Alan Knight dan isterinya Helen. (Dailymail)

@Rayapos | Terdakwa Setya Novanto sakit, ketika disidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12) hari ini. Akhirnya sidang ditunda. Masyarakat heboh. Berspekulasi, apakah sakitnya Novanto hanya sandiwara, ataukah benar-benar sakit?

Baca juga: Tak Mau Jawab Pertanyaan Hakim, Jaksa Melihat Setya Novanto Bicara dan Makan Siang

Sesungguhnya, gaya sakit model begini sudah banyak. Dari banyaknya tokoh-tokoh yang bergaya sakit saat diadili itu, ada yang lolos, ada juga yang akhirnya masuk bui.

Jika ditarik ke belakang, budaya ‘sakit’ ini di Indonesia dimulai dari kanak-kanak. Jika tidak masuk sekolah, rata-rata beralasan: Sakit. Begitu juga setelah anak-anak itu dewasa dan jadi pekerja. Asal alasan ‘sakit’, semuanya jadi beres.

Ternyata, di masyarakat Barat yang terkenal disiplin, ada juga kisah nyata fenomenal tentang gaya ini. Sampai-sampai kisah ini menghebohkan warga Inggris.

Baca juga: Tim Dokter Nyatakan Setya Novanto Dalam Kondisi Sehat

Dikutip dari Dailymail, terbitan 15:32 GMT, 2 October 2015, adalah Alan Knight (48) yang tinggal di Swansea, South Wales.

Knight diduga menipu tetangganya, seorang pria Ivor Richards usia 86 tahun. Richards menderita dimensia. Penipuan terjadi pada 2011.

Knight melalui berbagai cara, membobol uang Richards di rekening bank senilai Pound Sterling 41.570 (sekitar Rp 800 juta).

Caranya: Uang ditransfer ke rekening bank orang lain (terbukti kemudian, nama orang yang sudah mati). Kemudian ditransfer lagi ke rekening Knight.

Akibat perbuatannya, Knight diadili di pengadilan setempat, Swansea Crown Court.

Namun, ketika mendatangi pengadilan dia duduk di kursi roda yang didorong isterinya, Helen (34). Di leher Knight terpasang besi penyangga kepala.

Dan, ketika diturunkan dari kursi roda hendak dipindahkan ke kursi pesakitan, Knight terjatuh. Lantas pingsan.

Sidang terpaksa ditunda. Knight dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Knight tidak hanya sehari-dua hari dirawat, tapi 10 bulan.

Baca juga:

Sales Cantik Meikarta yang Dimutilasi, Kepalanya Dibuang di Air Terjun

Ngeri, Pembunuh Sales Cantik Meikarta Potong Kepala dan Kaki Lebih Dulu

Selama dirawat di RS, perawat sering melihat keanehan. Misalnya, botol air minum di meja di dalam ruang rawat Knight sering hilang di malam hari. Padahal, Knight berperan sebagai: Lumpuh.

Kemudian dokter memeriksa otot-otot kaki Knight. Namun, Knight keburu minta pulang.

Setelah tiba di rumah, dia mengundang sejumlah wartawan untuk semacam konferensi pers. Ketika wartawan mendatangi rumah Knight, mereka mendapati Knight terbaring lemah di bed. Leher disangga besi. Isterinya, Helen, mendampingi.

Berita tentang kondisi Knight itu pun menyebar melalui media massa.

Namun, polisi curiga. Sebab, ada pengakuan cerita dari perawat dan dokter di tempat Knight pernah dirawat.

Maka, polisi menugaskan detektif Constable Paul Harry untuk mengawasi Knight selama 24 jam.

Dari pantauan detektif Harry itulah terbukti bahwa Knight hanya bersandiwara ‘sakit’. Sebab, dia dan isterinya keluar rumah dan dibuntuti detektif.

Ternyata Knight bisa mengemudikan mobil. Dia bersama isterinya dipotret detektif saat berada di Jembatan Severn.

Detektif terus menguntit, Knight meluncur ke tempat wisata Legoland Windsor. Knight dan isterinya juga mengunjungi galeri seni di London. Bahkan, Knight mimun bir. Lalu mereka menghadiri pesta pernikahan di Gloucester.

Setelah polisi memilik bukti kuat, Knight ditangkap. Langsung ditahan. Kemudian diadili.

Akhirnya Knight dijatuhi hukuman penjara 4 tahun 6 bulan untuk perkara penipuan uang dengan korban Richards. Ditambah 14 bulan penjara untuk penipuan terhadap pengadilan. Sedangkan, Helen divonis penjara 10 bulan karena membantu suaminya menipu.

Baca juga: Premanisme Berkedok Derek Liar Dibekuk Polisi di Cililitan

Total waktu sandiwara Knight itu sekitar dua tahun. Dihitung dari saat dia menjalani sidang perdana yang gagal sampai sidang berikutnya.

Drama hukum Knight hanya ilustrasi berdasarkan kisah nyata. Jangan dikaitkan dengan perkara hukum Setya Novanto. Sama sekali tidak terkait.

Warga negara Indonesia harus menjunjung tinggi Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Undang Undang nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Di situ semua pihak harus menerapkan azas praduga tak bersalah. (dwo)