Presiden Jokowi ketika rapat bersama relawan. Foto: Antara

@Rayapos | Jakarta – Akhirnya, Presiden Jokowi realistis tegas. Setelah sekian lama Jokowi ‘diam’, meskipun gerakan Ganti Presiden mengarah ke perpecahan bangsa. Kini Jokowi menyerukan: Jika diserang musuh (politik) harus dilawan.

Maka, sudah pasti pernyataan tegas Jokowi diserang balik oleh lawan politiknya. Pernyataan Jokowi: Jangan takut berantem jika diserang, jadi ramai di publik.

Ali Mochtar Ngabalin menyatakan tak ada unsur kekerasan dalam arahan Presiden Jokowi ke relawan. Jokowi dinilainya bermaksud memompa semangat pendukungnya.

“Tidak ada kekerasan di situ. Itu artinya memberikan motivasi kepada pasukan,” kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin, kepada wartawan, Minggu (5/8/2018).

Menurutnya, yang dimaksud Jokowi sebagai ‘berantem’ adalah adu gagasan dan pemikiran untuk memajukan negara. “Berantem itu adu argumentasi,” ujarnya.

Selain itu, ‘berantem’ juga dimaknai sebagai reaksi atas aksi pihak rival di Pilpres 2019. Jokowi memilih kalimat seperti ini untuk menyemangai pendukungnya, juga agar pendukungnya siap membalas serangan pihak lawan.

“Jangan memulai, dan pasti kita tidak akan memulai,” kata Ngabalin, menirukan statement Jokowi.

“Di dalam agama, kalau ditampar pipi kiri, Anda boleh juga tampar pipi kirinya. Tapi boleh juga kalau ditampar pipi kirimu, kau kasih pipi kanan ditampar lagi. Artinya boleh diperlakukan setimpal (membalas),” tutur Ngabalin.

Arahan Jokowi yang sedang hangat dibicarakan itu adalah arahan saat Rapat Umum Relawan Jokowi di SICC, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8).

“Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani,” ucap Jokowi yang disambut riuh relawan sambil berdiri.

“Tapi jangan ngajak lho. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut,” sambungnya.

Sebaliknya, politisi Partai Gerindra menanggapi arahan Jokowi itu sebagai ucapan yang mendorong kekerasan. Seharusnya, Pemilu jadi festival adu gagasan, bukan festival adu otot.

“Presiden pakai kata-kata ‘tapi kalau diajak berantem juga berani’, seakan-akan presiden menganjurkan bahwa relawan Pak Jokowi beradu fisik dengan relawan Pak Prabowo,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan.

Baca Juga:

Surat SBY Minta AHY Jadi Cawapres Prabowo, Dibantah

Pengamat: Moeldoko Jadi Kandidat Kuat Cawapres Jokowi

Parpol Pendukung Jokowi Bentuk Tim 27 Orang, untuk Pemenangan Pilpres 2019

Dihubungi terpisah, Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengatakan, pernyataan Jokowi itu wajar. Kalau relawan Jokowi diserang, memang harus membalas. Tidak boleh takut.

Tapi, “Pernyataan Pak Jokowi pada pertemuan relawan, diplintir oleh lawan politik. Sengaja diipotong dan dicabut dari konteksnya. Sehingga yang ditampilkan di publik seolah-oleh Pak Jokowi memprovokasi agar terjadi benturan di akar rumput,” katanya.

“Ini adalah kombinasi antara fitnah kejam, interpretasi yang serampangan dan moralitas yang rendah dari lawan politik,” sambungnya.

Toni meminta pernyataan Jokowi disimak secara seksama. Menurutnya, Jokowi justru menegaskan agar relawan Jokowi jangan saling mencela dan menjelekkan dalam kampanye. Jokowi juga melarang pendukungnya untuk berinisiatif melakukan kekerasan.

“Namun sebagai bentuk defensif, mempertahankan diri, bila ada yang melakukan kekerasan, pendukung Jokowi harus berani melawan,” ujar Toni.

Dia menyinggung terminologi ‘the last resort’ dalam studi Hubungan Internasional. Toni menjelaskan bahwa tindakan militeristik mungkin dilakukan sebagai alternatif terakhir yang mesti diambil bila alternatif damai tidak bisa dilakukan lagi.

“Jadi tidak benar Pak Jokowi menganjurkan pendukungnya untuk berkelahi dengan pendukung lain. Sekali lagi, di tahun politik ini, jangan main fitnah dengan mempelintir pernyataan yang membuat gaduh masyarakat,” tegasnya. (*)

BAGIKAN