Perkosaan di Angkot Diketahui dari Sperma Tercecer

Ilustrasi

@Rayapos | Cianjur – Perkosaan terhadap gadis cantik (17) di Cibeber, Cianjur, diketahui dari ceceran sperma. Penemuan ini diketahui petugas paramedia Puskesmas Cibeber, Udin Wahyudin.

“Kami tidak memeriksa, apakah korban diperkosa atau tidak. Karena itu wewenang rumah sakir, bukan Puskesmas,” kata Udin.

Namun, ketika gadis ini (sebut saja namanya Bunga) baru tiba di Puskesmas, karena dibawa warga ke sana, Udin sempat melakukan pemeriksaan luar. Tidak dilakukan pemeriksaan pemerkosaan.

Terkait: Gadis Cantik Ini Dicekoki Miras, Dibugili …

“Tapi ada ceceran sperma di tubuhnya. Juga diketahui luka lecet di siku,” kata Udin.

“Korban saat dibawa ke Puskesmas dalam kondisi tidak sadarkan diri karena pengaruh minuman beralkohol,” kata Udin.

Dia lanjutkan: “Setelah siuman, korban masih kelihatan bingung dan keliatan depresi.”

Cerita Bunga kepada Udin, dia naik angkot pada Minggu (14/10/2018) malam. Angkot itu berisi satu sopir dan dua pria lainnya. Total empat orang, termasuk Bunga.

Memasuki jalanan sepi, korban dipaksa untuk menenggak miras hingga tak sadarkan diri.

Setelah itu, pelaku diduga memperkosa Bunga secara bergiliran. Usai beraksi, para pelaku membuang korban yang telanjang itu ke angkot lainnya.

Dugaan pemerkosaan diketahui Udin, karena adanya percikan sperma di sekitar tubuh korban.

“Korban mengaku tidak sadar, namun dia ingat pelaku ada tiga orang. Masih dalam keadaan tidak sadar, oleh para pelaku korban dipindahkan ke angkot lain di sekitar alun-alun Cibeber dengan keadaan tanpa busana sampai akhirnya ditemukan warga dan polisi,” tutur Udin.

Korban mengaku kehilangan sejumlah barang di antaranya dompet dan telepon seluler. Hal ini menyulitkan korban saat akan menghubungi keluarganya.

“Informasi yang saya peroleh tadi malam korban masih berada di Puskesmas, dia kesulitan menghubungi keluarga karena ponsel dan dompetnya diduga dibawa pelaku,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Achmad Gunawan menyebut dua pelaku sudah diamankan aparat Polsek Cibeber.

Selain itu korban juga sudah melapor didampingi keluarganya.

“Keterangan dari sana (Polsek Cibeber) dua pelaku ditangkap. Korban sudah dalam pendampingan keluarga,” jelas Achmad.

Sementara itu, Kapolres Cianjur, AKBP Soliyah membenarkan dua pelaku ditangkap. Mereka berinisial RS alias Joni (34) sopir angkot dan AB (20) rekannya.

“Dua terduga tersangka sudah kita amankan, sopir angkot inisial RS alias Joni pengakuannya telah melakukan pemerkosaan terhadap korban di daerah Jebrod, Cilaku Cianjur,” kata Soliyah.

Mudah bagi polisi mengungkap kasus tersebut.

Berawal dari korban yang ditemukan di sebuah angkot bernomor polisi F 1919 YB putih. Saat itu sejumlah warga berkerumun di depan Toserba Selamat Cibeber pada Senin (15/10/2018) pagi.

“Setelah diperiksa di dalam angkot tersebut ada seorang wanita tergeletak dan berteriak teriak histeris diduga korban pemerkosaan kemudian dibawa ke Polsek Cibeber,” jelasnya.

Setelah menjalani pemeriksaan di Polsek Cibeber, korban lalu dibawa ke Puskesmas Cibeber.
Polisi kemudian melakukan pengejaran sopir angkot bernomor polisi F 1608 YB yang diduga “menitipkan” korban di angkot yang terparkir di sekitar Toserba Selamart.

“Polisi mengamankan sopir angkot yang diduga membawa korban. Dia lalu menjalani pemeriksaan di Polsek Cibeber. Saat itu juga petugas mencari identitas korban dan menghubungi keluarganya,” lanjut Soliyah.

Tinggal satu orang pelaku belum tertangkap. Namun identitas pelaku sudah di tangan polisi. Kepada pelaku dianjurkan menyerahkan diri, sebelum dilakukan tindakan tegas oleh polisi.

Baca Juga:

Anies Ajak Warga Jakarta Cek Status Pemilih di Tiap Kelurahan

Disparbud DKI akan Jelaskan ke DPRD DKI soal Proses Ratna Sarumpaet Terima Uang

KPAI Minta Pemda Punya Perhatian

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga meminta polisi segera menangkap pelaku pemerkosaan remaja wanita di Cianjur, Jawa Barat.

KPAI menyayangkan peristiwa itu karena wanita tersebut ditemukan di dalam angkot dalam kondisi bugil.

“Kejadian ini sangat memprihatinkan. Kami meminta aparat hukum segera proses hukum maksimal bagi pelaku,” kata Ketua KPAI Susanto kepada wartawan, Rabu (17/10/2018).

KPAI juga meminta pemerintah daerah setempat dan wilayah lainnya mengevaluasi lagi pejabat yang dinilai gagal mencegah terjadinya peristiwa kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, hal itu merupakan kewajiban pemerintah memberikan perlindungan kepada anak.

“Mengingat maraknya kasus anak di berbagai titik daerah, kami meminta bupati/wali kota mengevaluasi pejabat yang gagal melakukan tugasnya mencegah kekerasan terhadap anak. Maraknya kasus di berbagai daerah sebagai ujung tombak perlindungan anak,” ungkapnya.

Dia juga meminta pemerintah setempat melakukan rehabilitasi terhadap korban kekerasan seksual. Ia mengingatkan rehabilitasi itu dilakukan agar korban segera pulih. (*)