Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, Resman Saragih. Foto: Ist

@Rayapos | Jakarta – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) protes atas penghentian beasiswa kepada mahasiswi IPB (Institut Pertanian Bogor) Arnita Rodelina Turnip. Penyebab penghentian beasiswa, Arnita pindah agama dari Kristen jadi Mualaf.

Arnita adalah penerima Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Pemkab Simalungun, Sumatera Utara. Setelah Arnita pindah agama, beasiswanya dicabut, kini dia menunggak uang kuliah Rp 55 juta.

Juru Bicara PSI yang juga Caleg DPR RI Dapil Sumut 3, Dara Kesuma Nasution, mengatakan beasiswa pendidikan tinggi penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan putra daerah. Sekaligus pembangunan daerah asalnya.

“Apalagi ada isu yang berkembang bahwa beasiswa diputus karena isu agama. Ini harus segera diklarifikasi oleh Pemkab Simalungun. Semua pihak harus mengeluarkan data yang dimiliki. Bila benar karena faktor agama dan bukan administrasi, maka tidak boleh dibiarkan,” ujar Dara, dalam keterangan tertulis, Rabu (1/8/2018).

“Pendidikan adalah hak semua orang. Tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan agama. Jangan sampai pindah agama membuat seseorang kehilangan haknya,” katanya.

Baca Juga:

Bicara di Media Asing, AHY: Tidak Masalah Non-Muslim Jadi Pemimpin Negara

Menteri Susi Rekomendasi Sultan HB X Jadi Cawapres Jokowi

Moeldoko Jadi Kandidat Cawapres Jokowi, Begini Penjelasannya

Pernyataan Dara merujuk pada berita Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara yang akan meminta keterangan Kepala Disdik Simalungun. Benarkah penghentian beasiswa kepada Arnita karena perpindahan agama Arnita.

Ombusman bereaksi setelah memperoleh pengaduan dari ibu Arnita sendiri, Lisnawati, warga Desa Bangun Raya, Kecamatan Raya Kahean, Simalungun.

Penghentian beasiswa Arnita sejak September 2016. Ketika Arnita masih duduk di bangku Semester kedua. Namun dalam surat penghentian yang datang dari Dinas Pendidikan Simalungun selaku penanggungjawab program beasiswa, tidak ada penjelasan alasan penghentian. Padahal indeks prestasi Arnita tinggi dan jauh dari batas minimum yang ditetapkan.

Sampai saat ini, sudah lima semester uang kuliah Arnita tertunggak karena tidak dibayarkan Pemkab Simalungun. Totalnya sekitar Rp 55 juta.

Orangtua Arnita yang adalah keluarga petani tidak sanggup melunasi utang tertinggak tersebut. Mereka melapor ke Ombudsman yang dengan segera membentuk Reaksi Cepat Ombudsman (RCO).

Ombudsman sudah mengontak pihak IPB untuk tidak memberhentikan Arnita sebagai mahasiswa IPB. Selain itu Ombudsman sudah meminta Kadis Pendidikan Simalungun menjelaskan duduk perkara penghentian beasiswa.

Menurut Dara, perkara ini tidak boleh dianggap remeh. “Sebagai sesama perempuan yang merantau dari Sumut untuk menuntut ilmu ke Jakarta, saya bisa merasakan betapa menyakitkannya ketika beasiswa diputus sepihak,” ujar lulusan terbaik FISIP UI 2017 itu.

“Untuk perantau seperti kami ini, pendidikan tinggi adalah salah satu tangga mobilitas sosial,” ungkapnya.

Ia berharap Ombudsman dan Pemkab Simalungun serta pihak terkait bisa segera mencapai titik terang mengungkap fakta di balik pemberhentian beasiswa tersebut.

“Bila benar faktor agama penyebab berhentinya beasiswa maka haknya harus segera dipulihkan. Arnita bisa kembali mendapatkan haknya untuk berkuliah dengan tenang, berprestasi tinggi dan kembali untuk membangun daerahnya,” katanya.

Bantahan Kadisdik Simalungun

Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, Resman Saragih, membantah beasiswa Arnita dicabut. Apalagi dikaitkan dengan perpindahan agama Arnita. “Itu tidak benar,” kata Resman.

Yang benr, menurutnya, pihak Disdik Simalungun kesulitan menghubungi Arnita dan keluarganya. Sehingga beasiswa terhenti. Tapi, nanti tunggakannya akan dibayarkan kembali.

Arnita Pindah Agama, Ibunya Menghormati

Arnita Rodelina Turnip, pada 2015 menerima Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Pemkab Simalungun. Dia terpilih untuk kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Keberangkatannya dari Simalungun ke Bogor, dilepas oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun pada 7 Agutus 2015.

Arnita lahir dari keluarga pemeluk agama Kristen. Saat baru menjalani semester pertama kuliah, dia memutuskan memeluk Islam, tepatnya pada 21 September 2015.

Tak lama setelah itu, ketika memasuki semester kedua, datang surat pemberitahuan yang menyatakan bahwa namanya dicoret dari peserta BUD, yang berarti uang beasiswanya disetop.

Arnita tak sanggup membayar sendiri biaya kuliah yang sebesar Rp 11 juta per semester sejak semester kedua hingga keempat. Otoritas IPB pun akhirnya memberhentikan status Arnita.

Lisnawati, sang ibu yang tetap memeluk agama Kristen, awalnya kaget dengan pilihan putri sulungnya itu.

Namun, akhirnya Lisnawati menghormati keputusan Arnita pindah agama. Tetapi dia tak habis pikir alasan beasiswa Arnita disetop. (*)

BAGIKAN