuti Program Magister Jalur Cepat (Fast Track) S 1 dan S 2 langsung.

Kini untuk Fast Track, Hera sudah menyelesaikan 12 SKS (Satuan Kredit Semester). IP (Indeks Prestasi) rata-rata per mata kuliah 3,75 atau A. Tinggal sedikit mata kuliah lagi yang harus dia selesaikan untuk meraih gelar sarjana S 2 (Magister). Sungguh, prestasi luar biasa.

Yang mengharukan, setelah Hera Cum Laude, dia ingin ayahnya Sawiri dan ibunya Surah (62) melihat dia diwisuda di Kampus ITB, Sabtu (21/7/2018).

“Saya ingin bapak-ibu saya melihat saya pakai pakaian wisuda,” kata Hera dengan mata berkaca-kaca. Orang tuanya tinggal di rumah sangat sederhana di Dusun Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Meskipun hanya untuk ongkos ayah-ibu Hera dari rumah ke Kampus ITB, cukup berat bagi orang tua Hera.

Hebatnya, Hera tidak minta bantuan uang dari teman-temannya. Dia punya tabungan dari honor sebagai dosen pengganti di ITB. Jika dosen tidak masuk, Hera menggantikan, mengajar adik-adik kelas.

“Tabungan saya juga sedikit. Lalu saya kirimkan ke bapak saya untuk ongkos ke sini,” ujar Hera.

Dan, benar. Pada saat wisuda Sabtu (21/7/2018) Sawiri dan Surah hadir. Duduk di antara keluarga wisudawan-wati. Menyaksikan Hera diwisuda bersama ratusan sarjana lain.

Usai wisuda, Hera sungkem ke ayah-bunya. Dia melakukan itu di tempat tersembunyi, agar tidak dilihat orang. “Saya bersyukur dilahirkan dari bapak-ibu saya,” ujar Hera. (*)