Ilustrasi Jack the Ripper. Kolase: Rayapos / DWO

@Rayapos | Jakarta – Ferin Diah Anjani (21) dibunuh Kristian Ari Wibowo (30) di Blora, Jawa Tengah. Polisi menemukan KTP cewek di tempat kos pelaku, yang diduga korban lain. Sebab, pelaku mengakui pernah membunuh cewek (yang lain lagi) dengan modus yang sama pada 2011.

Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Heri Dwi Utomo kepada wartawan mengatakan, tersangka Kristian mengakui: Dia membunuh dua wanita dengan cara dan motif yang sama. Korbannya Ferin dan satu wanita lagi yang namanya belum dipublikasikan. Wanita itu dibunuh Kristian pada 6 Agustus 2011.

Dan, pada penyidikan kali ini polisi menemukan fakta baru. Ditemukan e-KTP atas nama wanita asal Lampung berada di tempat indekos Kristian di Tlogosari Wetan, Pedurungan, Semarang. Diduga, wanita tersebut korban lainnya. Tapi, masih didalami polisi.

“Jika hasil penyidikan nanti membuktikan, bahwa wanita Lampung di KTP itu adalah korban, maka ini pembunuhan berantai,” kata Heri.

Di dunia kejahatan, masyarakat mengenal “Jack the Ripper”. Pembunuh, pemerkosa, pemutilasi wanita di Inggris pada 1888. Jack the Ripper adalah julukan media massa Inggris untuk penjahatnya. Karena, identitas penjahatnya belum terungkap hingga kini.

Korban Jack the Ripper semuanya wanita. Ada 11 pembunuhan terpisah yang terjadi antara 3 April 1888 hingga 13 Februari 1891. Diperkosa, dibunuh, dimutilasi, organ dalamnya hilang. Diyakini polisi, pelakunya Jack. Tapi, warga Inggris meyakini korban Jack sekitar 100.

Jack the Ripper dengan Kristian Ari Wibowo mirip. Bedanya, korban Jack dimutilasi. Korban Kristian dibakar. Bedan lainnya, Jack tidak mengambil harta korban, Kristian mengambil.

Jack, disimpulkan polisi sebagai lelaki yang bekerja tetap. Sebab, pembunuhan selalu dilakukan akhir pekan. Juga dilakukan di sekitaran Distrik Whitechapel, London. Yang menandakan, Jack orang sibuk.

Sekilas tentang Jack the Ripper:

Kristian, manajer front desk sebuah hotel di Semarang dengan gaji (kata polisi) Rp 6 juta per bulan. Maka, dia selalu mencuri harta korban, setelah menyetubuhi dan membunuhnya.

Dijelaskan AKP Heri, dalam interogasi polisi menyimpulkan, Kristian bersikap tenang. Menjawab pertanyaan interogator dengan datar, tanpa ekspresi. Polisi menyimpulkan, Kristian tidak menyesali perbuatannya. Padahal, pembunuhan yang dia lakukan terhadap Ferin tergolong sadis.

Heri menjelaskan kronologis kasus Kristian begini:

Rabu (1/8/2018) pagi, warga menemukan jasad yang hangus terbakar. Lokasi di hutan jati Desa Sendang Wates, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jateng. Jarak sekitar 200 kilometer di arah barat Semarang.

Polisi tidak bisa mengenali korban. Tidak ada identitas. Jasad sudah hangus. Tapi diketahui, wanita.

Jumat (3/8/2018) jenazah dimakamkan di Pemakaman RSUD dr Soetijono, Blora, sebagai orang tak dikenal. Aparat Polres Blora menunggu perkembangan. Satu-satunya yang ditunggu adalah laporan orang hilang.

Minggu (5/8/2018) orang tua Ferin, melapor ke Polresta Semarang, bahwa anaknya hilang. Laporan ini segera diketahui aparat Polres Blora. Lantas ditindak-lanjuti. Ciri-ciri jenazah hangus diberitahukan kepada keluarga Ferin. Dilakukan tes DNA.

Hasilnya cocok, itulah Ferin Diah Anjani. Karyawan part time SPG (Sales Promotion Girl) dan caddy golf di Semarang. Makam Ferin dibongkar, dipindahkan ke Semarang. Polisi segera bergerak melacak pelaku.

Tidak sampai 24 jam, pelaku Kristian Ari Wibowo ditangkap. Langsung ditahan polisi.

Baca Juga:

Anies Tahu Sejak Awal Sandiaga akan Jadi Cawapres Prabowo

Jokowi-Mahfud MD akan Deklarasi di Menteng Malam Ini

Mahfud MD Urus Surat di PN Sleman Sebagai Syarat Calon Pejabat Negara

Pada gelar perkara di Mapolres Blora, Kristian mengatakan: “Saya berkenalan (dengan Ferin) lewat Instagram. Saya minta nomor WhatsApp. Kami pun janjian untuk berhubungan seks,” katanya.

Setelah mereka berhubungan seks dua kali, Ferin dicekik dan bekap mulutnya oleh Kristian. “Kemudian saya bungkus seprei dan masukkan di bagasi mobil Honda Jazz. Dini hari sampai di hutan Blora saya bakar hidup-hidup. Saya lakukan itu untuk hilangkan jejak,” katanya.

Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa, pelaku kembali ke Semarang. Pelaku kemudian menggadaikan perhiasan hasil rampasan milik korban. “Laku Rp 4 juta untuk bayar utang,” kata Kristian.

Dari gaya bercerita yang lancar, tenang dan datar, memang bisa disimpulkan bahwa kristian tidak menyesal melakukan itu.

Karena itu, pihak Polres Blora akan mendalami kondisi psikisnya. “Dari sikap pelaku inilah kami akan mendatangkan tim medis untuk mendalami kondisi kejiwaan pelaku,” kata AKP Heri.

Menurut Heri, Kristian mengakui bahwa selama ini ia berburu wanita untuk berhubungan seks. Berkali-kali pelaku mengakui telah melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan cantik incarannya.

Kristian mengaku, dia juga membunuh seorang wanita pada 2011. Mendengar itu penyidik kaget. Lantas polisi melakukan penyelidikan. Membuat file lama. Ditemukan satu kasus pembunuhan pada 2011 yang belum terungkap hingga kini.

Korban pembunuhan adalah wanita. Hangus terbakar di hutan petak 62-C, KPH Blora, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora, Jateng pada 7 Agustus 2011. Korban tidak bisa dikenali, lalu dimakamkan sebagai orang tak dikenal.

Kristian mengakui, dialah pelaku pembunuhan tersebut. Modusnya sama: Korban disetubuhi di hotel di Semarang, lalu kepalanya dipukul barbel hingga pingsan. Hartanya diambil. Jasadnya dibawa ke Blora menggunakan mobil Toyota Rush milik korban. Lalu tubuh korban dibakar.

Pelaku membakar korban setelah menyiram bensin. Sama seperti yang dilakukan terhadap Ferin.
Dari pengakuan Kristian, cewek itu berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah.

“Pelaku kabur menggondol mobil toyota Rush milik korban. Mobil itu dijual di Bali, namun disita debt collector. Pelaku mengakui telah membunuh dan membakar perempuan cantik itu,” kata Heri.

Polisi kini menyelidiki kasus-kasus lama, korban terbakar yang identitasnya tidak dikenali. Polisi menduga, kelakuan Kristian sangat sadis. Diduga dia melakukan pembunuhan berantai tunggal (dilakukan seorang diri) seperti Jack the Ripper. (*)