(FOTO: RAYAPOS/ANDREW TITO)

@Rayapos | Jakarta – Sebanyak 3.175.000 butir pil PCC siap edar berhasil diamankan petugas Satresnarkoba Polres Bandara Soekarno-Hatta.

Obat terlarang yang masuk dalam katagori jenis narkotika golongan I itu, diamankan dari hasil penangkapan dan penggrebekan sebuah home industri di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Senin Malam (6/8/2018).

Setidaknya, sebanyak 10 orang tersangka yang memiliki peran berbeda diamankan. Kesepuluh orang tersebut masing-masing yakni Astio Nugroho (35) Ayub(34) Diki (28) Iskandar (31) Sri Yenny (35) Syamsurijal (33) Tarlani (40) Rana Manggala (34) Apin Fauzi (36) dan Mulyadi (37) Mereka ditangkap ditangkap di Jakarta, Banten, dan Sulawesi Selatan.

Kapolres Bandara Soekarno-Hatta AKBP Victor Togi Tambunan menerangkan, pengungkapan terhadap home industri pil PCC tersebut dilakukan pihaknya yang bekerja sama dengan komunitas bandara.

“Setelah dicek menggunakan X-ray diketahui isinya adalah pil PCC. Saat itu tertera nama pengirim dan penerima paket berikut alamat dan nomor handphonenya. Penerima yakni atas nama Renita (Makassar) sedangkan pengirim Helsi Safitri yang tak lain adalah suami dari tersangka Ayub (Jakarta Selatan),” ujar Victor Selasa (7/8/3018).

Baca juga:

Luna Maya – Cut Tari, Tersangka yang Terlupakan

Selena Gomez Tentukan Kriteria Pria yang akan Jadi Pacarnya

Berada di Bali, Sejumlah Selebritis Dunia Rasakan Gempa Lombok

Mengetahui hal tersebut, Satuan Reserse Narkoba Polres Bandara Soeta langsung melakukan penyelidikan termasuk juga langsung terjun ke Makassar untuk melakukan kontrol dileveri.

Tak butuh beberapa lama, pihaknya pun akhirnya berhasil menangkap penerimanya. Namun dalam hal itu, penerimanya bukan sesuai yang tertera pada paket nama. Melainkan diambil langsung oleh tersangka Astio.

“Setelah menangkap tersangka Astio, tim langsung kembali ke Jakarta dan kemudian mengejar pengirimnya. Dari itu kemudian berhasil menangkap tersangka Ayub berikut tersangka Diki dan Iskandar yang bertugas membantu Ayub saat pengiriman,” ucap Victor.

Dari hasil intrograsi terhadap tersangka Ayub, Diki, dan Iskandar, diketahui paket yang dikirimkannya kepada tersangka Astio tersebut didapat dari tersangka Sri yang tinggal di Wisma Grand Raudah, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, hingga langsung dilakukan penangkapan.

Melalui pengembangan dari para tersangka yang berhasil di amankan, polisi kembali berhasil menangkap pengirim lainnya yakni tersangka Syamsurijal di rumahnya Bekasi Timur, Kota Bekasi.

“Tersangka Syamsurijal ini juga mengirim ke Makassar. Namun di sana penerimanya adalah Yandi (DPO) yang juga merupakan satu jaringan dengan tersangka Astio di Makassar,” ujarnya.

Selain itu, dari keterangan tersangka Syamsurijal diketahui jika pil PCC yang dikirimnya tersebut didapat dari tersangka Tarlani yang tinggal di Kavling DPR No. 57 RT 06, RW 07, Kenanga, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten.

Mendapat alamat tersebut, pihaknya pun langsung mendatang lokasi untuk melakukan penggrebekan.

“Di rumah itu kita berhasil mengamankan tersangka Tarlani dan dua anak buahnya yakni tersangka Rana dan Api. Bahkan saat digrebek, diketahui di rumah tersebut dijadikan sebagai home industri pembuat pil PCC,” ujarnya.

Lanjut penyelidikan, polisi langsung melakukan intrograsi terhadap tersangka Tarlani yang berhasil di tangkap, dari intrograsi tersebut akhirnya diketahui jika bahan baku pembuat pil PCC yang dilakukannya tersebut didapat dari tersangka Mulyadi.

Dan pihaknya pun langsung juga langsung menangkap tersangka Mulyadi di rumahnya, Perumahan Citra Garden 6 Blok J, No. 21, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.

“Dari tersangka Mulyadi termasuk di rumah keduanya di Perumahan Park Residence, Kalideres, diamankan beberapa bahan-bahan pembuat jamu,” ucapnya.

Produksi PCC sejak tiga bulan lalu.

Ditambahkan Victor, dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka Tarlani, di ketahui tersangka Tarlani telah menjalankan usahanya tersebut sejak tiga bulan lalu persisnya sejak bulan Mei 2018.

Bahkan, Tarlani mampu memproduksi pil PCC antara sebanyak 30-35 ribu pil untuk perharinya.

“Untuk omsetnya kita tidak tahu berapa pasti. Tapi yang jelas dalam sehari itu tersangka mampu memproduksi sebanyak 30-35 ribu butir pil PCC. Dan itu di pasaran, per butirnya dijual seharga Rp 3.000. Sehingga kalikan saja berapa omsetnya yang didapat,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, seluruh barang bukti berupa pil PCC hasil buatan tersangka Tarlani tersebut dikirim ke Makassar. Sebab, berdasarkan survei pasaran, di sanalah pil PCC yang yang banyak dan laku terjual.

“Kalau untuk dampaknya itu bisa mengakibatkan seperti zombie. Dan itu kalau dikonsumsi terus menerus pasti berbahaya,” ucapnya.

Sedangkan saat disinggung terkait bahan baku pembuat pil PCC tersebut dari mana tersangka mendapatkannya, Victor mengatakan, jika bahan baku tersebut didapat tersangka Mulyadi dari hasil membeli secara online. Namun untuk saat ini, situs yang menjual tersebut sudah tidak ada lagi.

“Itu merupakan bahan stok lama. Dan dibeli sebelum dikeluarkannya Permenkes tentang larangan beredarnya pil PCC yang masuk dalam daftar narkotika golongan I sejak Maret 2018 lalu. Sedangkan tersangka Tarlani sendiri mampu membuat pil PCC tersebut dari pengalamannya sebagai pembuat jamu,” ujarnya.

Hingga kini, para tersangka yang berhasil di amankan masih dilakukan pemeriksaan polisi, paa tersangka dikenakan pasal 112 KUHP dan 114 KUHP tentang penyalahgunaan dan pembuatan serta peredaran narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.